News Berita

Tiket Pertandingan Mahal Bikin Okupansi Hotel saat Piala Dunia Belum Maksimal

Piala Dunia menjadi momen yang biasanya berdampak ramainya perhotelan. Namun pada 2026, lonjakan tersebut dilaporkan belum terwujud. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Tiket Pertandingan Mahal Bikin Okupansi Hotel saat Piala Dunia Belum Maksimal
Penyanyi Shakira (tengah) tampil membawakan lagu Dai Dai dalam seremoni pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Kamis (11/6/2026). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
Penyanyi Shakira (tengah) tampil membawakan lagu Dai Dai dalam seremoni pembukaan Piala Dunia 2026 di Stadion Azteca, Mexico City, Meksiko, Kamis (11/6/2026). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Piala Dunia menjadi momen yang biasanya berdampak pada lonjakan sektor perjalanan dan pariwisata, termasuk sektor perhotelan di dalamnya. Namun pada 2026, lonjakan tersebut dilaporkan belum terwujud.

Dikutip dari Reuters pada Jumat (12/6), hal itu disebabkan oleh harga tiket pertandingan yang mahal. Selain itu, tiket pesawat melonjak tajam membuat pemesanan tiket penerbangan melemah.

Menurut Cirium, pemesanan penerbangan dari Eropa menuju sebagian besar kota tuan rumah Piala Dunia 2026 pada Juni dan Juli turun rata-rata 3,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan setelah warga Eropa sudah lebih dulu mengurangi perjalanan ke AS tahun lalu.

Selain itu, pemesanan tiket dari Eropa ke New York yang menjadi tuan rumah final Piala Dunia 2026 pada 19 Juli juga anjlok 15,8 persen.

Di sisi lain, FIFA awalnya memperkirakan 1,2 juta penggemar akan datang ke New York untuk menyaksikan final Piala Dunia 2026. Namun, asosiasi hotel New York kini hanya memperkirakan sekitar 500 ribu pengunjung.

CEO Hotel Association of New York City, Vijay Dandapani, menyebut mereka telah memangkas proyeksi pendapatan kamar hotel yang terkait dengan Piala Dunia sebesar 60 persen menjadi sekitar USD 60 juta.

"Secara keseluruhan ini mengecewakan. Tidak ada kata lain yang bisa saya gunakan," kata Dandapani.

Kini, hotel-hotel di New York masih berharap akan terjadi lonjakan permintaan pada menit-menit terakhir setelah fase grup berakhir. Dandapani menjelaskan memang baru-baru ini terjadi sedikit peningkatan pemesanan dari suporter Inggris dan Norwegia. Menurutnya, fenomena itu menjadi salah satu tanda positif meski proyeksi pengunjung diturunkan.

Sejumlah hotel di New York kini sudah memberikan diskon kamar. Salah satunya adalah New York Hilton Midtown, hotel terbesar di kota tersebut, yang memangkas tarif selama turnamen menjadi USD 415 per malam atau setengah dari tarif yang diiklankan pada Desember lalu.

Andy Milne, suporter fanatik Inggris dan penulis buku That World Cup Guy, menjelaskan kini memang banyak suporter yang memilih opsi menonton Piala Dunia dengan lebih murah alias tak menonton secara langsung.

"Beberapa teman saya memilih pergi ke Ibiza untuk menonton seluruh pertandingan di televisi dengan biaya yang hanya sebagian kecil dari total biaya menghadiri turnamen. Yang lain pergi ke Las Vegas. Tetap membutuhkan uang, tetapi jauh lebih murah dibandingkan tiket pertandingan, perjalanan, hotel, dan transportasi menuju stadion,” ujarnya.

Bahkan para suporter kaya yang selama ini menjadi penopang kinerja perusahaan perjalanan di AS memilih menunggu kepastian jadwal pertandingan atau memastikan tim mereka lolos lebih jauh sebelum memutuskan untuk bepergian.

Selama bertahun-tahun, Piala Dunia 2026 memang diperkirakan akan menjadi berkah besar bagi industri perjalanan AS. Namun, biaya yang tinggi, kendala visa, serta rumitnya menghadiri pertandingan di 16 kota tuan rumah yang tersebar di tiga negara justru menjadi penghalang.

Buka sumber asli