Tangis Enjah Imbas Kebakaran TPA Jatiwaringin: Mata Perih, Tak Ada Penghasilan
Tangis Enjah Imbas Kebakaran TPA Jatiwaringin: Mata Perih, Tak Ada Penghasilan. #newsupdate #update #news #text

Asap tebal masih menyelimuti Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, pada Kamis (2/7). Di tengah upaya petugas memadamkan kebakaran yang telah berlangsung selama tiga hari, para pemulung kehilangan sumber penghasilan.
Salah satunya Enjah (60), warga Kampung Pulo Pelawan. Sehari-hari ia mencari barang bekas di TPA Jatiwaringin bersama anaknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk merawat suaminya yang sedang sakit.
Setiap pagi, Enjah berangkat ke TPA dan baru pulang menjelang sore.
"Iya, tiap hari, gampang jalan sini jam kayak gini, gampang balik jam empat sore jam lima," kata Enjah kepada kumparan, Kamis (2/7).
Namun sejak kebakaran terjadi pada Selasa (30/6), ia tidak lagi bisa bekerja. Selain area yang tak dapat diakses, asap pekat membuat matanya perih sehingga tak sanggup berlama-lama berada di lokasi.
"Atuh asap, asaplah mata perih. Perih," ucapnya.

Sebelum kebakaran, Enjah mengaku bisa memperoleh sekitar Rp 100 ribu per hari dari hasil menjual barang bekas.
"Menang sokan seratus (dapat seratus), seratus satu harinya," tuturnya.
Kini, penghasilan itu hilang. Enjah mengatakan sudah beberapa hari tidak bisa mencari maupun menjual rongsokan.
"Aduh enggak bisa nyari enggak bisa ngejual tuh, sama sekali enggak bisa ngejual. Ya enggak ada (penghasilan), kebakaran boro-boro ngambil, yang asap mata perih. Saya mah beli beras sore entar, sore setengah seharian gitu," katanya.

Saat menceritakan kondisi keluarganya, suara Enjah mulai bergetar hingga menangis.
"Paling ya menang bisa kayak gitulah, cepe, pulang ke rumah beli beras, ongkos. Enggak ada kalau enggak punya uang, gas habis, enggak punya beras," ujarnya.
"Aduh. Suami, suami saya sakit-sakitan di rumah, ngomel-ngomel terus. Saya kerja capek, datang ke imah diomelan (datang ke rumah dimarahin)," lanjut Enjah sambil menangis.

Bagi Enjah, yang terpenting saat ini bukan hanya kebakaran segera dipadamkan, tetapi juga ia dapat kembali bekerja untuk menghidupi keluarganya.
Enjah berharap kondisi TPA segera pulih agar para pencari rongsokan bisa kembali mencari nafkah.
"Iya, pengen normal lagilah, supaya enggak ada apa-apa lagi, supaya sehat,” tutup Enjah.
TPA Jatiwaringin merupakan TPA utama Kabupaten Tangerang dan disiapkan sebagai lokasi proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/PSEL) untuk kawasan Tangerang Raya. Total luas TPA ini sekitar 31 ha, dengan lahan 5-7 ha disiapkan khusus untuk PSEL.