Menperin: Transformasi TKDN Jadi Daya Tarik Investor Rusia ke RI
Menperin menekankan transformasi TKDN dilakukan agar bisa menarik investasi dari Rusia. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah memperbaiki iklim investasi dan kemudahan berusaha sebagai upaya menarik lebih banyak investasi, termasuk dari Rusia. Salah satu langkah yang ditempuh adalah melakukan transformasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar lebih efisien, adaptif, dan mampu meningkatkan daya saing industri nasional.
Menurut Agus, pemerintah menyadari setiap negara berlomba menciptakan iklim investasi yang semakin kompetitif guna menarik investor global. Untuk itu, Indonesia melakukan berbagai reformasi kebijakan agar dunia usaha memperoleh kepastian dan kemudahan dalam menjalankan investasi.
“Indonesia sesuai arahan Bapak Presiden memang terus-menerus mencoba dan berusaha agar investment climate dan business climate di Indonesia itu semakin baik,” kata Agus kepada wartawan di sela rangkaian kegiatan INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia, Selasa (7/7).
Agus menilai, reformasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi manufaktur. Selain pembenahan regulasi, Indonesia juga memiliki sejumlah keunggulan yang menjadi nilai jual di mata investor.
Salah satunya yakni pasar domestik Indonesia yang dinilai mampu menopang pertumbuhan industri dalam jangka panjang. Meski demikian, menurut Agus, keunggulan tersebut harus dimanfaatkan untuk memperkuat industri nasional, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk impor.
“Kita punya market yang besar sekali. Market yang besar itu harus kita eksploitasi dalam konteks perlindungan industri dalam negeri supaya industri kita bisa semakin tumbuh dan produk-produk kita menjadi tuan rumah di market sendiri,” katanya.
Selain pasar domestik, Agus menyebut Indonesia memiliki keunggulan berupa ketersediaan sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang semakin kompetitif. Kombinasi tersebut diyakini mampu menjadi daya tarik bagi investor yang ingin membangun basis produksi di Indonesia.
Kebijakan Lokalisasi Industri
Agus mengatakan, pemerintah juga mendorong kebijakan lokalisasi industri agar investasi asing tidak berhenti pada aktivitas perdagangan, tetapi berlanjut pada pembangunan fasilitas produksi di dalam negeri. Menurutnya, strategi tersebut akan memperkuat pendalaman struktur industri nasional, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan penggunaan komponen lokal, serta menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
Ia juga menekankan pentingnya kebijakan lokalisasi industri dan pendalaman struktur manufaktur. Menurutnya, banyak negara dengan ukuran pasar yang lebih kecil dibandingkan Indonesia, justru telah lebih dahulu mendorong lokalisasi produksi untuk memperkuat industri nasional dan menciptakan lapangan kerja.
“Negara yang potensi market-nya jauh lebih kecil dari Indonesia saja sudah mengarah kepada lokalisasi. Artinya mereka sudah melakukan pendalaman struktur industri di negaranya masing-masing. Seharusnya kita juga lebih berkomitmen melakukan itu di negara kita,” ujarnya.
Agus menegaskan, Indonesia ingin kerja sama dengan Rusia tidak berhenti pada hubungan dagang semata. Pemerintah mendorong agar hubungan kedua negara berkembang menjadi kemitraan industri yang menghasilkan investasi, alih teknologi, penguatan rantai pasok, hingga penciptaan nilai tambah di kedua negara.
“Investment itu dipengaruhi banyak faktor. Yang penting adalah apa yang bisa ditawarkan Indonesia, sehingga investor tertarik masuk dan membangun industri di Indonesia,” katanya.
Partisipasi Indonesia sebagai Official Partner Country di INNOPROM 2026 juga menjadi momentum mempererat hubungan ekonomi kedua negara. Pada 2025, nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Rusia tercatat mencapai USD 1,876 miliar, sementara realisasi investasi Rusia di Indonesia mencapai USD 262,8 juta.
Pemerintah berharap hubungan ekonomi tersebut terus meningkat seiring semakin eratnya kerja sama strategis kedua negara di sektor industri, investasi, energi, dan manufaktur.