News Berita

Purbaya Luncurkan Bond Stabilization Fund Besok untuk Jaga Surat Utang Negara

Purbaya menyebut bond ini diluncurkan karena imbal hasil obligasi pemerintah terus naik yang memicu investor asing kabur. #bisnispudate #update #bisnis #text

Purbaya Luncurkan Bond Stabilization Fund Besok untuk Jaga Surat Utang Negara
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) didampingi Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kanan) dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) menyampaikan paparan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (5/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) didampingi Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kanan) dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) menyampaikan paparan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (5/5/2026). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan meluncurkan Bond Stabilization Fund (BSF) sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas pasar surat utang negara. Kebijakan ini disebut akan mulai dijalankan dalam waktu dekat, seiring dengan meningkatnya tekanan di pasar obligasi dalam beberapa bulan terakhir.

Purbaya menjelaskan, sebenarnya skema dana stabilisasi obligasi bukan hal baru di lingkungan pemerintah. Namun selama ini, instrumen tersebut tidak pernah benar-benar dijalankan secara aktif.

“Itu bukan hal yang baru Tapi nggak pernah jalanin. Artinya ada tapi mati. Sebetulnya udah ada tapi mati. Saya mau hidupin aja,” ujar Purbaya di Kebon Sirih, Rabu (6/5).

Berbeda dengan kerangka stabilisasi yang selama ini dikenal berada dalam koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Purbaya menegaskan bahwa dana ini merupakan inisiatif internal Kementerian Keuangan.

“Ini punya saya sendiri bukan frame, bukan. Bond Stabilization Fund punya Kementerian Keuangan,” katanya.

Langkah ini diambil di tengah tren kenaikan yield obligasi pemerintah sejak awal tahun. Purbaya menilai lonjakan yield yang cukup cepat dapat berdampak pada harga obligasi yang menurun, sehingga berpotensi memicu tekanan di pasar, terutama dari investor asing.

“Kalau Anda lihat dalam beberapa bulan terakhir. Ini kan dari Januari yield-nya kan naik jauh kenceng. Waktu saya inject uang sempat 5,9 kan, naik terus 6,1, sekarang 6,7 yield naik kan harganya bond jatuh,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penurunan harga obligasi akan memicu kerugian (capital loss) bagi investor. Dalam kondisi tertentu, hal ini bisa memaksa investor untuk melakukan penyesuaian portofolio, termasuk menjual kepemilikan mereka di pasar domestik.

“Asing yang punya bond di sini kan ada capital loss. Ada di sana aturan-aturan di lembaga investasi kalau loss sekian lo musti potong sekian. Jadi itu micu,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah berupaya menahan tekanan dengan menjaga harga obligasi melalui intervensi terbatas di pasar. Purbaya menilai, langkah ini cukup efektif untuk mencegah arus keluar dana asing dalam jumlah besar.

“Kalau saya jaga bond di bawah dengan jumlah cuman sedikit itu Nggak ada yang keluar,” katanya.

Terkait sumber pendanaan, Purbaya menegaskan dana untuk stabilisasi berasal dari anggaran pemerintah. Ia juga menilai tidak perlu koordinasi khusus dengan otoritas lain dalam pelaksanaannya, meskipun komunikasi tetap dilakukan.

“Anggarannya bisa dipakai macam-macam kan Kita ada anggaran,” ujarnya.

Meski demikian, ia menyebut koordinasi dengan bank sentral tetap akan dilakukan, terutama dalam implementasi teknis di pasar.

“Belum tau, tapi kita akan koordinasi dengan Bank Sentral. Kalau kemarin kan kita bilang koordinasi terus,” katanya terkait besaran intervensi.

Purbaya bahkan memastikan program ini akan segera berjalan. “Besok udah jalan,” tegasnya.

Melalui langkah ini, Kementerian Keuangan berharap dapat menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus menopang nilai tukar rupiah di tengah dinamika global.

“Saya akan coba bantu rupiah dengan cara saya sendiri,” ujar Purbaya.

Buka sumber asli