News Berita

Sempat Hijau, Ini Alasan IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.315

Analis menilai berbalik negatifnya IHSG pada perdagangan Kamis (23/7) ini merupakan imbas sentimen timur tengah dan aksi profit taking. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Sempat Hijau, Ini Alasan IHSG Ditutup Melemah ke Level 6.315
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup berbalik melemah pada perdagangan Kamis (23/7), setelah sepanjang sesi sempat bergerak di zona hijau.

Berdasarkan data perdagangan RTI, IHSG ditutup turun 19,164 poin atau 0,30% ke level 6.315,311, setelah sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.454,309.

Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai pembalikan arah IHSG pada sesi kedua terutama dipicu oleh kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong investor mengurangi aset berisiko.

"Sentimen eksternal menjadi pendorong utama pembalikan arah ini. Memanasnya kembali tensi di Timur Tengah terutama pasca penolakan negosiasi dan ancaman langkah militer lebih lanjut oleh AS terhadap Iran memicu kekhawatiran pelaku pasar global," ujar Gunarto kepada kumparan, Kamis (23/7).

Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO
Warga mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/6/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Menurutnya, konflik di Timur Tengah langsung mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga minyak Brent disebut telah melampaui USD 97 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menembus USD 89 per barel.

Di tengah meningkatnya risiko global, pelaku pasar juga memanfaatkan kenaikan IHSG dalam beberapa waktu terakhir untuk merealisasikan keuntungan.

"Tekanan eksternal yang terjadi kemudian memicu aksi ambil untung (profit taking) yang cukup masif di sesi kedua. Mengingat IHSG sudah mencatatkan tren penguatan yang cukup solid dalam beberapa waktu terakhir,” ucapnya.

Secara sektoral, pelemahan indeks terutama dipicu oleh saham-saham berkapitalisasi besar di sektor industri, barang konsumen non-primer, dan keuangan.

"Berdasarkan performa beberapa sektor utama (IDX-IC) pada penutupan hari ini, sektor industri memimpin pelemahan dengan koreksi sebesar 1,32%, disusul oleh sektor barang konsumen non-primer yang turun 1,16%, serta sektor keuangan yang melemah 0,89%,” kata Gunarto.

Meski demikian, menurutnya, masih terjadi rotasi dana ke sejumlah sektor defensif sehingga pelemahan IHSG tidak berlangsung lebih dalam.

Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Shutterstock
Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Shutterstock

Sementara itu Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan keputusan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen sebenarnya menjadi sentimen positif bagi pasar, meski dampaknya terhadap penguatan IHSG masih terbatas.

"Keputusan BI yang berpotensi menopang indeks, namun ruang kenaikan kemungkinan tidak terlalu agresif karena market masih dibayangi arus dana asing yang masih fluktuatif,” ucap Nafan.

Dia melanjutkan, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan konflik AS dan Iran yang telah berlangsung selama sebelas hari berturut-turut.

Menurut Nafan, lonjakan harga minyak juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi global, sehingga peluang bank sentral dunia menurunkan suku bunga menjadi semakin terbatas.

Selain itu, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve serta kenaikan imbal hasil US Treasury yang turut memberi tekanan terhadap rupiah.

Meski demikian, Nafan menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan memberikan kepastian kebijakan moneter bagi pasar.

"Hal ini mengingat bahwa BI memberikan dukungan terhadap stabilitas rupiah karena menjaga daya tarik aset rupiah dan menunjukkan komitmen BI dalam menjaga inflasi serta nilai tukar. Para pelaku investor cenderung bersikap prudent menanti rilis kinerja Semester I 2026,” tutur Nafan.

Buka sumber asli