Sepasang Sepatu, Sepotong Cerita, dan Realitas yang Tak Tepat Waktu
Sepasang sepatu menjadi alarm bahwa tidak semua realitas terlihat di ruang publik. Empati sering kali datang tidak tepat waktu, sementara banyak cerita lain masih menggema tanpa suara. #userstory

Sebelumnya ramai dibicarakan di media sosial yang terangkat di media massa bahwa seorang siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur meninggal dunia usai mengalami sakit pada kakinya. Ia sempat mengalami kondisi kesehatan yang terus memburuk.
Tubuhnya semakin kurus akibat peradangan di kakinya. Bengkak di kaki itu diduga akibat penggunaan sepatu sekolah yang tidak sesuai ukuran atau kekecilan. Ukuran sepatu yang digunakan harusnya 45, tetapi dia tetap memakai sepatu nomor 43 karena tidak punya uang untuk membeli sepatu baru. Mungkin sakitnya pun bukan karena permasalahan sepatu yang sempit saja. Keluarga juga tidak membawa ke rumah sakit karena keterbatasan biaya. la hanya dirawat seadanya saja.
Kadang, sebuah realita baru benar-benar bergema ketika semuanya sudah menjadi kisah yang telanjur sudah diabaikan.
Ini bukan hanya tentang sepasang sepatu. Ini tentang sesuatu yang lebih dari sekadar cerita pilu, yang selama ini mungkin ada di sekitar kita, tetapi tidak benar-benar nampak oleh kita. Kita lalu terkejut dan mendesak dengan pertanyaan: Mengapa hal seperti ini baru menjadi perhatian publik ketika semuanya sudah terjadi?

Di tengah derasnya arus media sosial, kita sering merasa bahwa semua hal dapat dengan mudah kita akses. Informasi bergerak cepat, konten terus diproduksi, dan berbagai peristiwa dapat dengan mudah menjadi viral. Namun sayang, pada kenyataannya, tidak semua realitas memiliki ruang yang sama untuk direpresentasikan.
Dalam kajian komunikasi, representasi bukan hanya soal menampilkan sesuatu, melainkan juga tentang bagaimana realitas dibentuk ulang melalui proses seleksi, framing, dan penyajian. Di titik inilah framing bekerja. Cara sebuah cerita disampaikan, apa yang ditonjolkan, dan apa yang tidak ikut ditampilkan perlahan membentuk cara kita memahami sebuah peristiwa.
Oleh karena itu, yang kita lihat bukan sepenuhnya realitas, melainkan realitas yang terbentuk melalui cara komunikasi itu bekerja (Couldry & Hepp, 2017). Artinya, apa yang akhirnya muncul di ruang publik dan menjadi konsumsi massal bukanlah keseluruhan cerita, melainkan versi separuh sisi yang berhasil masuk ke dalam perhatian audiens.
Di sinilah yang menjadi akar persoalannya: ketika ruang media lebih banyak dipenuhi oleh konten dengan daya tarik secara visual dan emosional semata, lalu realitas sesungguhnya sering kali terpinggirkan. Cerita pilu tentang keterbatasan, akses, dan kebutuhan dasar tidak selalu memiliki daya tarik yang cukup untuk muncul ke permukaan publik, hingga akhirnya berubah menjadi tragedi lalu menjadi sebatas kisah yang mudah untuk dilupakan.

Peristiwa ini memperlihatkan adanya jarak antara representasi dan realitas sosial. Di satu sisi, media sosial menawarkan ruang yang luas bagi siapa saja dengan ceritanya masing-masing. Namun di sisi lain, sayangnya tidak semua orang memiliki kemampuan, akses, atau bahkan keberanian untuk menyampaikan kondisi yang mereka alami. Mereka lebih memilih diam, seolah pilihan untuk bungkam menjadi satu-satunya opsi.
Sayangnya, pola manusia selalu berulang. Ketika sebuah cerita sudah menjadi viral, empati baru menghampiri. Padahal, empati tidak selalu muncul dengan sendirinya, karena empati bergantung pada apa yang terlihat dan mendapatkan perhatian (Cameron, 2018). Apakah kita semua sepakat bahwa ketika sebuah cerita tidak pernah bergema ke ruang publik, empati pun tidak pernah benar-benar hadir?
Mungkin kisah ini bukan hanya terbatas pada sepasang sepatu. Jika dilihat lebih jauh, kondisi ini tidak terseok sendirian. Di banyak daerah pelosok Indonesia, fasilitas pendidikan masih jauh dari kata layak. Sekolah dengan sarana terbatas, akses yang sulit, hingga kebutuhan dasar siswa yang sering kali belum terpenuhi menjadi bagian dari realitas yang hanya jadi janji-janji manis.
Hal-hal seperti ini mungkin tidak selalu sering terlihat di ranah publik—pernah menjadi sorotan, tapi perlahan terlupakan dalam diam. Namun yang patut kita apresiasi, bahwa pendidik dan anak didik tetap kompak memiliki semangat juang untuk terus berdampingan atas nama ilmu.

Barangkali, realitas seperti ini ibarat bunga Rafflesia Tuan Mudae yang tumbuh di hutan pelosok Borneo. Tidak semua orang menyadari keberadaannya, tidak semua sempat melihatnya mekar.
Bunga itu tumbuh dan memiliki keindahan serta makna tersendiri, terutama bagi warga lokal yang berdampingan dengannya, tetapi sering kali luput dari perhatian publik karena tidak berada di jalur yang ramai dilalui. Hingga akhirnya, kita baru menyadari keberadaannya ketika semuanya sudah layu dan menyatu dengan bumi.
Mungkin di belahan garis waktu yang terus maju, masih ada sepotong cerita lainnya yang belum disuarakan, sehingga realitas yang hadir kembali tak tepat waktu. Sebab, kita semua punya kesempatan yang sama: mengulangi atau bertumbuh menjadi pribadi yang lebih peka dan lebih berani.
Harapan itu tidak pernah benar-benar hilang. Kita hanya diminta untuk menunggu sesaat, karena keyakinan pasti kembali menyapa, seperti doa yang terus kita titipkan.