News Berita

Peternak Soloraya Mandi Telur, Protes Harga Ayam dan Telur Anjlok

Peternak Soloraya Mandi Telur, Protes Harga Ayam dan Telur Anjlok #newsupdate #update #news #text

Peternak Soloraya Mandi Telur, Protes Harga Ayam dan Telur Anjlok
Puluhan peternak ayam pedagang dan petelur Solo Raya melakukan aksi damai menyikapi harga pakan ternak yang mahal dan rendahnya harga jual telur di kawasan Gladak, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026).  Foto: Dok. kumparan
Puluhan peternak ayam pedagang dan petelur Solo Raya melakukan aksi damai menyikapi harga pakan ternak yang mahal dan rendahnya harga jual telur di kawasan Gladak, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026). Foto: Dok. kumparan

Puluhan peternak ayam pedaging dan petelur di Soloraya menggelar aksi damai mandi telur dan bagi-bagi ayam di Bundaran Gladak, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Selasa (7/7).

Aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes atas anjloknya harga pokok produksi (HPP) telur dan ayam saat ini.

Pantauan kumparan, aksi dimulai dengan orasi secara bergantian oleh para peternak. Mereka juga membawa spanduk bertuliskan "Suara Rakyat Suara Sejati, Ganti Segera Mentan dan Bentuk Kementerian Peternakan".

Setelah orasi, mereka membagikan puluhan ekor ayam broiler kepada pengguna jalan. Aksi ditutup dengan mandi telur di atas bak mobil pikap dan membagikan ratusan telur kepada warga serta pengguna jalan.

Puluhan peternak ayam pedagang dan petelur Solo Raya melakukan aksi damai menyikapi harga pakan ternak yang mahal dan rendahnya harga jual telur di kawasan Gladak, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026).  Foto: Dok. kumparan
Puluhan peternak ayam pedagang dan petelur Solo Raya melakukan aksi damai menyikapi harga pakan ternak yang mahal dan rendahnya harga jual telur di kawasan Gladak, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026). Foto: Dok. kumparan

Anggota Gabungan Peternak Rakyat Soloraya, Parjuni, mengatakan kondisi saat ini harga ayam maupun telur jatuh serendah-rendahnya.

“Jadi ayam hidup itu sampai mencapai Rp 13.000 per kilogram. Terus telur mencapai Rp 17.000-Rp 18.000 per kilogram dari peternak. Sudah dua bulan ini peternak Soloraya rugi dan ruginya nggak main-main, sampai ratusan juta juga bahkan kalau yang besar saya yakin mencapai angka miliaran," ujar Parjuni, Selasa (7/7).

Puluhan peternak ayam pedagang dan petelur Solo Raya melakukan aksi damai menyikapi harga pakan ternak yang mahal dan rendahnya harga jual telur di kawasan Gladak, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026).  Foto: Dok. kumparan
Puluhan peternak ayam pedagang dan petelur Solo Raya melakukan aksi damai menyikapi harga pakan ternak yang mahal dan rendahnya harga jual telur di kawasan Gladak, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026). Foto: Dok. kumparan

Dia mengatakan aksi ini merupakan puncak kekecewaan peternak. Terlebih, persoalan ini selalu terjadi setiap tahunnya dan tidak ada solusi dari Kementan.

“Kami menggelar aksi membagikan sekitar 50 kg telur dan ratusan ayam hidup untuk warga yang melintas di sekitar lokasi. Peternak juga melakukan aksi mandi telur dengan puluhan telur mentah,” katanya.

Dia mengatakan saat harga telur dan ayam jatuh, harga pakan ayam berupa jagung justru naik. Acuan harga jagung saat ini Rp 5.500/kg.

Ia berharap aksi tersebut diterima pemerintah dan menjadi perhatian untuk memperbaiki kebijakan ke depan. Salah satunya terkait regulasi impor GPS (Grand Parent Stock) atau bibit induk ayam tingkat tertinggi yang dinilai berpengaruh besar terhadap suplai dua tahun ke depan.

"Harapan saya suara ini sampai ke pemerintah, karena memang ini kebijakan pemerintah yang belum tegas diterapkan,” kata dia.

Anggota Peternak Rakyat Solo Raya mandi telur saat aksi damai menyikapi harga pakan ternak yang mahal dan rendahnya harga jual telur di kawasan Gladak, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026). Foto: Maulana Surya/ANTARA FOTO
Anggota Peternak Rakyat Solo Raya mandi telur saat aksi damai menyikapi harga pakan ternak yang mahal dan rendahnya harga jual telur di kawasan Gladak, Solo, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2026). Foto: Maulana Surya/ANTARA FOTO

Ia mengatakan Mentan Amran Sulaiman juga tidak boleh lagi membuka kuota impor Grand Parent Stock (GPS) broiler (ayam pedaging). Hal itu dinilai memengaruhi suplai dua tahun berikutnya.

“Jadi prediksinya sudah tahu mau berapa kebutuhannya sudah diketahui. Kemudian keseimbangan suplai demand ini harus ada karena apa? Kebutuhan ini kan sudah ada di BPS, otomatis disesuaikan dengan itu," kata dia.

Ia berharap kondisi harga yang anjlok ekstrem saat ini tidak kembali terjadi ke depan.

"Sekarang untuk petelur itu sudah Rp 23.000 per kilogram. Jadi harganya harus di atas itu," kata dia.

Koordinator Lapangan, Chris Handrika Imanuel Raharjo, mengatakan aksi damai tersebut juga sebagai bentuk protes atas naiknya harga pakan. Jika Kementerian Pertanian saat ini tidak bisa menyelesaikan masalah, ia berharap pemerintah membentuk Kementerian Peternakan.

"Kalau memang Kementerian Pertanian nggak bisa melindungi peternak, mohon dibentuk Kementerian Peternakan. Karena peternakan di Indonesia sungguh-sungguh sangat besar, terlalu besar hanya menjadi pekerjaan sampingan dari Menteri Pertanian,” pungkasnya.

Buka sumber asli