Saya Takut Kehabisan Waktu Sebelum Bisa Membahagiakan Ibu
Perjuangan, doa, dan harapan seorang anak yang ingin membahagiakan ibunya sebelum terlambat.

Semester akhir seharusnya menjadi langkah terakhir menuju sebuah impian. Namun, bagi saya, semester akhir justru menjadi masa yang penuh ujian. Tugas yang menumpuk, tekanan untuk segera lulus, dan kondisi kesehatan yang kadang menurun membuat pikiran terasa begitu berat.
Di tengah segala kesibukan dan kelelahan itu, ada satu hal yang selalu menjadi alasan saya untuk terus bertahan: ibu.
Sejak kecil, saya menyaksikan bagaimana ibu berjuang tanpa banyak mengeluh. Beliau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, meskipun sering kali harus mengorbankan kebahagiaan dan kenyamanannya sendiri. Karena itulah saya memiliki satu impian sederhana setelah lulus kuliah: mendapatkan pekerjaan yang baik, memperoleh penghasilan dari hasil kerja sendiri, lalu membahagiakan ibu.
Bagi sebagian orang, impian itu mungkin terdengar biasa. Namun bagi saya, itu adalah tujuan hidup yang sangat berharga.
Saya ingin melihat ibu tersenyum bangga ketika saya menerima gaji pertama. Saya ingin membantu meringankan beban hidupnya. Dan yang paling saya inginkan adalah mengajak ibu berziarah ke Tarim, Hadhramaut, sebuah kota yang selama ini hanya kami dengar dari cerita para ulama dan orang-orang saleh.
Tarim bukan sekadar sebuah kota bagi saya. Tarim adalah simbol harapan, doa, dan cita-cita yang selama ini saya simpan dalam hati. Saya membayangkan bisa berjalan bersama ibu di tanah yang penuh keberkahan itu, memanjatkan doa, dan mengucapkan rasa syukur atas perjalanan hidup yang telah kami lalui.
Namun akhir-akhir ini, ketika kondisi tubuh sering menurun dan kesehatan tidak selalu baik, saya mulai banyak merenung tentang kehidupan. Saya menyadari bahwa manusia hanya bisa merencanakan, sedangkan Allah yang menentukan segala sesuatu.
Karena itu, saya belajar untuk lebih menghargai waktu yang ada. Saya ingin terus berjuang menyelesaikan pendidikan ini dengan sebaik-baiknya. Saya ingin terus menjaga harapan bahwa suatu hari nanti saya bisa membahagiakan ibu sebagaimana yang selama ini saya impikan.
Jika saat ini saya masih diberi kesempatan untuk bernapas, belajar, dan berusaha, maka saya ingin memanfaatkannya sebaik mungkin. Sebab saya percaya bahwa setiap perjuangan yang dilakukan dengan niat baik tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah.
Hari ini saya mungkin masih seorang mahasiswa semester akhir yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi dan menghadapi berbagai tantangan hidup. Namun saya tetap menyimpan keyakinan bahwa di ujung jalan ini ada masa depan yang lebih baik.
Untuk ibu, terima kasih atas setiap doa yang tidak pernah putus. Terima kasih atas setiap pengorbanan yang mungkin tidak akan pernah bisa saya balas sepenuhnya.
Doakan saya agar diberikan kesehatan, kekuatan, dan kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan ini. Doakan saya agar suatu hari nanti saya bisa bekerja, membahagiakan ibu, dan mewujudkan impian kita berziarah ke Tarim, Hadhramaut.
Karena hingga hari ini, impian terbesar saya bukanlah tentang kesuksesan atau kekayaan. Impian terbesar saya adalah melihat ibu bahagia.