News Berita

Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Capai 8,39% pada Kuartal II 2026

Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Capai 8,39% pada Kuartal II 2026 #bisnisupdate #update #bisnis #text

Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Capai 8,39% pada Kuartal II 2026
Ilustrasi pelabuhan Vietnam. Foto: Nhac Nguyen/AFP
Ilustrasi pelabuhan Vietnam. Foto: Nhac Nguyen/AFP

Pertumbuhan ekonomi Vietnam melampaui perkiraan pada kuartal II 2026, sementara perdagangan tumbuh lebih cepat dari ekspektasi pada Juni dan inflasi melambat.

Dikutip dari Bloomberg pada Jumat (3/7), capaian ini menunjukkan salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia tersebut masih mampu bertahan di tengah risiko tarif Amerika Serikat (AS) dan lonjakan harga energi.

Produk domestik bruto (PDB) Vietnam tumbuh 8,39 persen pada periode April-Juni 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, berdasarkan data Kantor Statistik Nasional di Hanoi yang dirilis pada Jumat (3/7). Angka tersebut lebih tinggi dari median proyeksi analis yang disurvei Bloomberg sebesar 7 persen.

Pertumbuhan itu juga melampaui capaian kuartal I yang direvisi menjadi 7,94 persen dari sebelumnya 7,83 persen.

"Sektor manufaktur menjadi pendorong utama perekonomian secara keseluruhan," tulis Kantor Statistik Nasional di situs resminya.

Kantor Statistik Nasional Vietnam menyebut kinerja ditopang oleh pemulihan pesanan ekspor dan dampak positif dari investasi publik.

Data yang lebih baik dari perkiraan menunjukkan ancaman tarif tambahan dari AS dan guncangan harga energi akibat konflik di Timur Tengah sejauh ini belum menggagalkan target ambisius Vietnam untuk mencatat pertumbuhan ekonomi dua digit pada 2026.

Sebagai sinyal positif, total realisasi investasi asing yang terdaftar hingga akhir Juni mencapai USD 34,65 miliar atau meningkat 61 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Aktivitas ekonomi juga terus meningkat di berbagai sektor, terutama manufaktur yang mendapat dorongan dari tingginya permintaan perangkat keras berbasis kecerdasan buatan (AI) serta derasnya arus investasi asing langsung (FDI).

Analis Maybank Securities di Singapura, Brian Lee, mengatakan sektor manufaktur Vietnam memperoleh manfaat besar dari tren tersebut.

Orang-orang mengendarai sepeda motor di depan rumah-rumah tua yang sedang dihancurkan di Hanoi (6/1/2025). Foto: Nhac NGUYEN/AFP
Orang-orang mengendarai sepeda motor di depan rumah-rumah tua yang sedang dihancurkan di Hanoi (6/1/2025). Foto: Nhac NGUYEN/AFP

"Manufaktur memperoleh manfaat dari permintaan perangkat keras yang didorong AI dan masuknya FDI. Vietnam juga mencatat sejumlah keberhasilan penting dalam investasi terkait semikonduktor belakangan ini, yang semakin menunjukkan bahwa negara tersebut mulai naik ke rantai nilai yang lebih tinggi," ujarnya.

Adapun, ekspor Vietnam pada Juni melonjak 28,1 persen, jauh di atas perkiraan sebesar 20 persen. Sementara itu, impor naik 45,2 persen, melampaui estimasi sebesar 35 persen.

Bank sentral Vietnam pada Kamis (2/7) menyatakan bakal terus memperluas akses pembiayaan melalui kredit, dengan memprioritaskan sektor-sektor yang menjadi motor pertumbuhan, meskipun tetap mewaspadai tekanan inflasi.

Vietnam masih menjadi eksportir utama berbagai produk mulai dari sepatu hingga komponen mesin. Namun, penerapan tarif pada 2025 dan guncangan harga energi pada tahun ini menjadi tantangan bagi model pertumbuhan ekonominya.

Data terbaru menunjukkan berbagai strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan mulai membuahkan hasil. Meski demikian, pemerintah pekan lalu mengakui Vietnam masih menghadapi banyak tantangan untuk mencapai target pertumbuhan minimal 10 persen pada 2026.

Perdana Menteri, Le Minh Hung, telah menginstruksikan kementerian terkait dan bank sentral untuk menjalankan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih ekspansif secara terarah guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 11,9 persen pada semester II 2026 agar target pertumbuhan 10 persen sepanjang tahun dapat tercapai.

Secara kumulatif, ekonomi Vietnam tumbuh 8,18 persen pada enam bulan pertama hingga Juni. Di sisi lain, inflasi juga mulai mereda. Indeks harga konsumen Vietnam naik 4,69 persen pada Juni dibandingkan tahun sebelumnya, lebih rendah dari kenaikan 5,60 persen pada Mei.

Pemerintah juga menargetkan inflasi tak melebihi 4,5 persen tahun ini, meski bank sentral sebelumnya memperkirakan inflasi bisa mencapai 5,5 persen.

Kantor Statistik Nasional juga mencatat Vietnam membukukan surplus perdagangan dengan AS sebesar USD 75,3 miliar pada enam bulan pertama tahun ini, meningkat 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Buka sumber asli