News Berita

Sekolah untuk Semua, Prestasi untuk Siapa?

Sekolah lebih menghargai modal budaya tertentu tanpa memberikan ruang yang setara bagi peserta didik dari latar belakang yang berbeda, sekolah berpotensi menjadi arena reproduksi sosial.

Sekolah untuk Semua, Prestasi untuk Siapa?
Ilustrasi foto bersama keluarga. Sumber: Shutterstock
Ilustrasi foto bersama keluarga. Sumber: Shutterstock

Pendidikan merupakan sarana mobilitas sosial yang memberikan kesempatan yang sama bagi individu dalam memperoleh kehidupan yamg sejahtera. Melalui pendidikan, setiap siswa diharapkan memiliki peluang yang sama untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan taraf kehidupannya agar menjadi lebih baik tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi keluarga. Prinsip tersebut menjadi landasan dari berbagai kebijakan pemerataan pendidikan di Indonesia.

Akan tetapi, pada nyatanya kesempatan yang sama tidak selalu menghasilkan hasil yang sama. Berbagai penelitian masih menemukan adanya kesenjangan prestasi akademik berdasarkan latar belakang keluarga. Siswa yang berasal dari keluarga dengan tingkat pendidikan tinggi, budaya literasi yang baik, dan akses terhadap berbagai sumber belajar cenderung memperoleh prestasi akademik yang lebih tinggi dibandingkan siswa dari keluarga yang memiliki sumber daya terbatas.

Salah satu gambaran nyata dapat dilihat dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang menunjukkan bahwa status sosial ekonomi keluarga masih memiliki hubungan yang kuat dengan capaian belajar peserta didik di berbagai negara, termasuk Indonesia. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa prestasi akademik tidak sepenuhnya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sosial tempat siswa tumbuh dan berkembang.

Fenomena ini kemudian memunculkan pertanyaan penting: apakah sekolah benar-benar menjadi ruang yang memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh siswa, atau justru secara tidak langsung ikut mempertahankan ketimpangan sosial yang telah ada di masyarakat? Pemikiran Pierre Bordieu yang membahas mengenai social reproduction dapat menjadi perspektif yang relevan karena menjelaskan bahwa sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga arena yang mereproduksi berbagai bentuk ketimpangan sosial melalui modal budaya.

1. Pendidikan sebagai Arena Reproduksi Sosial

Menurut sudut pandang Bourdieu, sekolah sering dipandang sebagai institusi yang netral karena menerapkan kurikulum dan sistem penilaian kepada seluruh peserta didik. Namun, di balik kesetaraan formal tersebut, sekolah sebenarnya lebih menghargai bentuk-bentuk budaya yang telah dimiliki oleh kelompok sosial tertentu.

Bordieu menyatakan bahwa sekolah melihat kemampuan akademik yang baik sebagai indikator kecerdasan. Padahal kemampuan-kemampuan tersebut bukan hanya diperoleh di sekolah, melainkan telah dibentuk sejak anak berada di lingkungan keluarga. Akibatnya, siswa yang telah memiliki modal budaya sesuai dengan budaya sekolah akan lebih mudah beradaptasi dan memperoleh pengakuan dari guru. Sebaliknya, siswa yang berasal dari lingkungan dengan modal budaya yang berbeda sering kali harus berusaha lebih keras agar mampu memenuhi standar yang ditetapkan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah dapat menjadi ruang yang mereproduksi ketimpangan sosial yang telah diwariskan antargenerasi.

2. Modal Budaya Keluarga dan Prestasi Akademik

Cultural capital menurut Bordieu merupakan sumber daya yang dimiliki seseorang dan diperoleh melalui proses sosialisasi dalam keluarga. Modal budaya tersebut dapat berupa kebiasaan membaca sejak dini, terbiasa berdiskusi dengan orang tua, dukungan dari orang tua,atau memiliki pengalaman untuk pengembangan dirinya. Modal ini cenderung dimiliki oleh keluarga dengan tingkat pendidikan yang tinggi dan mampu menyediakan lingkungan belajar yang lebih kondusif sehingga anak lebih siap menghadapi tuntutan akademik di sekolah. Sebaliknya, keluarga yang memiliki keterbatasan pendidikan atau ekonomi sering kali lebih berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar sehingga kesempatan anak memperoleh pengalaman belajar tambahan menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut bukan berarti anak kurang cerdas, tetapi menunjukkan adanya perbedaan modal budaya yang dimiliki sejak awal.

Sebagai contoh, banyak sekolah unggulan didominasi oleh peserta didik yang berasal dari keluarga dengan tingkat pendidikan dan ekonomi yang relatif lebih tinggi. Umumnya, mereka telah memperoleh berbagai bentuk dukungan sebelum memasuki sekolah tersebut, seperti mengikuti bimbingan belajar intensif, memiliki sumber daya teknologi yang memadai, serta mendapat dukungan emosional dari orang tua.

Sementara siswa dari keluarga kurang mampu sering menghadapi berbagai hambatan, seperti keterbatasan fasilitas belajar, minimnya pendampingan akademik di rumah, atau harus membantu pekerjaan orang tua. Meskipun memiliki kemampuan intelektual yang baik, kondisi tersebut membuat mereka berada pada titik awal yang berbeda dibandingkan teman-temannya.

3. Upaya Mengurangi Reproduksi Sosial di Sekolah

Sekolah sebagai sarana mobilitas sosial perlu mengurangi social reproduction di sekolah dengan melakukan beberapa langkah, seperti memperkuat program literasi untuk siswa, memberikan bimbingan dan mendampingi siswa dalam proses pembelajaran, menyediakan akses pembelajaran yang merata, hingga meningkatkan kerja sama antara sekolah dan orang tua dalam mendukung proses pembelajaran. Melalui upaya ini sekolah dapat menjadi arena ekspresi dalam memperoleh kesempatan belajar secara lebih adil dan merata.

Prestasi akademik tidak dapat dipahami semata-mata sebagai hasil kerja keras atau kecerdasan individu. Dalam perspektif yang dicetuskan oleh Pierre Bourdieu, keberhasilan belajar juga dipengaruhi oleh modal budaya yang diwariskan keluarga melalui berbagai pengalaman sosial sejak anak masih kecil. Ketika sekolah lebih menghargai bentuk-bentuk modal budaya tertentu tanpa memberikan ruang yang setara bagi peserta didik dari latar belakang yang berbeda, sekolah berpotensi menjadi arena reproduksi sosial yang mempertahankan ketimpangan antargenerasi. Dengan demikian, kurikulum perlu dikaji kembali dan dirancang secara lebih inklusif agar mampu mengakomodasi keberagaman modal budaya peserta didik. Melalui cara tersebut, pendidikan dapat menjalankan fungsi utamanya sebagai sarana mobilitas sosial yang memberikan kesempatan belajar yang lebih adil bagi seluruh siswa.

Buka sumber asli