Patriarki dalam Rumah Tangga: Istri Lelah Mental, Anak Jadi Korban
Pembaca akan mengetahui ciri-ciri pasangan yang patriarki, cara menghadapi pasangan yang patriarki, dan dampak patriarki bagi anak.

Dalam banyak kasus, sikap patriarki itu berawal dari pemahaman yang keliru tentang konsep “kepala keluarga”. Banyak laki-laki merasa kalau mereka sudah memberikan kebutuhan finansial, maka mereka dapat mengontrol segala hal dan menyebabkan munculnya omongan “Gue yang nyari duit, lo tinggal nurut aja”. Padahal, di era sekarang ini sudah banyak istri yang juga bekerja dan mandiri secara finansial.
Karena cara pandang patriarki yang masih ada, suami menganggap pekerjaan domestik, seperti mencuci, memasak, menjaga anak itu hanya pekerjaan istri saja. Ada juga laki-laki yang sengaja membuat diri mereka kelihatan tidak becus untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Cara ini sukses membuat suami lepas dari tanggung jawab secara halus dengan alasan “aku kan ga bisa ngerjain yang kaya gini”. Padahal, memang mereka hanya malas untuk belajar bersama. Akhirnya istrilah yang mengerjakan itu semua.
Saat istri mengeluh capek karena harus mengerjakan pekerjaan kantor dan juga pekerjaan rumah, kalimat yang sering dipakai oleh pasangan patriarki itu, “Kamu kok ga bersyukur sih” atau “ibu aku dulu bisa kok ngurus anak sendirian, masa kamu ga bisa”. Kalimat-kalimat seperti itu akan membuat istri merasa bersalah dan ujung-ujungnya istri akan memilih diam dan memendam semuanya sendiri karena rasa bersalah itu.
Kalau suami masih memelihara ego patriarki dan tidak membolehkan istri untuk bekerja, hanya mengandalkan sumber penghasilan dari suami, maka itu akan sangat berisiko. Sama saja seperti mempersempit urusan ekonomi keluarga kita sendiri. Padahal, jika suami istri itu jadi partner yang setara, saling bantu untuk mencari uang dan membagi tugas rumah itu akan membantu keuangan keluarga akan menjadi lebih aman.
Sadar atau tidak, budaya patriarki itu sebenarnya juga menyiksa laki-laki. Dari kecil, mereka sering dituntut untuk selalu kelihatan kuat, tidak boleh nangis, dan wajib menjadi tulang punggung. Makanya, saat melihat istrinya punya karier yang lebih bagus mereka langsung merasa harga diri nya itu terancam.
Pola pikir seperti ini akhirnya menciptakan jarak hubungan antara suami istri. Makanya, penting untuk kita mengetahui apakah pasangan kita termasuk orang yang patriarki atau bukan.
Ciri-Ciri Pasangan yang Patriarki
Merasa memiliki hak mutlak atas semua keputusan (keuangan, karier istri, bahkan sampai ke lingkungan pertemanan).
Menganggap urusan domestik (memasak, mencuci, menjaga atau mendidik anak) itu hanya tugas istri.
Selalu menyepelekan dan jarang mendengarkan pendapat istri.
Cara Menghindari Pasangan Patriarki Bagi yang Belum Menikah
Kunci utama untuk menghindari pasangan patriarki itu balik lagi ke cara kita komunikasi dan seberapa kuat prinsip hidup kita. Caranya itu dengan melakukan obrolan-obrolan (deep talk) yang dimulai dari sebelum menikah. Di momen ini, kita membicarakan visi dan misi yang kita inginkan, tidak usah gengsi saat menyampaikannya. Contoh dari obrolannya bisa seperti ini:
“setelah kita menikah, aku masih bisa kerja atau ngga? “
“gimana nih pembagian urusan rumah?”.
Urusan keuangan juga jangan sampai tidak dibahas. Gimana cara kita mengatur uang keluarga itu harus dibahas dari awal, agar tidak ada yang merasa paling berkuasa atas uang tersebut hanya karena paling banyak menghasilkan uang itu.
Dari cara dia merespons dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut pasti akan terlihat dia termasuk patriarki atau tidak. Kalau saat membahas hal tersebut dia marah, tersinggung atau bilang “nanti aja diaturnya setelah kita nikah” maka kamu wajib waspada.
Cara Menghadapi Pasangan Patriarki Bagi yang Sudah Menikah
Kalau posisinya sudah terlanjur sah menjadi suami istri, maka kita sebagai istri harus membuat batasan diri yang jelas. Sebagai istri, kita harus tegas dan jujur dengan hal-hal yang membuat kita merasa tidak nyaman dan merasa tidak dihargai.
Selain komunikasi, pertahanan paling kuat untuk perempuan itu adalah punya penghasilan sendiri. Ketika kita punya penghasilan sendiri, maka ruang untuk pasangan bisa mengatur kita karena ekonomi akan menjadi sempit.
Nah, bagaimana jika sifat seperti itu ada karena pola asuh dari orang tuanya? pasti akan membutuhkan waktu lama jika sifat ini ada karena pola asuh. Maka dari itu kita bisa mulai mengajari dia pelan-pelan lewat contoh nyata di kehidupan sehari-hari, seperti,mengajak dia untuk mengerjakan urusan domestik secara bertahap, mulai dari mencuci piring atau gantian untuk menjaga anak. Lewat proses seperti ini akan membuat ego suami memudar secara perlahan dan sadar bahwa pernikahan itu akan menjadi bahagia jika dilakukan secara bersama.
Tantangan terbesar menghadapi pasangan yang patriarki itu bukan dari dirinya sendiri aja, tetapi bisa juga dari keluarga atau bahkan lingkungan pertemanan suami. Ketika mereka ingin bantu-bantu di rumah, pasti ada aja kalimat yang diucapkan, seperti “kok mau sih disuruh-suruh nyuci piring”, “wah suami takut istri nih”.
Akibatnya, suami yang sudah mau menurunkan ego nya dan mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah tidak jadi karena gengsi akibat mendengar omongan-omongan tersebut.
Dampak Patriarki Terhadap Anak
Dampak dari patriarki itu bisa merusak mental anak. Anak perempuan yang menjadi korban akan gampang terjebak di hubungan yang toxic, dikarenakan sering melihat ibunya mengalah dan dikekang yang menyebabkan anak perempuan tersebut berpikir bahwa diperlakukan tidak adil oleh laki-laki adalah hal yang wajar.
Selain itu, anak laki-laki yang menjadi korban akan sulit mengungkapkan rasa emosi nya, karena dari kecil mereka dilarang menangis dan tidak boleh kelihatan lemah. Akibatnya mereka menjadi gampang stres, dan menjadi gampang marah karena banyak emosi yang dipendam. Ditambah lagi, jika mereka terbiasa melihat hanya ibunya yang melakukan pekerjaan rumah sementara ayah hanya diam saja, bisa saja mereka akan meniru cara yang seperti itu untuk memperlakukan perempuan.
Banyak yang salah paham dan mengira kalau istri protes soal masalah patriarki itu mereka ingin memberontak atau merebut posisi kepala keluarga, padahal tidak seperti itu. Mereka ingin membangun hubungan kerja sama yang setara dalam keluarga. Ketika beban rumah tangga dijalani berdua, tekanan yang dialami oleh suami sebagai tulang punggung keluarga juga akan berkurang.
Coba kalian bayangkan, jika menjalani rumah tangga tanpa budaya patriarki itu, pasti sangat nyaman kan? Kalian bisa saling curhat dan mendiskusikan masa depan anak tanpa takut pendapat kalian tidak akan didengar atau pasangan akan tersinggung.