News Berita

Pengusaha Sebut Penguatan Rupiah Beri Ruang Napas bagi Pelaku Usaha

Penguatan nilai tukar rupiah dinilai memberi ruang napas bagi pelaku usaha dalam menahan kenaikan biaya input dan menjaga margin bisnis agar tidak tertekan.#bisnisupdate #update #bisnis #text

Pengusaha Sebut Penguatan Rupiah Beri Ruang Napas bagi Pelaku Usaha
Direktur Sintesa Group sekaligus Ketua Aliansi UN GISD Shinta Kamdani menjadi pembicara saat sesi panel memajukan dekarbonisasi industri pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di JICC, Jakarta, Sabtu (11/10/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
Direktur Sintesa Group sekaligus Ketua Aliansi UN GISD Shinta Kamdani menjadi pembicara saat sesi panel memajukan dekarbonisasi industri pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2025 di JICC, Jakarta, Sabtu (11/10/2025). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Penguatan nilai tukar rupiah beberapa waktu terakhir dinilai memberi ruang napas bagi pelaku usaha di tengah tekanan biaya yang masih membayangi aktivitas bisnis. Rupiah sendiri ditutup menguat ke level Rp 17.860 pada perdagangan Jumat (12/6).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengatakan penguatan ini menjadi perkembangan positif yang memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam menyusun perencanaan bisnis.

Nilai tukar yang stabil akan membantu perusahaan menghitung biaya produksi, pengadaan bahan baku, penetapan harga produk, pengelolaan arus kas, hingga pengambilan keputusan strategis lainnya.

“Sejauh ini, penguatan rupiah berpotensi memberi ruang bernapas bagi pelaku usaha, terutama dalam menahan kenaikan biaya input dan menjaga margin agar tidak semakin tertekan,” kata Shinta kepada kumparan, Sabtu (13/6).

Tidak Semua Sektor Berdampak

Meski demikian, Shinta mengingatkan dampaknya tidak serta-merta merata di seluruh sektor usaha. Sebab, tekanan biaya yang dihadapi pelaku usaha berasal dari berbagai faktor, bukan hanya nilai tukar.

Sektor manufaktur, misalnya, masih menghadapi tantangan besar akibat tingginya ketergantungan pada bahan baku dan barang antara impor. Di sisi lain, biaya logistik, energi, dan pembiayaan juga masih menjadi beban yang signifikan.

“Jadi, penguatan rupiah membantu meredakan tekanan, tetapi belum otomatis menghapus seluruh beban biaya yang selama ini dihadapi dunia usaha,” ujarnya.

Perusahaan dengan kebutuhan impor rutin maupun kewajiban valuta asing kini bisa sedikit lega karena tekanan terhadap arus kas mereka menjadi lebih ringan.

Aktivitas bongkar muat kontainer berlangsung di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (16/9/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto
Aktivitas bongkar muat kontainer berlangsung di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (16/9/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/Antara Foto

Namun, dunia usaha tetap membutuhkan stabilitas berkelanjutan, bukan sekadar penguatan sesaat, karena volatilitas nilai tukar yang tinggi tetap menyulitkan perencanaan bisnis jangka panjang.

Untuk menjaga keberlanjutan operasional, pelaku usaha terus melakukan berbagai mitigasi. Beberapa strategi yang ditempuh antara lain meningkatkan efisiensi operasional, mengendalikan biaya non-esensial, memperkuat manajemen persediaan, serta menyesuaikan sumber pasokan.

Sejumlah perusahaan juga memilih menunda ekspansi atau investasi baru yang belum mendesak, sembari fokus memperkuat diversifikasi pasar dan rantai pasok.

Sebagian perusahaan sebenarnya memanfaatkan strategi lindung nilai (hedging) untuk mengelola risiko kurs. Namun, instrumen tersebut sulit diakses oleh pelaku usaha kecil dan menengah karena membutuhkan biaya tambahan dan kapasitas keuangan tertentu.

Shinta berharap momentum penguatan rupiah ini dapat terus terjaga melalui koordinasi kebijakan yang kredibel antara pemerintah dan otoritas moneter.

“Bagi dunia usaha, stabilitas makro perlu berjalan beriringan dengan perbaikan iklim usaha, efisiensi logistik dan energi, serta kepastian regulasi agar pemulihan industri dan investasi dapat berlangsung lebih kuat,” jelasnya.

Buka sumber asli