News Berita

Pita Duka IDI NTT untuk Kenang Dokter Icha

Pita Duka IDI NTT untuk Kenang Dokter Icha #newsupdate #update #news #text

Pita Duka IDI NTT untuk Kenang Dokter Icha
Perwakilan IDI Wilayah NTT, dr. RoIcha Louk. Foto: kumparan
Perwakilan IDI Wilayah NTT, dr. RoIcha Louk. Foto: kumparan

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mengajak seluruh dokter di daerah itu mengenakan pita hitam selama tujuh hari sebagai bentuk penghormatan terakhir dan solidaritas atas wafatnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha.

Aksi solidaritas tersebut dimulai pada 29 Juni hingga 5 Juli 2026, bertepatan dengan prosesi pemakaman almarhumah dr. Icha.

Selain mengenakan pita hitam di lengan kanan, para dokter juga diimbau mengenakan jas dokter saat menghadiri ibadah dan prosesi pemakaman di Perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Senin (29/6/2026).

Perwakilan IDI Wilayah NTT, dr. RoIcha Louk, mengatakan imbauan tersebut merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada dr. Icha sekaligus ungkapan belasungkawa dari seluruh komunitas dokter di NTT.

“Sebagai bentuk penghormatan terakhir dan ungkapan solidaritas kepada sejawat tercinta, dr. Icha, kami mengimbau seluruh anggota Ikatan Dokter Indonesia untuk bersama-sama mengikuti seruan ini,” ujarnya.

Menurut dia, kehadiran para sejawat dalam prosesi pemakaman tidak hanya menjadi penghormatan bagi almarhumah, tetapi juga sebagai dukungan moral bagi keluarga yang sedang berduka.

IDI NTT menyampaikan tiga bentuk partisipasi yang diharapkan dari para anggotanya, yakni menghadiri prosesi pemakaman, mengenakan jas dokter selama kegiatan berlangsung, serta memakai pita hitam di lengan kanan selama tujuh hari, mulai 29 Juni hingga 5 Juli 2026.

“Kehadiran dan kebersamaan sejawat merupakan penghormatan terakhir bagi almarhumah sekaligus dukungan bagi keluarga yang ditinggalkan,” katanya.

Melalui seruan tersebut, IDI NTT berharap solidaritas di kalangan tenaga medis tetap terjaga sekaligus menjadi penghormatan yang layak bagi dr. Icha atas pengabdiannya sebagai seorang dokter.

Diintimidasi Anggota DPRD

Pita hitam untuk kenang Dokter Icha. Foto: kumparan
Pita hitam untuk kenang Dokter Icha. Foto: kumparan

Sebelum meninggal dunia, dr. Icha menjadi sorotan setelah diduga mengalami intimidasi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu ketika menangani seorang pasien anak korban gigitan ular berbisa.

Paman almarhumah, Victor Manbait, menyatakan seluruh tindakan medis yang dilakukan dr. Icha telah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit serta arahan dokter spesialis yang menangani kasus gigitan ular.

Namun, menurut keluarga, situasi memanas ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang dinilai belum direkomendasikan secara medis dan tidak tersedia di rumah sakit.

Victor mengatakan dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU kemudian mendatangi ruang pelayanan dan mempertanyakan penanganan medis dengan nada tinggi. Salah seorang di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dr. Icha saat meminta penjelasan.

Menurut Victor, peristiwa tersebut meninggalkan trauma dan tekanan psikologis yang mendalam bagi almarhumah.

“Dokter Icha mengaku masih ketakutan dan mengalami tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” ujar Victor.

Anggota DPRD Membantah Melakukan Intimidasi

Suasana rumah duka dokter Icha di Baumata, Kupang, NTT, Senin (29/6/2026). Foto: kumparan
Suasana rumah duka dokter Icha di Baumata, Kupang, NTT, Senin (29/6/2026). Foto: kumparan

Dua anggota DPRD TTU yang disebut dalam peristiwa tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi terhadap dr. Icha maupun tenaga kesehatan lainnya.

Therensius mengakui sempat berbicara dengan nada tinggi karena situasi saat itu berlangsung dalam kondisi panik, namun menegaskan hal tersebut bukan merupakan bentuk intimidasi.

Sementara itu, Norbertus menyatakan dirinya bersama Therensius hanya meminta penjelasan mengenai kondisi pasien. Setelah memperoleh penjelasan dari dokter, keduanya mengaku menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada Direktur RS Leona, dokter, dan tenaga kesehatan yang sedang bertugas.

Di sisi lain, anggota DPRD TTU Veronika Lake juga memberikan klarifikasi terkait namanya yang dikaitkan dengan peristiwa di RS Leona Kefamenanu pada 13 Juni 2026.

Veronika menegaskan kehadirannya di rumah sakit bukan merupakan kunjungan yang direncanakan, melainkan hanya ikut singgah bersama rombongan anggota DPRD untuk menjenguk pasien korban gigitan ular berbisa.

Ia mengaku baru memasuki ruang perawatan setelah melihat perdebatan antara dua anggota DPRD dan seorang dokter telah berlangsung. Menurutnya, dirinya hanya menanyakan perkembangan penanganan pasien dan standar pelayanan rumah sakit.

Veronika juga meluruskan pernyataannya yang sempat menjadi sorotan, yakni “panggil wartawan saja”. Menurutnya, ucapan tersebut dimaksudkan sebagai usulan agar pelayanan rumah sakit mendapat perhatian publik demi evaluasi dan perbaikan, bukan ditujukan kepada dr. Icha secara pribadi.

Ia menambahkan persoalan tersebut telah diselesaikan melalui penjelasan manajemen rumah sakit, sementara dua anggota DPRD yang terlibat juga telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak rumah sakit dan dr. Icha.

Veronika menyatakan menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan siap memberikan keterangan apabila diminta penyidik. Ia juga kembali menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhumah.

Kasus meninggalnya dr. Icha kini menjadi perhatian luas masyarakat NTT karena dinilai berkaitan dengan perlindungan tenaga kesehatan dalam menjalankan profesinya serta pentingnya komunikasi yang baik antara tenaga medis dan keluarga pasien dalam situasi darurat.

Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya dr. Icha masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.

Buka sumber asli