News Berita

Pulau Rempang, Kamp Interniran Tentara Jepang Pasca Perang Dunia II

Delapan puluh tahun lalu, Rempang dikosongkan untuk menampung tentara Jepang yang kalah perang. Sejarah yang nyaris terlupakan.

Pulau Rempang, Kamp Interniran Tentara Jepang Pasca Perang Dunia II
Tawanan Jepang menumpuk kulit kayu ke dalam sebuah tumpukan, Rempang, Oktober 1945. Sumber foto: National Army Museum, https://collection.nam.ac.uk/detail.php.
Tawanan Jepang menumpuk kulit kayu ke dalam sebuah tumpukan, Rempang, Oktober 1945. Sumber foto: National Army Museum, https://collection.nam.ac.uk/detail.php.

Pulau Rempang selama ini dikenal sebagai salah satu pulau di Kota Batam yang kerap menjadi perhatian karena berbagai isu pembangunan. Namun delapan puluh tahun lalu, Pulau Rempang memiliki sejarah yang jauh berbeda. Seusai Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, pulau ini dijadikan kamp interniran bagi ribuan tentara Jepang sebelum dipulangkan ke negaranya.

Sejarah ini nyaris terlupakan dalam historiografi Indonesia, meskipun jejaknya tersimpan dalam arsip militer Inggris, surat kabar Singapura, dan kesaksian para mantan interniran Jepang. Berakhirnya Perang Dunia II ternyata tidak langsung mengakhiri persoalan di kawasan Asia Tenggara. Sekutu menghadapi pekerjaan besar, yaitu mengurus puluhan ribu tentara Jepang yang tersebar di bekas wilayah pendudukannya. Mereka harus dilucuti, dikumpulkan, diberi makan, dijaga, dan kemudian dipulangkan ke Jepang. Dalam konteks itulah Pulau Rempang dipilih sebagai salah satu lokasi interniran.

Arsip National Army Museum di London mencatat bahwa lebih dari 100.000 tentara Jepang yang ditangkap di Malaya dan Singapura dikirim ke Pulau Rempang karena kamp-kamp lain tidak lagi mampu menampung mereka. Foto-foto koleksi museum memperlihatkan para tentara Jepang berada di atas kapal menuju Rempang pada September 1945 serta bekerja menebang pohon di pulau tersebut pada Oktober 1945. Dokumentasi ini memperlihatkan bahwa Rempang bukan sekadar tempat transit, melainkan sebuah kamp interniran berskala besar yang menjadi bagian penting dari proses repatriasi Jepang pascaperang.

Tentara Jepang di Rempang membangun pelabuhan, rumah penampungan, jalan dan fasilitas umum lainnya. Sumber: National Army Museum. URLhttps://collection.nam.ac.uk/detail.php
Tentara Jepang di Rempang membangun pelabuhan, rumah penampungan, jalan dan fasilitas umum lainnya. Sumber: National Army Museum. URLhttps://collection.nam.ac.uk/detail.php

Pilihan terhadap Rempang bukanlah kebetulan. Letaknya hanya sekitar 40 kilometer dari Singapura sehingga mudah diawasi oleh otoritas militer Inggris. Pada saat itu, sebagian besar wilayah pulau masih berupa hutan lebat dan berpenduduk relatif sedikit. Dari sudut pandang militer, kondisi tersebut dianggap ideal untuk mengisolasi para tentara Jepang sembari menunggu kapal-kapal yang akan membawa mereka pulang.

Warga Pulau Rempang Harus Mengungsi

Keputusan menjadikan Rempang sebagai penampungan membawa dampak pada masyarakat lokal. Surat kabar The Straits Times edisi 7 Oktober 1945 memberitakan sekitar 400 warga Melayu dan 600 warga Tionghoa diperintahkan meninggalkan Pulau Rempang hanya dalam waktu empat hari. Mereka dipindahkan ke Pulau Kepala Jeri yang letaknya di Kawasan Belakang Padang yang secara administrasi juga masuk wilayah Batam. Pemerintah militer Inggris memang menjanjikan makanan, pelayanan kesehatan, obat-obatan, dan kompensasi atas kebun serta ternak yang ditinggalkan. Warga Rempang menganggap kondisi ini sangat memilukan karena harus meninggalkan kampung halaman yang telah dihuni turun-temurun.

Kesedihan warga tidak hanya soal rumah yang ditinggalkan, tetapi juga seluruh sumber penghidupan mereka. Orang Melayu dan Tionghoa di Rempang hidup dari kelong ikan, kebun karet, kelapa, gambir, serta ternak. Dalam salah satu kisah yang dicatat Beck Swee Hoon, wartawan The Strait Times, seorang warga Tionghoa meminta tentara Inggris membeli ternak babinya karena ia tidak sanggup membawa hewan-hewan itu ke pengungsian.

Surat kabar Indian Daily Mail edisi 18 Februari 1946 menunjukkan bahwa sedikitnya 18 kampung di Pulau Rempang memperoleh kompensasi atas pengosongan tersebut. Kampung-kampung seperti Sembulang, Seranggong, Goba, Rempang, Sungai Atih, hingga Klingking menjadi bagian dari kebijakan militer Inggris untuk mengosongkan pulau sebelum kedatangan para tentara Jepang. Fakta ini memperlihatkan bahwa masyarakat lokal merupakan pihak yang harus menanggung konsekuensi langsung dari dinamika geopolitik internasional yang sama sekali tidak mereka ciptakan.

Kehidupan Tentara Jepang di Pulau Rempang

Kehidupan para tentara Jepang di Rempang sendiri juga jauh dari nyaman. Dalam artikel "A Wartime Friendship", Carlos Gaspar dan Eriko Ogihara-Schuck (2026) menjelaskan bahwa mantan hakim militer Jepang, Yoshiya Mita, ditahan selama sekitar enam bulan di Rempang sebelum dipulangkan ke Jepang. Dalam memoarnya The Northern Star and Orion (1959), Mita menggambarkan masa-masa di Rempang sebagai periode yang "totally inconsolable" atau sangat menyedihkan. Ia hidup dalam ketidakpastian mengenai masa depan Jepang maupun nasib dirinya sendiri.

Kesaksian yang lebih keras datang dari veteran Jepang Masayuki Arase. Ia menggambarkan kehidupan di Rempang sebagai neraka. Para interniran mengalami kelaparan dan kekurangan gizi yang parah hingga terpaksa memakan tikus, kadal, dan apa saja yang dapat ditemukan. Tidak sedikit yang meninggal akibat penyakit maupun keracunan makanan. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa Rempang merupakan ruang penderitaan Bersama baik bagi masyarakat lokal yang kehilangan kampung halamannya maupun bagi tentara Jepang yang menunggu kepulangan dalam kondisi mengenaskan.

Kisah tentang Jepang di Rempang pernah muncul dalam majalah Tempo edisi 2 September 1978. Laporan tersebut menyebut bahwa sejumlah mantan tentara Jepang di Tokyo menyimpan kerinduan untuk kembali mengunjungi Rempang karena pulau itu pernah menjadi tempat mereka bertahan hidup setelah kekalahan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya.

Laporan itu juga menyebut jumlah tentara Jepang yang pernah ditampung di Rempang mencapai sekitar 27.000 orang dari berbagai front di Indonesia, Singapura, Malaya, dan Thailand. Perbedaan angka dengan arsip National Army Museum menunjukkan bahwa sejarah Rempang masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk merekonstruksi jumlah interniran secara lebih akurat.

Sejarah Rempang memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia tidak hanya dibentuk oleh pertempuran merebut kemerdekaan, tetapi juga oleh peristiwa-peristiwa global yang menjangkau pulau-pulau kecil di kawasan perbatasan. Di pulau inilah kepentingan militer Sekutu, kekalahan Jepang, dan kehidupan masyarakat Melayu bertemu dalam satu ruang yang sama.

Delapan puluh tahun telah berlalu. Kamp-kamp interniran itu telah lama hilang ditelan hutan dan pembangunan. Namun, ingatan sejarahnya tidak seharusnya ikut menghilang. Mengingat kembali Rempang bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menyadarkan kita bahwa sebuah pulau kecil di Kepulauan Riau pernah menjadi bagian dari sejarah dunia. Memahami sejarah seperti ini penting agar kita melihat Rempang bukan hanya sebagai ruang pembangunan, tetapi juga sebagai ruang memori yang menyimpan pengalaman manusia, penderitaan, dan jejak perang yang pernah mengguncang Asia Tenggara.

Buka sumber asli