Pakar: Jika Rupiah Terus Melemah, Industri Otomotif Bisa Terancam
Ketika rupiah makin jeblok, bisa memberikan tekanan yang jauh lebih serius bagi industri otomotif dibandingkan kondisi saat ini. #kumparanOTO

Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi membawa dampak yang lebih besar bagi industri otomotif jika rupiah terus melemah dan menembus level Rp18.000 per dolar AS. Kondisi tersebut dinilai bisa mengganggu keseimbangan antara harga jual, permintaan pasar, hingga profitabilitas pelaku industri.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, menyebut skenario tersebut akan memberikan tekanan yang jauh lebih serius dibandingkan kondisi saat ini. Terlebih jika pelemahan berlangsung dalam periode yang cukup lama.
“Jika rupiah sampai menembus Rp18.000 per dolar AS dan bertahan cukup lama, dampaknya akan jauh lebih serius,” kata Josua kepada kumparan, Senin (1/5/2026).
Ia menjelaskan, produsen dan distributor akan dihadapkan pada dilema antara menaikkan harga jual atau mempertahankan harga dengan konsekuensi penurunan margin. Kedua pilihan tersebut sama-sama memiliki risiko terhadap keberlangsungan bisnis.

“Produsen dan distributor kemungkinan harus memilih antara menaikkan harga jual atau menahan kenaikan harga dengan mengorbankan laba usaha,” kata Josua.
Menurutnya, jika harga kendaraan dinaikkan, maka potensi penurunan permintaan akan semakin besar, terutama di segmen menengah. Sebaliknya, jika harga ditahan, tekanan akan langsung terasa pada sisi keuntungan pelaku industri.
“Kalau harga dinaikkan, permintaan mobil baru bisa turun lebih tajam, terutama di segmen menengah. Kalau harga tidak dinaikkan, laba dealer, distributor, dan produsen akan tertekan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kendaraan dengan ketergantungan impor tinggi akan menjadi yang paling cepat terdampak. Termasuk di dalamnya mobil premium dan kendaraan listrik yang masih mengandalkan komponen dari luar negeri.

“Produk impor utuh, mobil premium, mobil dengan komponen impor besar, dan kendaraan listrik yang masih bergantung pada baterai atau komponen elektronik impor akan paling cepat terdampak,” ungkapnya.
Dalam kondisi tersebut, strategi bisnis pelaku industri juga akan berubah. Sejumlah langkah penyesuaian kemungkinan dilakukan untuk menjaga stabilitas operasional.
“Dalam kondisi seperti itu, peluncuran model baru bisa ditunda, diskon bisa dikurangi, stok kendaraan bisa dikelola lebih ketat, dan perusahaan pembiayaan akan lebih berhati-hati karena risiko gagal bayar meningkat,” paparnya.

Dampaknya juga tidak hanya dirasakan oleh calon pembeli, tetapi juga pemilik kendaraan yang sudah ada. Pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan biaya kepemilikan kendaraan secara keseluruhan.
“Dampaknya tidak berhenti pada masyarakat yang menahan uang untuk membeli kendaraan. Pelemahan rupiah juga dapat menaikkan harga suku cadang dan biaya perawatan,” jelas Josua.
Ia menyebut berbagai komponen kendaraan berpotensi mengalami kenaikan harga secara bertahap. Hal ini akan berdampak pada biaya operasional harian pengguna kendaraan.

“Biaya asuransi, biaya servis, harga ban, komponen elektronik, aki, baterai, dan suku cadang impor bisa naik bertahap. Bagi dealer, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya persediaan dan menekan arus kas,” katanya.
Di sisi lain, perusahaan pembiayaan juga menghadapi tantangan tersendiri. Risiko kredit meningkat seiring beban cicilan yang semakin berat bagi konsumen.
“Bagi perusahaan pembiayaan, risiko muncul dari cicilan yang makin berat dan nilai jual kembali kendaraan yang bisa berubah,” tuntasnya.