News Berita

Tasreh dan Rivalitas Ronaldo-Messi

Messi dan Ronaldo merupakan manifestasi dari dua tipe manusia, orang yang terlahir karena bakat dan orang yang berusaha mencapai puncak kesuksesan dengan dedikasinya.

Tasreh dan Rivalitas Ronaldo-Messi
Ilustrasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. https://pixabay.com/illustrations/renaldo-christiano-7210443/
Ilustrasi Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. https://pixabay.com/illustrations/renaldo-christiano-7210443/

Perdebatan mengenai siapa yang terbaik antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sering kali berakhir menjadi ajang saling serang antar-fans fanatik di media sosial. Angka statistik, jumlah trofi, hingga torehan Ballon d'Or terus dilemparkan ke permukaan seolah menjadi satu-satunya indikator valid.

Namun, bagi sebagian pencinta sepak bola yang memilih berdiri di posisi netral, seperti saya sebagai pendukung Arsenal misalnya, rivalitas ini sebenarnya menyajikan dinamika yang jauh lebih mendalam daripada sekadar hitung-hitungan trofi. Ini adalah tentang dua manifestasi manusia yang berbeda, dia yang lahir untuk sepak bola, dan dia yang menggeluti sepak bola sebagai pencapaian tertinggi dari sebuah dedikasi.

Pernyataan bahwa Messi adalah bakat alami dan Ronaldo adalah produk kerja keras kerap kali disalahpahami oleh para pengagum layar kaca. Fans Messi kerap meradang karena menganggap analogi ini menafikan kerja keras idola mereka, sementara fans Ronaldo merasa bakat atau kelebihan sang bintang dikecilkan.

Padahal, jika ditarik ke dalam analogi matematika sederhana, proporsinya jelas berbeda. Secara genetika sepak bola, Messi seolah lahir dengan modal awal "angka 1", sehingga lewat usaha tambahan ia bisa melompat ke angka 2, 3, dan seterusnya. Di sisi lain, Ronaldo harus memulai dari "angka 0" dan membutuhkan rumus penambahan "1+1" yang melelahkan untuk mencapai titik yang sama. Keduanya sama-sama memeras keringat, namun kapasitas adaptasi dan setelan awal bawaan pabrik dari keduanya memang berada pada dimensi yang berbeda.

Perbedaan mendasar ini paling kentara jika kita melihat bagaimana cara keduanya bereaksi terhadap hal baru atau batasan usia. Ronaldo membangun kehebatannya di atas puncak performa fisik dan akumulasi pengalaman terukur. Ketika dihadapkan pada skenario atau lawan yang belum pernah ia pelajari polanya, ia membutuhkan waktu untuk meraba karena ia bermain berbasis komparasi pengalaman masa lalu.

Sebaliknya, Messi jauh lebih adaptif terhadap perubahan instan. Jika Ronaldo di usia 25 dan 40 tahun melihat bola sebagai objek bundar yang sama untuk dieksekusi berdasarkan latihan mandiri, Messi melihat bola di usia 20 dan 37 tahun mampu merasakan perubahan mikro pada bahan bola, atau pola permainan lawan untuk kemudian diolah dengan kejeniusan organiknya. Itulah mengapa faktor usia menuntut Ronaldo bergeser menjadi pure poacher di kotak penalti, sedangkan Messi tetap fleksibel mengontrol permainan dari lini tengah meski fisiknya tak lagi prima.

Ilustrasi pendukung Ronaldo. https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-merah-27271619/
Ilustrasi pendukung Ronaldo. https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-merah-27271619/

Fenomena ini sejatinya sangat relevan jika kita melihat realitas sosial di dunia pendidikan, khususnya dalam kultur pondok pesantren. Di lingkungan asrama, dulu saya kerap menemui dua tipe santri menjelang ujian akhir. Bayangkan sebuah skenario di mana catatan kedua santri ini mendadak hilang H-1 ujian.

Santri tipe pertama, yang mengandalkan kerja keras, akan memutar otak dengan memanfaatkan kertas tasreh (surat izin kegiatan asrama) yang kosong untuk menuliskan kembali poin-poin hafalan secara manual demi repetisi belajar hingga subuh. Sementara itu, santri tipe kedua yang memang dikaruniai otak encer, memilih bersikap santai menunggu temannya selesai belajar, jam 9 malam misalnya, baru kemudian ia meminjam catatan tersebut untuk dibaca selama beberapa jam saja. Ketika hasil ujian keluar, kedua santri ini sama-sama mendapatkan nilai 9.

Menuduh santri tipe kedua malas adalah sebuah kekeliruan besar, karena jika ia malas, ia tidak akan repot-repot meminjam catatan dan begadang hingga tengah malam. Proses internal dan kapasitas serap kognitif mereka jugalah yang membedakan usaha yang dikeluarkan, persis seperti analogi murid pintar yang hanya butuh mengulang pelajaran selepas subuh dengan murid biasa yang harus terjaga semalaman.

Menariknya, jika di sekolah umum anak yang terlalu pintar sering kali framming negatif sebagai "anak emas guru" lalu dijauhi secara sosial, kultur pondok justru sebaliknya. Di pesantren, yang saya rasakan justru santri yang memiliki kelebihan alami ini menjadi magnet sosial, mereka akan gandrung didatangi santri lain yang membawa kitab untuk meminta bimbingan atau muthala'ah bersama.

Ilustrasi pendukung Messi. https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-anak
Ilustrasi pendukung Messi. https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-anak

Melalui perspektif inilah, dualitas antara Messi dan Ronaldo seharusnya dipandang secara lebih dewasa. Sangat disayangkan bahwa mayoritas penikmat sepak bola hari ini terlalu silau dengan komparasi luar ruangan tanpa mau memahami proses internal yang dialami oleh kedua megabintang tersebut.

Menghargai kejeniusan organik Messi tidak berarti merendahkan usahanya, sebagaimana mengagumi determinasi usaha Ronaldo tidak berarti menihilkan bakat sepak bolanya. Pada akhirnya, rivalitas ini bukan lagi sekadar urusan siapa yang mengoleksi trofi lebih banyak di lemari pajangan, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana dua manusia dengan modal awal yang berbeda mampu mendaki puncak dunia dengan cara unik mereka masing-masing.

Buka sumber asli