Rusia Kecewa AS Tak Tindak Lanjuti Kesepahaman Putin-Trump di Alaska
Rusia Kecewa AS Tak Tindak Lanjuti Kesepahaman Putin-Trump di Alaska. #newsupdate #update #news #text

Pemerintah Rusia menuding Amerika Serikat belum menindaklanjuti kesepahaman yang disebut tercapai dalam pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Presiden Donald Trump di Alaska pada Agustus tahun lalu.
Pernyataan itu menandai meningkatnya kekecewaan Moskow terhadap Washington, setelah selama beberapa bulan terakhir Kremlin berulang kali memuji upaya Trump dalam mendorong penyelesaian perang Rusia-Ukraina.
Dalam tiga hari terakhir, sejumlah pejabat tinggi Rusia secara terbuka menyampaikan kritik serupa. Mereka menilai AS belum menjalankan komitmen yang sebelumnya dibicarakan kedua pemimpin, meski tidak menjelaskan secara rinci isi kesepahaman tersebut.
Kritik itu muncul di tengah meningkatnya tensi perang. Ukraina dalam beberapa pekan terakhir memperluas serangan pesawat nirawak ke wilayah Rusia, termasuk menyerang sejumlah fasilitas energi. Di sisi lain, Rusia juga terus melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Ukraina.

Penasihat Kremlin Yuri Ushakov menjadi pejabat pertama yang secara terbuka menyinggung persoalan tersebut. Ia mengatakan hanya satu pihak yang masih berpegang pada kesepahaman yang dicapai dalam pertemuan Alaska.
"Hanya satu pihak yang tetap berkomitmen, sementara pihak lainnya tampaknya belum mampu menjalankan perannya," ujar Ushakov dikutip dari Reuters, Rabu (24/6).
Kritik serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Menurut dia, ada kemungkinan pertemuan tersebut hanya dimanfaatkan Amerika Serikat untuk membeli waktu guna memperkuat dukungan militer kepada Ukraina.
"Pertemuan itu mungkin hanya menjadi taktik untuk mengulur waktu sambil mempersenjatai kembali rezim Kyiv," kata Lavrov.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov juga menilai Washington mulai menjauh dari pemahaman yang sebelumnya dibangun dalam pertemuan Alaska.
Meski demikian, Ryabkov menegaskan Rusia masih membuka ruang dialog dengan Amerika Serikat.

Kekecewaan Rusia terhadap Washington
Sejak Trump kembali aktif mendorong upaya perdamaian Ukraina, Kremlin kerap menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan yang ditempuh presiden AS tersebut.
Di Rusia, sejumlah pejabat bahkan sempat menggunakan istilah "semangat Anchorage" untuk menggambarkan suasana positif pasca-KTT Alaska. Istilah itu merujuk pada harapan Moskow bahwa Washington memahami sejumlah tuntutan utama Rusia terkait penyelesaian perang di Ukraina.
Namun hubungan tersebut mulai menunjukkan keretakan setelah Trump dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa Ukraina masih memiliki peluang merebut kembali wilayah yang dikuasai Rusia.
Pernyataan itu dianggap bertentangan dengan harapan Moskow yang menginginkan pengakuan atas penguasaan wilayah tertentu sebagai bagian dari kesepakatan damai.
Analis politik dari Austria, Gerhard Mangott, menilai perubahan sikap Rusia mencerminkan meningkatnya tekanan yang dihadapi Moskow, baik di bidang militer maupun ekonomi.
Menurut dia, Kremlin juga meyakini serangan-serangan Ukraina ke wilayah Rusia mendapat dukungan dari negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat.
"Putin perlu menunjukkan kepada publik bahwa ia masih memiliki kartu untuk dimainkan," kata Mangott.
Senada, analis International Crisis Group Oleg Ignatov menilai Rusia kecewa karena tidak melihat adanya upaya mediasi yang serius dari Washington dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut dia, perhatian Amerika Serikat sempat teralihkan ke konflik lain sehingga proses diplomasi terkait Ukraina berjalan stagnan.
"Tidak ada proses diplomatik yang terstruktur, tidak ada proposal kesepakatan yang jelas. Pada dasarnya tidak ada perkembangan berarti," ujar Ignatov.
Ia menilai Rusia berharap Amerika Serikat kembali aktif terlibat dalam proses diplomasi untuk mencari jalan keluar perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun tersebut.