News Berita

Tabrakan Kereta Maut di Bekasi Timur: 31 Menit yang Menentukan

Tabrakan Kereta Maut di Bekasi Timur: 31 Menit yang Menentukan #kumparanplus #kumparanLIPSUS

Tabrakan Kereta Maut di Bekasi Timur: 31 Menit yang Menentukan
Puing gerbong kereta di lokasi kejadian tabrakan maut yang melibatkan kereta komuter dan kereta api jarak jauh di Bekasi, Selasa (28/04/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS
Puing gerbong kereta di lokasi kejadian tabrakan maut yang melibatkan kereta komuter dan kereta api jarak jauh di Bekasi, Selasa (28/04/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERS

Rencana Acep Senin malam itu, 27 April 2026, sebenarnya sederhana: berangkat dari kampungnya di Cikampek untuk mengejar piket pagi di tempat kerjanya di Jakarta Selatan. Untuk itu, Acep naik KRL jurusan Cikarang-Manggarai-Angke

Ia mengambil posisi duduk tak jauh dari tengah rangkaian KRL 5181B. Namun di tengah perjalanan, laju kereta yang ia tumpangi mendadak terhenti setelah mengerem tajam.

“Saya kaget juga waktu kereta yang saya naiki ngerem mendadak—ciit,” kata Acep kepada kumparan di Pasar Minggu, Jaksel, Rabu (29/4).

Dari pengeras suara, masinis KRL mengumumkan permohonan maaf seraya menginformasikan gangguan perjalanan. Mulanya, Acep mengira gangguan akan berlangsung sebentar jelang kereta masuk ke Stasiun Bekasi Timur.

Tak lama kemudian, mesin kereta dan pendingin udara justru mati, menyisakan beberapa lampu temaram dan udara yang kian pengap. Penasaran, Acep dan sejumlah penumpang lain berpindah ke gerbong depan untuk melihat apa yang terjadi.

Di luar, sebuah taksi hijau melintang, ringsek kena seruduk KRL yang Acep tumpangi. Taksi tersebut bergeser beberapa meter dari perlintasan liar di Jalan Ampera, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur.

Baru Acep sadar, kejadian itulah yang membuatnya tertahan di dalam gerbong. Acep dan penumpang lain di KRL 5181B menunggu di tengah ketidakpastian selama sekitar 15–20 menit. Kondisi yang kian pengap membuat mereka membuka pintu secara manual dengan bantuan petugas, lalu turun dari kereta.

Sesaat setelah pintu kereta dibuka untuk evakuasi, Acep mengeluarkan handphone dan merekam suasana sekitar dengan kamera hapenya. Metadata rekaman berdurasi 17 detik itu menunjukkan video tersimpan di memori HP Acep pada pukul 20.53.39 WIB (saat video berakhir).

Tangkapan layar rekaman video saat KRL 5181B dibuka secara manual usai tertemper taksi hijau di perlintasan Ampera, Bekasi Timur. Foto: Dok. Acep
Tangkapan layar rekaman video saat KRL 5181B dibuka secara manual usai tertemper taksi hijau di perlintasan Ampera, Bekasi Timur. Foto: Dok. Acep

Kira-kira 2–3 menit sebelum pintu KRL yang ia tumpangi dibuka, Acep mendengar bunyi kencang seperti tabrakan. Suaranya lebih keras ketimbang bunyi tabrakan antara keretanya dengan taksi hijau.

Acep tak menyangka bahwa bunyi itu adalah kecelakaan maut yang melibatkan kereta lain di belakangnya. Kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek 4B menabrak KRL 5568A di Stasiun Bekasi Timur, sekitar 100 meter arah barat dari insiden tabrakan taksi dan KRL 5181B di perlintasan Ampera. Sebanyak 16 penumpang meninggal dan 91 lainnya luka.

kumparan menelusuri keping demi keping sekuens peristiwa itu, dari kesaksian warga dan penumpang di lokasi kejadian, foto dan rekaman amatir penumpang KRL, video livestream seorang konten kreator di YouTube, hingga mencocokkannya dengan jadwal resmi atau timetable KRL terbaru serta Grafik Perjalanan dan Kereta Api (Gapeka) 2025 yang dikeluarkan Kementerian Perhubungan.

Dari investigasi open-source intelligence (OSINT) dan wawancara saksi-saksi di seputar tragedi ini, terungkap ada jeda waktu sekitar 21 menit antara kecelakaan pertama (KRL 5181B vs taksi hijau) dengan tabrakan kedua (KA Argo Bromo vs KRL 5568A).

Sementara mogoknya taksi di perlintasan Ampera disebut terjadi sekitar 20.20 WIB. Dengan demikian, diperkirakan ada sekitar 31 menit periode kritis sebelum Argo Bromo Anggrek menabrak KRL 5568A di Stasiun Bekasi Timur.

Inilah yang terjadi dalam 31 menit yang menentukan tersebut.

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA
Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA

Rekonstruksi Posisi 3 Kereta yang Terlibat Kecelakaan

Fragmen 1: Saat KRL 5181B Tertemper Taksi

Fadli, 25 tahun, sedang dalam perjalanan pulang melewati perlintasan Ampera ketika melihat taksi hijau di tengah rel dalam keadaan mogok sekitar pukul 20.00 sampai 20.30-an. Ia langsung meminggirkan motor, dan melihat sopir taksi sudah keluar dari mobilnya, mondar-mandir di sekitar sana.

Warga yang kebetulan berada di sekitar perlintasan lalu mencoba membantu mendorong taksi listrik milik armada Green SM itu. Namun usaha itu gagal. Menurut Fadli, roda taksi seolah macet atau terkunci, tak bisa digerakkan.

Awank, penjaga perlintasan Ampera sejak tahun 1998, menuturkan bahwa taksi tersebut sudah mogok jauh sebelum KRL yang menemper terlihat. Saat taksi itu mogok, palang bambu tanda datangnya kereta juga belum diturunkan oleh penjaga perlintasan yang beroperasi secara swadaya.

“Mobil mogok, sudah enggak bisa didorong, enggak kecandak (terkejar)… Pokoknya ibaratnya kereta belum ada (terlihat), sudah mogok (mobilnya),” kata Awank menjelaskan ada jeda cukup lama antara mobil mogok dan KRL lewat.

Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang menerima informasi bahwa taksi tersebut sudah mogok sejak pukul 20.20 WIB. Sekitar 10 menit kemudian, 20.30 WIB, barulah KRL yang ditumpangi Acep melintas dan tertemper taksi tersebut.

Kondisi taksi online yang terlibat kecelakaan dengan KRL Commuterline di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). Foto: Sena Pratama/kumparan
Kondisi taksi online yang terlibat kecelakaan dengan KRL Commuterline di Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). Foto: Sena Pratama/kumparan

“Dia (taksi) mogok di situ ada 10 menit. Setelah itu baru ditabrak, terjadilah KRL ketemper taksi. Berarti ada selang waktu 10 menit. Sepuluh menit rusak (mogok) di sana; dan kata warga di situ, sopir sudah cemas… ini gimana karena (mobil) tidak bisa didorong,” kata Deddy kepada kumparan, Jumat (1/5).

Informasi ini mendekati kesaksian Acep yang menyebut ia dan penumpang lainnya tertahan 15–20 menit di dalam KRL 5181B. Dalam video rekamannya, Acep diketahui membuka pintu KRL pada 20.53 WIB. Maka kemungkinan keretanya tertemper taksi adalah pada pukul 20.33–20.38 WIB.

Berdasarkan dokumen timetable atau jadwal Commuter Line Februari 2026 dan situs KCI, KRL 5181B Cikarang–Angke dijadwalkan tiba di Stasiun Bekasi Timur pukul 20.32 WIB. Dalam simulasi perjalanan kereta yang digambarkan situs gapeka2025.com, KRL 5181B diasumsikan melewati perlintasan Ampera pada pukul 20.31.44 WIB.

Sementara saat riuh taksi mogok terjadi, KA Argo Bromo Anggrek 4B belum beranjak dari Stasiun Gambir. Akun YouTube Trainspotter ID yang melakukan siaran langsung di dalam KA Argo Bromo Anggrek 4B memperlihatkan bahwa KA tersebut baru meninggalkan peron Stasiun Gambir pada menit ke-17 detik ke-39 rekaman tersebut.

Berdasarkan jam dinding yang terlihat pada menit ke-14:51 di video, waktu menunjukkan pukul 20.28 WIB. Maka KA Argo Bromo Anggrek 4B diperkirakan mulai bergerak meninggalkan peron pada pukul 20.30.48 WIB.

Patokan waktu keberangkatan KA Argo Bromo Anggrek 4B dapat dilihat dalam timestamp ini. Foto: Youtube/Trainspotter ID
Patokan waktu keberangkatan KA Argo Bromo Anggrek 4B dapat dilihat dalam timestamp ini. Foto: Youtube/Trainspotter ID

Tim Lipsus kumparan sudah mendapatkan izin dari pemilik akun Trainspotter ID untuk menggunakan dan menayangkan video tersebut dalam liputan ini.

Pada 20.31.44 saat KRL 5181B diperkirakan melewati perlintasan Ampera dan menabrak taksi hijau, KA Argo Bromo Anggrek 4B—yang merupakan kereta rute jauh tercepat di Indonesia—baru berangkat dari Stasiun Gambir menuju Stasiun Gondangdia.

Pada waktu yang hampir berbarengan, menurut timetable KCI, KRL 5568A relasi Kampung Bandan-Pasar Senen-Cikarang tiba di Stasiun Kranji pada 20.31.

Fragmen 2: KRL 5568A Tiba di Stasiun Bekasi Timur lalu Diseruduk KA Argo Bromo Anggrek

Setelah KRL 5181B tertemper taksi, warga mengerumuni lokasi kejadian di sekitar perlintasan Ampera. Cerita tentang KRL 5181B berhenti di sini, tetapi efeknya menjalar ke kejadian selanjutnya.

Masih menurut timetable KRI, KRL 5568A jurusan Cikarang dijadwalkan tiba di Stasiun Bekasi Timur pada 20.38 WIB. Di saat yang sama, secara aktual posisi KA Argo Bromo Anggrek 4B masih melintas di Stasiun Matraman.

Salah satu penumpang KRL 5568A, Shofia, 32 tahun, mengingat bahwa ia menumpang kereta itu dari Stasiun Kemayoran bersama ibunda dan anaknya sekitar pukul 20.00 WIB (dalam timetable, KRL ini tiba pukul 19.55 di Stasiun Kemayoran). Kurang dari pukul 21.00 WIB, keretanya ditabrak dari belakang.

KRL seri Tokyo Metro 6000 itu awalnya menurunkan penumpang seperti biasa dengan membuka dan menutup pintu. Tak sampai lima menit kemudian, menurut Shofia, pintu kembali terbuka.

Para penumpang diinformasikan bahwa ada gangguan KRL 5181B tertemper taksi sehingga KRL 5568A yang ditumpangi Shofia terimbas dan tak bisa segera melanjutkan perjalanan. Tambah lagi, ada kerumunan warga di depan jalur KRL 5568A. Sebagian penumpang kemudian keluar dari kereta, termasuk Shofia.

“Itu (KRL) sudah mau berangkat posisinya, pintu kebuka lagi. Dikasih info ada kereta [lain] tertabrak [taksi]. Orang-orang (penumpang) pada keluar, ngelihatin. Ambil video atau foto,” kata Shofia di rumahnya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (29/4).

Para penumpang keluar sesaat sebelum KRL 5568A ditabrak KA Argo Bromo Anggrek 4B di Stasiun Bekasi Timur.  Foto:  X/@kohadaruka
Para penumpang keluar sesaat sebelum KRL 5568A ditabrak KA Argo Bromo Anggrek 4B di Stasiun Bekasi Timur. Foto: X/@kohadaruka

Salah seorang penumpang yang memfoto ialah pemilik akun X @kohadaruka yang juga menaiki KRL 5568A yang sama dengan Shofia. Ia membagikan dokumen asli berupa foto dan video kepada kumparan melalui Google Drive sebagai bukti tangan pertama.

Metadata dari foto yang diambil @kohadaruka menunjukkan waktu pukul 20.51.16 WIB. Foto tersebut dipotret menggunakan Samsung S10 miliknya tepat saat para penumpang mulai keluar dari kereta.

Setelahnya, baik @kohadaruka maupun Shofia kembali masuk ke KRL mereka yang kemudian ditabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek dari belakang. Shofia menyebut tak ada pengumuman apa pun sesaat jelang keretanya ditabrak. Kejadiannya begitu cepat.

“Enggak ada semenit atau dua menit. Cepat banget kejadiannya. Pokoknya [saya] langsung [masuk] ke dalam [kereta], enggak lama [kemudian ditabrak]... Saya soalnya [masih] berdiri, belum sempat duduk lagi,” kata Shofia.

Kesaksian Shofia ini selaras dengan metadata video milik @kohadaruka yang tersimpan pada pukul 20.53.17 WIB. Mengingat video tersebut berdurasi 47 detik dan direkam tepat setelah benturan, maka pengambilan gambar diperkirakan dimulai pada pukul 20.52.30 WIB.

Melalui dua bukti digital milik @kohadaruka tersebut, waktu tabrakan KA KA Argo Bromo Anggrek 4B dan KRL 5568A dapat dikerucutkan terjadi dalam rentang pukul 20.51.16 hingga 20.52.30 WIB.

Para penumpang panik sesaat setelah KRL 5568A ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Foto:  X/@kohadaruka
Para penumpang panik sesaat setelah KRL 5568A ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Foto: X/@kohadaruka

Berdasarkan siaran langsung YouTube Trainspotter ID, terdapat jeda selama 21 menit 18 detik dari saat kereta berangkat hingga kecelakaan terjadi. Durasi ini dihitung dari timestamp keberangkatan pada menit 17:39 hingga momen tabrakan di menit 38:57.

Jika KA Argo Bromo Anggrek 4B berangkat pada pukul 20.30.48 WIB, maka lokomotif CC 206 13 86 yang menarik rangkaian tersebut diperkirakan menabrak bagian belakang KRL 5688A pada pukul 20.52.06 WIB.

Kepanikan usai KA Argo Bromo Anggrek Seruduk KRL 5568A

Di dalam gerbong tengah KRL 5568A, Shofia belum lagi mengatur napas. Ia baru melangkah masuk kembali ke kereta setelah sempat turun ke peron untuk melihat riuh kecelakaan taksi di perlintasan Ampera. Namun, tanpa aba-aba atau pengumuman dari stasiun, pintu KRL tiba-tiba tertutup rapat dan lampu gerbong padam seketika.

Shofia masih berpegangan pada tiang di dalam gerbong, belum sempat mendudukkan diri di samping seorang ibu dan anak perempuannya yang berusia 5 tahun. Saat itulah horor menghantam.

Dua dentuman keras yang memekakkan telinga terdengar di Stasiun Bekasi Timur. Benturan kedua membawa serta suara ringsek yang mengerikan—suara material baja dari moncong KA Argo Bromo Anggrek yang mengoyak gerbong belakang KRL 5568A.

Guncangannya tak tertahankan. Penumpang yang sebelumnya duduk tenang dan asyik memainkan handphone di KRL itu ramai-ramai berusaha keluar dari kereta.

“Setelah itu [muncul] teriakan minta tolong,” kata Anton, penjaga parkiran stasiun yang menyaksikan insiden nahas itu dari dekat.

Petugas mengevakuasi penumpang KRL Commuterline yang ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA
Petugas mengevakuasi penumpang KRL Commuterline yang ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA

Di dalam kegelapan gerbong Shofia, teriakan histeris pecah. Begitu pula di gerbong tempat @kohadaruka berada. Tangisan anak-anak menggema di tengah padamnya lampu dan tertutup rapatnya pintu KRL.

Penumpang gemetar, menangis, panik, dan berupaya menelepon keluarga mereka. Shofia mendapati putrinya terjatuh. Namun yang paling membuatnya syok adalah ibundanya, Nuryati yang memiliki riwayat penyakit jantung, kemudian jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Detik-detik berikutnya bak epos chaos. Ketika evakuasi medis belum tiba di menit-menit awal yang krusial, warga sekitar yang awalnya berkerumun menonton taksi mogok di perlintasan Ampera, sontak berlarian merangsek masuk ke dalam stasiun untuk mengevakuasi korban.

Khairul, rekan Anton yang ikut menerobos masuk stasiun, mendapati pemandangan yang mengiris hati. Banyak penumpang tak bisa dikeluarkan dari impitan besi yang menghunjam ke dalam.

"Yang kelihatan hanya kakinya [karena terjepit]. Kami enggak bisa [bantu], enggak ada peralatan," tutur Khairul getir.

Petugas berupaya mengevakuasi penumpang yang masih terjebak dalam gerbong KRL Commuterline yang ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA
Petugas berupaya mengevakuasi penumpang yang masih terjebak dalam gerbong KRL Commuterline yang ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA

Satpam dan warga yang berupaya melakukan evakuasi awal terpaksa meminjam gergaji dan perkakas seadanya milik penduduk sekitar untuk memotong besi gerbong yang menjepit korban.

Korban yang berhasil dikeluarkan dari rongsokan besi pun bukan berarti lepas dari penderitaan. Mereka terpaksa diletakkan di lantai stasiun sementara para relawan dadakan memutar otak mencari tandu. Bangku-bangku panjang KRL akhirnya dicopot paksa dari dalam kereta untuk dijadikan tandu.

Di atas bangku KRL yang dialihfungsikan menjadi tandu darurat itulah tubuh ibunda Shofia dibopong beramai-ramai oleh sesama penumpang atau warga sekitar. Mereka menyusuri tangga peron menuju lantai dua stasiun—yang rupanya sudah dipenuhi oleh korban-korban lain yang bergeletakan.

Ketika ambulans akhirnya tiba dan Nuryati dibawa ke RSUD Bekasi, takdir berkehendak lain. Nyawanya tak tertolong. Niat Shofia untuk sekadar menjenguk adik yang sakit di Cikarang, justru berujung kehilangan sang ibunda.

Makam ibunda Sofia, Nuryati (63), di TPU Karet Tengsin, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Makam ibunda Sofia, Nuryati (63), di TPU Karet Tengsin, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Dugaan Masalah Persinyalan dan 31 Menit yang Menentukan

Di tengah hiruk dan jeritan kepanikan pasca-tabrakan, livestream YouTube Trainspotter ID menangkap momen krusial yang sempat viral. Dalam rekaman tersebut, masinis KA Argo Bromo Anggrek 4B yang masih diselimuti ketegangan dimintai keterangan.

Berdasarkan pengakuan sang masinis, sinyal di Stasiun Bekasi masih berwarna hijau, menandakan jalur aman untuk dilintasi. Namun, lanjutnya, warna sinyal di dekat Stasiun Bekasi Timur langsung berubah menjadi merah. Menurutnya, sinyal di Stasiun Bekasi Timur seharusnya berwarna kuning, tidak bisa langsung berubah merah.

“Tadi nginfoin PK-nya (pusat kendali), cuma saya belum copy informasinya sepenuhnya, sudah keburu sinyalnya merah,” kata masinis bernama Nofiandi itu. Ia menduga bahwa sinyal tersebut galat alias eror.

Masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandri, usai tabrakan KA vs KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). Foto: Dok. Trainspotter ID
Masinis KA Argo Bromo Anggrek, Nofiandri, usai tabrakan KA vs KRL di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026). Foto: Dok. Trainspotter ID

Soal galatnya persinyalan yang diduga jadi penyebab kecelakaan, Dirut KAI Bobby Rasyidin menyebut hal itu masih dalam proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

KA Argo Bromo Anggrek 4B, menurut Nofiandi, berjalan dengan kecepatan 110-an km/jam saat masuk ke Stasiun Bekasi Timur. Kecepatan itu memang sesuai kecepatan puncak lintasnya yang menurut Gapeka 2025 bisa mencapai 115 km/jam di petak Jatinegara-Cilegeh.

Namun, masih berdasarkan Gapeka 2025, KA Argo Bromo Anggrek 4B seharusnya masuk Stasiun Bekasi pada pukul 20.54 WIB dan melintas di Stasiun Bekasi Timur pukul 20.56 WIB.

Berdasarkan analisis metadata foto dan video penumpang KRL 5568A, tabrakan KA Argo Bromo Anggrek 4B di Stasiun Bekasi Timur mengerecut antara pukul 20.51.16 ke 20.52.30. Artinya KA tersebut tiba lebih cepat ketimbang jadwal seharusnya.

Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang menyatakan, ketidaksesuaian posisi kereta dengan jadwal GAPEKA itu dapat dilihat oleh KNKT melalui memory track yang terdapat di Pusat Kendali Manggarai.

“Patut dicurigai, pas kecelakaan sinyal di Stasiun Bekasi Timur sudah hijau (untuk KRL 5568A), tapi yang mengendalikan Bekasi Timur ini tidak ada PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api). PPKA-nya di Stasiun Bekasi,” kata Deddy.

Menurutnya, jalur kereta Jatinegara-Cikarang sudah menggunakan sistem persinyalan open block otomatis. Artinya jika ada rangkaian kereta berhenti, sinyal di belakangnya akan otomatis menyala merah dan kereta api di belakangnya wajib berhenti.

Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang. Foto: Aji Cakti/ANTARA
Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Deddy Herlambang. Foto: Aji Cakti/ANTARA

Selain faktor sinyal yang bisa saja rusak, Deddy juga membuka kemungkinan human factor.

“Seorang masinis juga bisa fatigue—capek, lelah. Artinya bisa terlambat untuk melihat sinyal. Jadi seakan-akan sinyalnya tadi hijau kok sekarang merah,” kata dia.

Deddy pun menyoroti ketiadaan Sistem Keselamatan Kereta Api Otomatis (SKKO) atau Automatic Train Protection (ATP) pada kereta antarkota. Regulasi perlindungan otomasi keselamatan yang harusnya sudah tuntas pada 2019 ini tertahan bertahun-tahun karena terbentur aturan pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Akibatnya, keselamatan kereta api antarkota di Indonesia masih bergantung pada mata, kesigapan, dan tangan masinis. Padahal sistem ini memungkinkan otomasi tingkat tinggi saat ada kereta yang berhenti mendadak.

“Istilahnya kalau ada kereta berhenti mendadak [di depan], kereta yang di belakang otomatis berhenti sendiri walau masinisnya tidur... Tapi sekarang masinis masih seperti sopir—kalau ada lampu merah harus berhenti manual. Padahal dengan ATP, walau melanggar sinyal, langsung berhenti keretanya. Kalau ada gempa juga berhenti otomatis,” jelas Deddy.

Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (29/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Selain kemungkinan eror pada sinyal, faktor manusia, dan sistem keamanan kereta yang belum diperbarui, Deddy menyoroti satu poin krusial: lambatnya respons evakuasi. Ia menyayangkan mengapa dalam kurun waktu 30 menit sejak taksi hijau mogok pada pukul 20.20 WIB, tidak ada tindakan berarti untuk mencegah tabrakan hebat berikutnya yang terjadi pada pukul 20.50-an tersebut.

“Seharusnya waktu setengah jam itu sudah cukup untuk [evakuasi]. Itulah yang kami sesalkan kenapa SOP kedaruratan ini belum ada di sana,” kritiknya.

kumparan telah menghubungi Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba untuk meminta penjelasan mengenai alasan tak adanya peringatan kepada penumpang KRL 5568A untuk keluar dari gerbong selama jeda waktu 20 menit sebelum tabrakan terjadi. Namun pertanyaan kumparan ini belum berbalas.

Sementara itu, sopir taksi yang mobilnya ditemper KRL langsung diamankan polisi usai kejadian. Kemenhub pun telah memanggil manajemen Green SM buntut insiden maut itu. Adapun dalam rilisnya, Green SM Indonesia menyatakan duka dan menyebut terus berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung proses investigasi.

Deddy menegaskan, “Kami berharap investigasi KNKT tidak hanya masalah perkeretaapian, tapi juga taksi listrik ini. Trigger bermula di sana (taksi mogok) sampai terjadi efek domino sejauh itu.”

Perlintasan Liar Pengundang Petaka

Di balik tragedi 31 menit yang merenggut belasan nyawa itu, sebuah palang bambu di perlintasan Ampera menjadi potret perlintasan ilegal yang berisiko mengancam nyawa.

Pos perlintasan di Kelurahan Duren Jaya itu tidak pernah memiliki palang otomatis maupun sirine peringatan resmi. Saban hari, keselamatan ribuan nyawa penumpang kereta dan pengguna jalan hanya disandarkan pada insting penglihatan dan penjagaan swadaya warga setempat seperti Awank dan 20-an orang lainnya yang berjaga menggunakan sistem sif.

“Kami ibaratnya sukarela di sini,” kata Awank yang berjaga di situ karena meneruskan tugas mendiang ayahnya sejak 1970-an.

Kondisi miris perlintasan Ampera nyatanya bukanlah anomali, tapi potret buram yang jamak ditemui. Berdasarkan penyisiran kumparan menggunakan citra satelit Google Earth, perlintasan tanpa palang resmi layaknya ladang ranjau yang tersebar di sepanjang jalur komuter Jakarta–Bogor dan Jakarta–Bekasi.

Perlintasan liar kereta di Jakarta–Bogor dan Jakarta–Bekasi. Foto: Erandhi Saputra/kumparan
Perlintasan liar kereta di Jakarta–Bogor dan Jakarta–Bekasi. Foto: Erandhi Saputra/kumparan

Di koridor sibuk Manggarai-Cikarang saja, kumparan memetakan sedikitnya 13 titik perlintasan liar. Angka yang lebih mencengangkan ditemukan di jalur Manggarai-Bogor, di mana terdapat 23 titik perlintasan sebidang tak resmi.

Menurut data Kementerian Perhubungan, jumlah perlintasan liar di Jawa mencapai 301, dan perlintasan resmi yang tak dijaga mencapai 827 pada 2026. Angka ini menurun dari tahun 2020 yang masing-masing berjumlah 1.860 dan 1.180 titik.

Ketua Forum Perkeretaapian MTI Deddy Herlambang mengkritik tajam keberadaan perlintasan-perlintasan liar ini. Menurutnya, insiden Ampera membongkar ruwetnya ego sektoral dan area abu-abu hukum antara UU Perkeretaapian, UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), dan UU tentang Jalan.

“Tiba-tiba perlintasan [Ampera] menjadi resmi, ada nomornya jadi perlintasan JPL 86. Saya tanya Pak Kadishub Kota Bekasi: Ini nomor dari mana Pak? [Dijawab] dari Perhubungan Darat. Kalau itu dijadikan resmi, enggak masalah selama ada yang mengelola dan bertanggung jawab. Yang menjadi masalah: Perlintasan itu dibuka tapi tidak ada yang mengelola. Yang mengelola hanya masyarakat sekitar, Pak Ogah,” ujarnya.

Petugas Pemelihara Jalan Rel PT KAI memasang palang pintu besi di perlintasan sebidang Jalan Ampera dekat Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan
Petugas Pemelihara Jalan Rel PT KAI memasang palang pintu besi di perlintasan sebidang Jalan Ampera dekat Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparan

Deddy menegaskan, amanat Pasal 94 UU Perkeretaapian sudah sangat jelas: Jika sebuah perlintasan sebidang tidak berizin dan tidak ada yang mengelola, perlintasan itu wajib ditutup.

“Itu kembali kepada [Pemerintah] Kota Bekasi: mau mengelola enggak? Kalau enggak mau mengelola, ya tutup... Jangan sampai kereta api juga menjadi korban terus,” tegas Deddy.

Dikonfirmasi secara terpisah di RSUD Kota Bekasi, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono tak menampik bahwa perlintasan seperti Ampera selama ini hanya dijaga seadanya oleh warga.

“Itu sama kayak polisi cepek gitulah,” ujarnya.

Ia menepis rumor di media sosial yang menyebut bahwa ketiadaan palang pintu resmi disebabkan oleh larangan dari ormas tertentu.

Menurut Tri, Pemkot Bekasi sebenarnya sudah memiliki peta jalan untuk mengatasi perlintasan sebidang utama melalui pembangunan flyover dan underpass seperti di Bulak Kapal yang konstruksinya ditargetkan mulai dibangun pada 2026, serta di alun-alun (Bulan-Bulan) pada 2029.

Namun, untuk solusi jangka pendek di perlintasan rawan seperti Ampera dan Agus Salim, Tri berjanji akan mengupayakan intervensi daerah dengan menempatkan petugas resmi di sana.

Presiden Prabowo menjenguk korban kecelakaan tabrakan kereta yang dirawat di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Selasa pagi (28/4/2026). Foto: Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden
Presiden Prabowo menjenguk korban kecelakaan tabrakan kereta yang dirawat di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid, Kota Bekasi, Selasa pagi (28/4/2026). Foto: Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

Gong penyelesaian perlintasan maut ini akhirnya diambil alih Istana. Presiden Prabowo Subianto yang turun langsung meninjau korban luka di RSUD Bekasi, menyatakan prihatin atas kelalaian sistemik yang terus memakan korban. Ia menyebut masalah perlintasan tak terjaga ini sebagai warisan usang peninggalan zaman kolonial Belanda yang terus dibiarkan menganga.

“Di Jawa ada 1.800 titik lintasan seperti ini. Ini kira-kira dari zaman Belanda, sudah berapa puluh tahun. Sekarang segera kita selesaikan semua itu,” kata Prabowo.

Demi memutus rantai petaka, Prabowo menginstruksikan perbaikan instan untuk seluruh perlintasan sebidang di Pulau Jawa, baik melalui pembangunan flyover maupun penempatan pos jaga resmi. Pemerintah pusat bahkan bersiap menggelontorkan anggaran raksasa untuk misi ini.

“Mari kita perhitungkan sekitar hampir Rp 4 triliun. Demi keselamatan... kita harus keluarkan [biaya] itu,” ujarnya.

Janji triliunan rupiah dan pos jaga baru mungkin akan mengubah wajah perkeretaapian di masa depan. Namun bagi keluarga korban seperti Shofia, tak ada satu pun regulasi baru yang bisa menghapus rasa trauma dalam gelap gerbong kereta.

Waktu 31 menit yang terbuang sia-sia di perlintasan Ampera itu, dibayar dengan harga yang terlalu mahal.

Lipsus 31 menit menuju tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Lipsus 31 menit menuju tragedi kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Buka sumber asli