News Berita

Tangis Enjah Imbas Kebakaran TPA Jatiwaringin: Mata Perih, Tak Ada Penghasilan

Tangis Enjah Imbas Kebakaran TPA Jatiwaringin: Mata Perih, Tak Ada Penghasilan. #newsupdate #update #news #text

Tangis Enjah Imbas Kebakaran TPA Jatiwaringin: Mata Perih, Tak Ada Penghasilan
Enjah (60) salah seorang warga yang bekerja sebagai pencari rongsokan di Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (2/7/2026).  Foto: Jeni Ritanti/kumparan
Enjah (60) salah seorang warga yang bekerja sebagai pencari rongsokan di Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (2/7/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Asap tebal masih menyelimuti Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, pada Kamis (2/7). Di tengah upaya petugas memadamkan kebakaran yang telah berlangsung selama tiga hari, para pemulung kehilangan sumber penghasilan.

Salah satunya Enjah (60), warga Kampung Pulo Pelawan. Sehari-hari ia mencari barang bekas di TPA Jatiwaringin bersama anaknya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk merawat suaminya yang sedang sakit.

Setiap pagi, Enjah berangkat ke TPA dan baru pulang menjelang sore.

"Iya, tiap hari, gampang jalan sini jam kayak gini, gampang balik jam empat sore jam lima," kata Enjah kepada kumparan, Kamis (2/7).

Namun sejak kebakaran terjadi pada Selasa (30/6), ia tidak lagi bisa bekerja. Selain area yang tak dapat diakses, asap pekat membuat matanya perih sehingga tak sanggup berlama-lama berada di lokasi.

"Atuh asap, asaplah mata perih. Perih," ucapnya.

Kondisi terkini Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (2/7/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
Kondisi terkini Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis (2/7/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Sebelum kebakaran, Enjah mengaku bisa memperoleh sekitar Rp 100 ribu per hari dari hasil menjual barang bekas.

"Menang sokan seratus (dapat seratus), seratus satu harinya," tuturnya.

Kini, penghasilan itu hilang. Enjah mengatakan sudah beberapa hari tidak bisa mencari maupun menjual rongsokan.

"Aduh enggak bisa nyari enggak bisa ngejual tuh, sama sekali enggak bisa ngejual. Ya enggak ada (penghasilan), kebakaran boro-boro ngambil, yang asap mata perih. Saya mah beli beras sore entar, sore setengah seharian gitu," katanya.

Dua unit helikopter berusaha memadamkan api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/7/2026). Foto: kumparan
Dua unit helikopter berusaha memadamkan api di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/7/2026). Foto: kumparan

Saat menceritakan kondisi keluarganya, suara Enjah mulai bergetar hingga menangis.

"Paling ya menang bisa kayak gitulah, cepe, pulang ke rumah beli beras, ongkos. Enggak ada kalau enggak punya uang, gas habis, enggak punya beras," ujarnya.

"Aduh. Suami, suami saya sakit-sakitan di rumah, ngomel-ngomel terus. Saya kerja capek, datang ke imah diomelan (datang ke rumah dimarahin)," lanjut Enjah sambil menangis.

Foto udara asap membumbung tinggi dari tumpukan sampah yang terbakar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/7/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO
Foto udara asap membumbung tinggi dari tumpukan sampah yang terbakar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (1/7/2026). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Bagi Enjah, yang terpenting saat ini bukan hanya kebakaran segera dipadamkan, tetapi juga ia dapat kembali bekerja untuk menghidupi keluarganya.

Enjah berharap kondisi TPA segera pulih agar para pencari rongsokan bisa kembali mencari nafkah.

"Iya, pengen normal lagilah, supaya enggak ada apa-apa lagi, supaya sehat,” tutup Enjah.

TPA Jatiwaringin merupakan TPA utama Kabupaten Tangerang dan disiapkan sebagai lokasi proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/PSEL) untuk kawasan Tangerang Raya. Total luas TPA ini sekitar 31 ha, dengan lahan 5-7 ha disiapkan khusus untuk PSEL.

Buka sumber asli