Wuyung, Jatuh Cinta Pemuda Jawa "Tempo Doeloe"
Ekspresi wuyung, konsep jatuh cinta para pemuda Jawa "tempo doeloe", lazim menemukan aspirasi emotif lewat Asmaradana. Pada Serat Centhini, wuyung dikaitkan dengan sufistik Kejawen. Ada spiritualitas.

Jatuh cinta bisa menjadi aktivitas kemanusiaan yang bermartabat manakala ia hadir dalam ekspresi yang memiliki sisi puitis. Muruah eksistensinya mengemuka, ketika banyak tahun berlarian menuju ke masa silam, akan tetapi kata demi kata, larik demi larik, ketika memperoleh rengkuh pembacaan secara kreatif dan reflektif ternyata masih tetap menyisakan getaran jiwa. Ada buaian estetika kata yang tetap terawetkan dan terawat sang waktu.
Jatuh cinta bisa jadi hanya terpisah selapis tipis dari jatuh berahi. Dialog antara hati dan kebutuhan biologis pun bisa memperindah adonan yang terbentuk. Sejauh keduanya mampu menyuarakan bahasa keseimbangan, keselarasan, keutuhan ekspresi, sehingga pada akhirnya menjadi gegayuhan (kehendak) bersama tatkala dua hati saling kepincut. Begitulah jatuh cinta, mau tidak mau mesti memenuhi panggilan kedua kehendak tersebut. Kehendak kalbu dan kehendak raga.
Para pemuda Jawa “tempo doeloe” melalui pujangga dengan karya puisi yang bernyanyi. Sebut saja Tembang Asmaradana. Ada kaitan akar kata Sansekerta dan filosofi makna mendalam serta secara etimologis acapkali memperoleh pemahaman sebagai gabungan kata “Asmara” dengan “Dahana”. Api Cinta. Begitulah ia adalah salah satu dari 11 tembang macapat Jawa, yang sering menjadi wahana ekspresi untuk mendeskripsikan perasaan hati yang berada dalam situasi mengharapkan kehadiran cinta dari si pujaan hati (si pepujaning ati).
Orang Jawa memiliki istilah khusus untuk mewadahi deskripsi tentang seseorang yang hatinya tengah merasakan kecamuk perasaan cinta yang menggebu-gebu, yaitu wuyung. Ia merujuk pada konsep emosional mendalam, kasmaran dengan kekuatan yang mengharu biru. Kegelisahan yang menyeruak di hati seseorang karena ingin selalu bersemuka langsung tanpa perantara apa pun. Bagi mereka yang mengalami wuyung, kebahagiaan itu hanya datang dari segala sesuatu yang berasal dari diri sang tambatan jiwa.
Makna utama dari konsep kata wuyung adalah “kasmaran atau rindu yang menggebu-gebu”. Lalu ada frasa nandang wuyung, mengacu pada seseorang yang “sedang mengalami atau merasakan jatuh cinta”. Selanjutnya ada lara wuyung (juga ada yang menyebutnya lara branta) dengan tautan maknawi “perasaan psikosomatik akibat cinta yang terhalang”. Stres, sedih, cemas akibat cinta tidak tdibalas, tidak direstui, atau dipisahkan keadaan yang dimanifestasikan lewat gejala-gejala fisik nyata. Tubuh kurus. Penampilan tidak terurus.
Serat Centhini

Pendek kata, konsep maknawi wuyung tidak hanya sekadar menyukai. Tidak pula sekadar tertarik tipis-tipis. Akan tetapi lebih dari itu, wuyung adalah mencintai dengan intens sehingga dapat mendestruksi ketenangan hati atau menyebabkan kegelisahan jika tidak bertemu dengan si dara juita. Menyebabkan sang pelaku, makan tidak enak (padahal dengan lauk pauk yang mewah dengan pelbagai variasi menu masakan) dan tidur tidak bisa nyenyak (padahal di tempat beristirahat yang berkelas serta alas berbaring nan empuk).
Tembang Asmaradana biasanya menunaikan fungsi untuk mendeskripsikan perasaan wuyung seorang jejaka Jawa “tempo doeloe”. Di kisaran abad ke-17, ke-18 hingga menginjak ke-19, ia biasa terlantunkan secara rengeng-rengeng (senandung pelan). Ini cara tradisional kebanyakan pemuda Jawa pada waktu itu. Untuk mengekspresikan perasaan jatuh cinta, kangen, ataupun ketika hati terluka lantaran sayap-sayap asmara telah patah.
Abad-abad tersebut merupakan masa keemasan tradisi tersebut. Terutama di era Kerajaan Mataram Islam hingga berdiri keraton-keraton penerusnya (Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat), budaya nembang macapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas seorang lelaki Jawa. Tembang macapat, termasuk Asmaradana, telah mencapai stabilitas bentuk. Popularitasnya sedemikian luas pada masa Mataram Islam. Bukan hanya sekadar seni tarik suara, melainkan juga menjadi penanda kehalusan budi pekerti.
Pada abad-abad tersebut budaya lisan masih dominan. Hiburan pada masa itu belum bersifat teknologis. Rengeng-rengeng menjadi cara utama bagi para jejaka untuk mengisi waktu luang. Dan, ketika mereka sedang wuyung, biasanya senandung pelan yang terlontar dari ungkapan hati dan mulut mereka adalah Tembang Asmaradana. Terutama pada malam hari manakala sepi dan kesendirian begitu setia menemani.
Asmaradana merupakan lambang tahapan perjalanan kehidupan ketika manusia muda Jawa mulai mampu menangkap sinyal-sinyal ketertarikan terhadap lawan jenis. Dalam tautan kasmaran, Asmaradana memiliki sifat sengsem (tertarik) dan pilu (rindu/sedih). Dan, bagi para jejaka Jawa pada abad ke-17, ke-18, ke-19, rengeng-rengeng tembang merupakan salah satu bentuk strategi agar mereka mampu mengontrol dengan baik gejolak perasaan diri.
Serat Centhini atau Suluk Tambangraras merupakan karya sastra tembang monumental dalam khazanah Sastra Jawa, yang antara lain juga berisikan unsur didaktik mengenai cinta dan etika. Walaupun masa penulisannya pada abad ke-19, masih merefleksikan pandangan kehidupan abad-abad sebelumnya. Karya ini juga menggambarkan karakter-karakter yang tengah kasmaran.
Serat Centhini merupakan ensiklopedia kebudayaan Jawa yang memuat pelbagai pengetahuan. Termasuk di dalamnya ngelmu kasmaran. Penulisannya bukan dalam bentuk gancaran (prosa), melainkan dalam bentuk puisi tembang macapat, salah satunya Asmaradana.
Atas perintah Raja Surakarta Hadiningrat Sampeyan Ndalem Ingkang Sinuhun Pakubuwana V (memerintah 10 Februari 1820 hingga wafat 5 September 1823), Serat Centhini merupakan hasil karya bersama tiga pujangga utama, yaitu Raden Ngabehi Ranggasutrasna, Raden Ngabehi Yasadipura II, dan Raden Ngabehi Sastradipura.
Tokoh lain yang turut membantu penulisan, yakni Pangeran Jungut Mandurareja, Kiai Kasan Besari dari Ponorogo, dan Kiai Mohammad dari Surakarta. Realitas yang menarik, Sampeyan Ndalem mengarahkan langsung bagian mengenai asmaragama (seni bercinta).
Karakter yang paling terkenal dalam Serat Centhini adalah Syekh Amongraga dan Niken Tambangraras. Menurut sahibul kisah, keduanya telah menikah, namun hingga 40 hari mereka melewatinya tanpa melakukan hubungan suami istri. Syekh Amongraga justru memanfaatkan waktu tersebut untuk memberikan wejangan ilmu kehidupan dan agama kepada sang istri tercinta. Boleh dikatakan inilah sentuhan keunikan kasmaran dalam Serat Centhini.
Di dalam karya sastra tembang tersebut hadir frasa katitih asmara. Suatu perasaan yang campur aduk ketika seseorang sedang jatuh cinta atau mengalami perjumpaan rasa yang begitu mendalam. Ada banyak sasmita tembang, antara lain sebagaimana terucap melalui diksi asmara, kingkin, yungyun, dan brangta sebagai isyarat bagi para pembaca bahwa mereka tengah berhadapan dengan Tembang Asmaradana.
Adapun Tembang Asmaradana dalam Serat Centhini yang populer untuk rengeng-rengeng para jejaka Jawa pada sejumlah abad lampau, salah satunya Asmaradana 388. Terkenal dengan larik-lariknya yang dalam, puitis, dan kerap mendapat pengaitan dengan pengalaman emosional dalam percintaan.
Tembang Asmaradana 388 memuat ajaran mengenai ilmu sejati. Dalam perspektif budaya Jawa, ilmu sejati merujuk pada pengetahuan spiritual tertinggi (ngelmu kasampurnan) guna mengenali hakikat diri, alam, dan Tuhan, dalam upaya menggapai ketenteraman batin (ayem tentrem). Konsep ini menganut prinsip, bahwa ngelmu iku kalakone kanthi laku (pencapaian suatu ilmu dengan tirakat), olah rasa (penajaman batin), berikut keseimbangan hidup duniawi dan spiritual.
Selain itu, Tembang Asmaradana 388, pun memuat ajaran mengenai hakikat cinta sejati yang mempersatukan lelaki dengan perempuan. Tidak jarang ia menjadi pengingat cinta yang berselimut kerinduan dan kesetiaan. Larik-larik tembang tersebut populer karena alur macapatnya yang menyayat hati, mencerminkan perasaan wuyung mendalam, sesuai dengan karakter tembang.
Berikut petikan dua bait dari Tembang Asmaradana 388, sebagai contoh konsep wuyung yang sarat dengan suntikan sufistik Kejawen.
//Sejatining lanang apan estri/ Sejatining estri apan lanang/Karana mengkono lire/Estri ing jroning kakung//
//Mohamad Rasulallah kang tumrap ing sebut Rasul/ Ing Mohamad ing Rasul/ Rasul ya Mohamad ya/ Lanang estri sawiji asih kang suci//
Ia adalah konsep wuyung yang merasuk ke dalam pencarian hakikat manusia, hubungan lelaki dengan perempuan, berikut Manunggaling Kawula Gusti (penyatuan hamba dengan Tuhan) yang memperoleh pengibaratan melalui penyatuan cinta yang tulus kudus (suci).
Bait //Sejatining lanang apan estri/ Sejatining estri apan lanang/ Karana mengkono lire/ Estri ing jroning kakung// mengusung makna, bahwa sejatinya lelaki itu adalah perempuan. Dan, demikian pula dengan perempuan, sejatinya adalah lelaki. Karena itu, ada lelaki di dalam perempuan. Serta, ada perempuan di dalam lelaki. Sudah tentu ini bukan makna fisik, bukan mengacu pada jenis kelamin biologis, melainkan keberadaan pada satu sama lain itu dalam tarikan aspek spiritual dan psikologis.
Terdapat aspek Androgini Spiritual (keseimbangan). Di dalam diri setiap manusia, lelaki (lanang/kakung) dan perempuan (estri), hadir unsur maskulin dan feminin secara bersamaan. Lelaki sejati memiliki sisi lembut atau perasa (estri). Sementara itu, perempuan sejati juga mempunyai sisi tegas atau rasional (lanang/kakung).
Dengan demikian, Estri ing jroning kakung, menandai konsep makna bahwa di dalam kakung (kesadaran diri/rasio) terdapat estri (rasa/intuisi) yang perlu mendapatkan penghargaan dan penyatuan. Kalau boleh menerima pengibaratan, kakung dan estri merupakan dua sisi dari satu koin kehidupan. Tidak lengkap, jika salah satu tiada.
Sementara itu, bait //Mohamad Rasulallah kang tumrap ing sebut Rasul/ Ing Mohamad ing Rasul/ Rasul ya Mohamad ya/ Lanang estri sawiji asih kang suci// mengusung makna Mohamad Rasulullah adalah yang disebut Rasul. Di dalam Mohamad ada Rasul. Di dalam Rasul ada Mohamad. Karena itu, sudah kodratnya lelaki dan perempuan menjadi satu dalam naungan kasih nan suci.
Penyebutan Mohamad/Rasul dalam bait ini menghadirkan Nur Mohamad atau hakikat diri manusia sempurna (insan kamil). Manakala lelaki dan perempuan (rasio dan rasa) menyatu dalam asih kang suci (kasih suci), tercapailah suatu kesempurnaan hidup. Persatuan ini seperti Mohamad dan Rasul. Tidak terpisahkan, satu substansi. Gambaran keharmonisan tertinggi. Bisa terkait dengan hubungan antarmanusia (suami-istri). Bisa pula terkait dengan hubungan manusia dan Sang Maha Pencipta.
Nilai didaktik Tembang Asmaradana 388, salah satunya berupa pengajaran mengenai nilai penting keseimbangan rasa dengan rasio, penghargaan terhadap pasangan, dan pencapaian noktah kulminasi melalui penyatuan sisi batiniah (perempuan/rasa) dan sisi lahiriah (lelaki/rasio) untuk upaya penggapaian asih kang suci.
Lebih Memelas

Pada uraian berikutnya saya mengambil contoh dari luar Serat Centhini. Terdapat variasi Tembang Amaradana yang menunjukkan karakteristik lebih personal dan memelas. Tidak jarang hal itu berada di dalam naskah-naskah sastra Jawa klasik ataupun nyanyian langgam yang melukiskan situasi perasaan sedang nandhang branta (jatuh cinta dengan intensitas amat sangat).
Pemakaian diksi welasana (kasihanilah), biasanya pada larik pamungkas tembang, sesungguhnya merupakan cerminan puncak kerendah-hatian seorang jejaka. Biasanya dalam konteks ini, sang jejaka memohon kepada Tuhan, agar sang dara pepujaning ati tidak membiarkan dirinya menderita menanggung kasmaran sendirian hingga waktu berlarut-larut. Dia berharap ada rasa welas (iba) dari si gadis untuk mengimbangi perasaannya.
Versi Tembang Asmaradana ini tidak lagi hanya melantunkan filosofi cinta. Tetapi, melagukan sisi-sisi yang menumbuhkan rasa iba. Pada bagian awal, ada pengakuan jujur dari sang pemuda bahwa dirinya telah masuk ke dalam perangkap daya pikat si gadis. Telah banyak ikhtiar untuk melupakan, tetapi bayang-bayang raut wajahnya justru semakin membenam ke dalam ingatannya.
Pada bagian tengah tembang, gejala wuyung pun semakin tampak. Tubuh sang pemuda semakin kurus. Makan tidak terasa enak. Tidur pun tidak nyenyak. Hatinya benar terbakar api asmara. Lalu bagian akhir tembang, sang pemuda memohon belas kasihan (welasana) kepada Tuhan, agar si gadis membukakan pintu hati bagi kehadiran asanya.
Sang jejaka pun pada saat malam hari nan sunyi sepi melantunkan Tembang Asmaradana itu. Ditemani suara jangkrik di persawahan dekat rumahnya yang sederhana. Dia pun rengeng-rengeng:
//Aduh gusti ayu mami/ Mugi dika karsaa mresapa/ Nandhang wuyung rina wengi/ Saking sanget kangen mring dika/ Tan nedha tan nendra/ Mugi antuk sihing Hyang Agung/ Mring kawula welasana//.
//Aduh pujaanku yang jelita/ Semoga dikau mau memperhatikan/ Diriku yang menanggung derita asmara siang malam/ Karena terkena sakit rindu padamu/ Makan tidak terasa enak dan tidur pun tidak bisa nyenyak/ Semoga Tuhan mengaruniakan kasih-Nya/ Kepada hamba (sehingga engkau pujaan hati membukakan pintu) belas kasihan (dan membalas asaku)//.
Terdapat perspektif anggapan dalam tradisi asmara di kalangan masyarakat Jawa, bahwa welas (kasih sayang dengan implikasi filosofis/spiritual peduli, simpati) lebih tinggi atau tulus daripada sekadar tresna (cinta). Hanya memang, permohonan untuk mendapatkan iba atau kasihan sebagaimana tertuang di dalam kata welasana, ini berarti bahwa sang jejaka merasa tidak berdaya menghadapi gejolak perasaannya sendiri. Dia berpegang pada keyakinan, hanya kasih sayang si gadis yang mampu mengobati wuyung di hatinya.
Ada lagi tembang yang merupakan ungkapan wuyung pemuda kepada gadis pujaan yang merupakan versi sangat populer dalam seni pertunjukan ketoprak atau wayang orang. Tembang ini muncul pada adegan tatkala seorang kesatria tengah ngarih-arih (merayu) putri pujaan hatinya yang belum bersedia memberikan kepastian jawaban.
//Rembulane sumunar ndadari/ Lintang-lintang angebegi tawang/ Pating gemebyar cahyane/ Wanci ratri wus lingsir/ Swara angin sumribit ndidit/ Saya anggerit manah/ Ingkang nandang wuyung/ Ketaman lara asmara/ Dhuh kusuma wilangan sanga lan kalih/ Mugi welas mring kula//
//Rembulan purnama bersinar ceria/ Bintang-bintang memenuhi angkasa/ Berkerlap-kerlip cahayanya/ Malam telah larut/ Angin berhembus pelan dan dingin terasa menyentuh/ Semakin menyayat hati/ Bagi yang sedang dimabuk cinta/ Terkena penyakit asmara/ Duhai kekasih hatiku, ada bilangan 9 dan 2/ Semoga engkau mau berbelas kasih kepadaku//
Ada satu catatan yang perlu segera dibubuhkan. Yaitu terkait dengan larik Dhuh kusuma wilangan sanga lan kalih (Duhai kekasih hatiku, ada bilangan 9 dan 2). Dalam budaya Jawa, angka bukan sekadar penanda kuantitas. Namun, terdapat juga makna filosofis dan spiritual yang terkandung di dalamnya.
Angka 9 dalam budaya Jawa berkaitan dengan hal-hal yang bersifat spiritual, tinggi, dan merupakan puncak. Ketika ia melekat pada sebutan Wali Sanga, menempatkan angka tersebut sebagai angka para pemimpin spiritual. Angka 9 ini juga mengacu pada Babahan Hawa Sanga, lubang pada tubuh manusia, terdiri atas dua mata, dua lubang hidung, dua telinga, satu mulut, satu lubang untuk buang air kecil, satu lubang untuk buang air besar. Ini semua bertalian dengan pengendalian diri terhadap hawa nafsu
Sementara itu, angka 2 dalam budaya Jawa merupakan konsep fundamental dalam memandang kehidupan. Angka 2 menggambarkan dua sisi kehidupan yang saling menggenapi (dualitas), seperti ada lelaki ada perempuan, ada siang ada malam, ada baik ada buruk, ada dunia ada akhirat. Dengan demikian, angka 9 merujuk pada puncak spiritualitas, pengendalian diri. Sementara itu, angka 2 mengacu pada dualitas kehidupan, keseimbangan, harmoni.
Kutipan larik-larik tembang di atas adalah Dandanggula Bowo Wuyung. Biasanya merupakan pengantar (bowo) untuk Langgam Wuyung. Dandanggula, seperti Asmaradana, adalah juga tembang macapat. Lirik tembang berawal dengan deskripsi tentang keindahan malam. Rembulane sumunar ndadari, Lintang-lintang angebegi tawang (Rembulan purnama bersinar, Bintang-bintang memenuhi angkasa). Terdapat penonjolan kontras dengan penderitaan batin karakter. Malam yang begitu indah, justru menciptakan kesepian dan rindu yang terasa memuncak.
Tembang pengantar ini menengarai kasmaran yang telah sampai pada tahap wuyung atau mabuk cinta. Ada kerinduan yang sedemikian menyesaki rongga dada. Dan itu, sungguh terasa menyiksa sehingga menghadirkan lara asmara. Malam yang larut (wanci ratri wus lingsir) dalam suasana peradaban agraris merupakan waktu puncak dari kesepian yang kian menggelayuti hati dan memperbesar intensitas wuyung itu. Permohonan untuk berbelas kasih (mugi welas), kali ini harapan langsung kepada si gadis agar bersedia menanggapi cintanya.
Setelah tembang pengantar tersebut kemudian berlanjut ke tembang utama, yaitu “Langgam Wuyung” dengan iringan gamelan lengkap. Lalu terlantunlah larik-larik tembang dengan bahasa Jawa yang lebih mudah berada dalam rengkuh pemahaman, karena lebih terasa dekat dengan bahasa keseharian.
Ini memang klop dengan langgam Jawa, genre musik yang muncul pada abad ke-20, yang mengombinasikan keroncong dengan nada tradisional, yaitu Pelog atau Slendro. Dan terlantunlah suara hati yang tengah jatuh cinta. Berikut petikan liriknya:
//Laraning lara, ora kaya wong kang nandang wuyung/ mangan ra doyan, ra jenak dolan, nang omah bingung/ mung kudu weruh, woting ati duh kusuma ayu//.
Syair tembangnya terasa lebih mudah tercerna. Intinya adalah ekspresi, bila orang jatuh cinta itu boleh menerima kesetaraan kondisi seperti halnya orang yang sakit, maka tidak ada yang menandingi keparahan orang yang sedang terserang "penyakit" jatuh cinta. Betapa tidak? Menurut versi para jejaka Jawa “tempo doeloe”, gara-gara menderita penyakit cinta itu, mereka merasakan tidak enak makan (walau lauk pauknya enak-enak).
Saat mencoba melupakan si dia dengan berbagai cara, seperti menyibukkan diri pada aktivitas sehari-hari atau bepergian ke suatu tempat wisata dengan pemandangan indah menawan, semua itu tidak juga bisa menjadi panglipur wuyung, obat yang berkhasiat mujarab. Atau, kalau tidak ke mana-mana, di rumah saja, hati pun semakin terlilit kebingungan. Keinginan yang sedemikian lekat di hatinya hanya ingin bertemu dan memandangi paras ayu si juita kalbu. ***