News Berita

Self-Publishing: Cerita Saya Menerbitkan Buku Sendiri

Self-publishing membuka jalan bagi penulis untuk menerbitkan buku sendiri, dari layout, platform digital, ISBN, DOI, hingga promosi.

Self-Publishing: Cerita Saya Menerbitkan Buku Sendiri

Self-publishing awalnya bukan pilihan pertama saya. Semula saya membayangkan proses menerbitkan buku akan berjalan melalui jalur yang lazim: menyiapkan naskah, bekerja sama dengan penerbit, memperoleh ISBN, lalu buku terbit dan beredar. Menerbitkan buku melalui penerbit memang terasa sebagai zona nyaman, karena ada pihak yang membantu mengurus proses teknis, administratif, dan distribusi, sementara penulis dapat lebih fokus pada isi naskah.

Ketika Jalur Penerbitan Tidak Berjalan Mulus

Namun, rencana itu tidak berjalan mulus. Pada tahap awal, saya sempat menempuh jalur penerbit sebagai sebuah lembaga, tetapi tahapan prosesnya belum sepenuhnya sejalan dengan kondisi dan kebutuhan naskah saya. Situasi ini membuat saya harus mencari jalan lain. Dari titik itulah saya mulai memahami bahwa menerbitkan buku tidak selalu harus melalui satu jalur, dan self-publishing dapat menjadi pilihan yang sah, terbuka, serta layak dipelajari.

Namun, Alhamdulillah dari hambatan itulah saya mulai memahami bahwa menerbitkan buku sendiri bukan sekadar mengunggah naskah, tetapi memasuki proses panjang yang melibatkan layout, cover, metadata, platform digital, digital object identifier (DOI), distribusi, dan promosi. Saya tertantang untuk melaluinya.

Penulis berada di persimpangan antara jalur penerbitan formal dan pilihan menerbitkan buku secara mandiri (Gambar dibuat dengan AI) .
Penulis berada di persimpangan antara jalur penerbitan formal dan pilihan menerbitkan buku secara mandiri (Gambar dibuat dengan AI) .

Proses yang saya jalankan ini saya bagikan semata-mata sebagai pengalaman belajar, bukan untuk menonjolkan diri. Saya ingin berbagi bahwa menerbitkan buku sendiri sekarang jauh lebih mungkin dilakukan, meskipun tetap membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan kemauan belajar.

Saya kemudian memilih jalur self-publishing. Jalur ini memang merepotkan. Penulis harus belajar banyak hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah dipikirkan: tata letak, desain sampul, format EPUB dan PDF, metadata, ISBN, DOI, platform distribusi, harga jual, lisensi, hingga strategi promosi.

Belajar Layout Buku dengan Cara Sederhana

Untuk layout buku, saya menggunakan aplikasi yang sangat umum, yaitu Microsoft Word. Saya tidak menggunakan Adobe InDesign yang sering dianggap lebih ideal untuk desain buku, karena bagi saya aplikasi itu terlalu rumit untuk dipelajari dalam waktu singkat. Namun, ternyata melayout buku dengan Microsoft Word juga tidak sesederhana yang saya bayangkan.

Ada kemampuan tingkat lanjut yang perlu dikuasai, seperti pengaturan two facing pages, perbedaan halaman ganjil dan genap, serta header dan footer yang berbeda untuk halaman kiri dan kanan. Hal-hal seperti ini merupakan dasar penting dalam menyiapkan layout buku, tetapi sebelumnya tidak terlalu saya pahami.

Penulis menyiapkan layout, cover, dan struktur teknis buku secara mandiri dengan perangkat yang sederhanaa (Gambar dibuat dengan AI) .
Penulis menyiapkan layout, cover, dan struktur teknis buku secara mandiri dengan perangkat yang sederhanaa (Gambar dibuat dengan AI) .

Di tengah keterbatasan itu, saya belajar dari berbagai sumber, termasuk bertanya kepada ChatGPT untuk memahami hal-hal teknis yang belum saya kuasai. Saya mempelajari teknis menyiapkan layout buku agar lebih layak cetak. Bagi saya, teknologi ini bukan pengganti proses belajar, melainkan alat bantu yang mempercepat pemahaman terhadap pekerjaan teknis yang sebelumnya terasa asing.

Bantuan serupa juga saya gunakan saat menyiapkan desain cover depan dan belakang. Tentu hasil akhirnya tetap perlu diperiksa dan disesuaikan, tetapi prosesnya menjadi jauh lebih cepat dibandingkan jika seluruhnya saya kerjakan sendiri tanpa panduan.

Memilih Platform Penerbitan Digital

Setelah naskah hasil layout siap, saya mulai memilih platform penerbitan. Saya menemukan beberapa pilihan yang dapat digunakan tanpa biaya awal, antara lain Google Books, Amazon, Lulu, dan Zenodo. Masing-masing memiliki karakter berbeda. Google Books lebih dekat dengan ekosistem buku digital dan pencarian Google. Amazon kuat pada Kindle. Lulu menyediakan jalur paperback. Sementara Zenodo lebih cocok sebagai repositori ilmiah dan preservasi karya. Melalui Zenodo, saya juga dapat memperoleh DOI secara gratis. DOI atau digital object identifier berfungsi sebagai alamat permanen bagi karya digital.

Kini penulis dan penerbit buku mandiri dapat memanfaatkan platform digital, DOI, dan indeks akademik untuk memperluas jangkauan karya.
Kini penulis dan penerbit buku mandiri dapat memanfaatkan platform digital, DOI, dan indeks akademik untuk memperluas jangkauan karya.

Salah satu keunggulan memasukkan buku ke Google Books adalah peluangnya untuk lebih cepat terindeks dalam ekosistem pencarian Google, termasuk Google Scholar. Google Scholar merupakan mesin pencari akademik yang sangat populer di kalangan mahasiswa, peneliti, dan dosen untuk menemukan sumber bacaan dalam pembelajaran, pengajaran, dan penelitian.

Dalam pengalaman saya, entri sitasi buku mulai muncul di Google Scholar sekitar dua hari setelah diunggah ke Google Books. Tentu, proses ini belum langsung sempurna. Google Scholar masih memerlukan waktu beberapa hari lagi untuk melakukan crawling, membaca metadata, dan menemukan sumber file buku secara lebih lengkap. Namun, pengalaman ini menunjukkan bahwa keberadaan buku di Google Books dapat membantu meningkatkan visibilitas akademik sebuah karya, terutama bagi penulis yang menerbitkan buku secara mandiri.

Pada awalnya, saya hanya menguasai konversi naskah dari Microsoft Word ke PDF. Padahal, untuk masuk ke ekosistem buku digital, format EPUB dan Kindle menjadi penting. Saya kemudian mempelajari Kindle Create, aplikasi gratis dari Amazon yang dapat membantu menyiapkan file EPUB dan Kindle dalam satu proses. Saya menjadi semakin tertarik karena proses yang dulu terasa rumit kini menjadi lebih mudah dipelajari.

Saya sebenarnya sudah mengenal Amazon sejak 2021 sebagai tempat penjualan buku. Saat itu, ada buku saya yang saya pajang di sana. Namun, saya menemukan kendala karena Amazon belum menerima rekening bank asal Indonesia untuk pembayaran. Saya senang ketika kemudian mengetahui bahwa Amazon kini menerima rekening bank Indonesia, dan proses verifikasi rekening saya berhasil dilakukan dengan cepat.

Alhamdulillah, buku digital saya di Amazon disetujui dalam waktu sekitar 72 jam. Namun, persoalan lain muncul pada ISBN. Amazon menyediakan ISBN gratis untuk versi paperback atau cetak. Akan tetapi, saya menemukan kendala karena buku saya berbahasa Indonesia dan tidak dapat diterima untuk versi cetak di Amazon, kecuali untuk buku digital Kindle. Dari situ, saya gagal memperoleh ISBN melalui Amazon.

Saya kemudian menemukan Lulu, sebuah toko buku dan platform penerbitan yang menerima naskah buku berbahasa Indonesia. Lulu juga memberikan ISBN secara gratis untuk buku yang dipajang di toko online mereka, sekaligus menawarkan skema komisi atau royalti. Ini menjadi salah satu jalan keluar bagi penulis yang ingin menerbitkan buku secara mandiri dalam bahasa Indonesia.

Meski demikian, proses submission di Lulu dan Amazon tidak selalu mudah. Jika penulis tidak menguasai teknik layout buku, banyak istilah yang terasa asing, seperti bleed, spine, trim size, margin, dan ukuran cover. Lulu dan Amazon memang menyediakan tool seperti cover creator, tetapi tetap dibutuhkan ketelitian agar cover dan isi buku sesuai dengan persyaratan teknis masing-masing platform.

Pada tahap ini, saya kembali menggunakan bantuan teknologi cerdas untuk memahami dan menyesuaikan desain serta dimensi ukuran buku secara presisi sesuai persyaratan Lulu dan Amazon. Setelah beberapa kali penyesuaian, cover dan interior buku saya akhirnya disetujui. Melalui Lulu, saya memperoleh ISBN gratis untuk versi paperback.

Self-Publishing sebagai Pengalaman Belajar

Dari proses itu, saya menyadari bahwa self-publishing bukan jalan pintas. Ia adalah jalan mandiri yang menuntut disiplin, ketelitian, dan kemauan belajar. Penulis memperoleh kebebasan yang lebih besar, tetapi pada saat yang sama memikul tanggung jawab yang lebih besar pula atas mutu naskah, tampilan buku, legalitas, distribusi, dan kredibilitas karya.

Saya juga belajar bahwa self-publishing tidak berarti semua pekerjaan harus dilakukan secara tertutup dan sendirian. Setelah naskah selesai saya tulis, saya tetap meminta tanggapan seorang teman, profesor bahasa Indonesia yang lebih memahami aspek kebahasaan. Saya memintanya membaca cepat untuk melihat kelayakan bahasa. Saya melakukan itu karena saya menyadari bahwa saya bukan ahli bahasa.

Namun, untuk substansi keilmuan, tanggung jawabnya tetap berada sepenuhnya pada saya. Isi buku, argumen, konsep, rujukan, dan posisi akademiknya adalah wilayah yang harus saya pertanggungjawabkan sendiri, karena bidang itulah yang saya geluti. Dengan cara itu, saya mencoba menjaga keseimbangan: bahasa perlu dibantu agar lebih layak dibaca, tetapi isi keilmuan tidak boleh dilepaskan dari tanggung jawab penulis.

Bagi saya, self-publishing akhirnya menjadi pengalaman belajar yang utuh. Ia mempertemukan dunia penulisan, teknologi, desain, penerbitan, distribusi, dan promosi dalam satu proses yang saling terhubung. Proses ini memang melelahkan dan kadang merepotkan. Namun, di sisi lain, ia memberi kepuasan tersendiri karena penulis benar-benar terlibat dari awal sampai akhir dalam kelahiran bukunya sendiri.

Bagi penulis, menerbitkan buku sendiri bukan hanya soal terbit, tetapi juga soal belajar, memperbaiki, dan mempertanggungjawabkan isi karya (Gambar dibuat dengan AI).
Bagi penulis, menerbitkan buku sendiri bukan hanya soal terbit, tetapi juga soal belajar, memperbaiki, dan mempertanggungjawabkan isi karya (Gambar dibuat dengan AI).

Karena itu, saya melihat self-publishing bukan sebagai pilihan kelas dua dalam penerbitan buku. Ia adalah pilihan yang sah, terbuka, dan semakin relevan di era digital. Tentu, tidak semua penulis harus menempuh jalur ini. Namun, bagi penulis yang ingin belajar lebih jauh tentang proses lahirnya sebuah buku, self-publishing menawarkan pengalaman yang sangat berharga: melelahkan, merepotkan, tetapi juga sangat mengasyikkan.

Penulis telah menerbitkan buku secara self-published, berjudul "Negara Digital Indonesia: Ketika Data Mengubah Cara Negara Bekerja".

Buka sumber asli