News Berita

Menikmati Kurma di Lokasi Bersejarah Kebun Abdurrahman bin Auf di Madinah

Menikmati Kurma di Lokasi Bersejarah Kebun Abdurrahman bin Auf di Madinah. #newsupdate #update #news #text

Menikmati Kurma di Lokasi Bersejarah Kebun Abdurrahman bin Auf di Madinah
Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026
Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026

Kebun kurma seluas 10 hektare terhampar di Abdurrahman bin Auf yang terletak di Awali dekat dengan Masjid Quba, Madinah. Di kebun ini, ada sumur yang disebut tidak pernah kering.

Di sela-sela hamparan kebun kurma, sejarah seolah tumbuh bersama batang-batang pohon yang menjulang ke langit. Buah kurma muda berwarna kuning keemasan bergantungan lebat di setiap tandan.

Di lokasi ini, para peziarah yang datang tak hanya menikmati kesegaran buah yang baru dipetik, tetapi juga menyusuri jejak masa lalu yang telah berusia lebih dari 14 abad.

"Jadi di sini ada kebun kurma yaitu Ajwa 350 pohon. Jumlah (pohon) ada 550, sisanya ada (kurma) Sukari, Medjool, Rabbea. Di sini juga ada sumurnya Abdurrahman bin Auf, yang sejarahnya didoakan Rasul. Ini adalah sumur yang tidak pernah kering karena ada doa dari Rasul," kata pemilik kebun kurma, Abu Umar, dalam bahasa Arab diterjemahkan oleh Asep, pengelola perkebunan itu.

Abdurrahman bin Auf bukan sosok biasa dalam sejarah Islam. Ia termasuk golongan pertama yang memeluk Islam, ikut merasakan tekanan kaum Quraisy di Makkah, berhijrah ke Habasyah, lalu meninggalkan kampung halamannya juga kekayaannya menuju Madinah bersama Rasulullah SAW.

Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026
Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026

Saat tiba di Kota Nabi, ia nyaris tak memiliki apa-apa. Namun dari pasar-pasar Madinah, ia membangun kembali kehidupannya hingga menjadi salah satu saudagar paling sukses di jazirah Arab.

Kesuksesan itu tidak datang dalam semalam. Berbekal kejujuran dan ketekunan, Abdurrahman perlahan mengembangkan usahanya. Seiring waktu, ia memiliki kebun-kebun kurma yang luas dan produktif.

Dalam berbagai riwayat sejarah, kekayaannya bahkan digambarkan begitu besar. Namun yang membuat namanya dikenang bukanlah jumlah hartanya, melainkan bagaimana ia membelanjakan harta itu untuk kepentingan umat.

Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026
Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026

Sumur yang Tak Pernah Kering

Di perkebunan ini, terdapat sumur yang mengaliri seluruh kebun kurma. Sumur bersejarah ini disebut tidak pernah kering.

Sumur di lokasi ini diriwayatkan pernah dijadikan mahar saat Abdurrahman menikahi seorang perempuan Anshar. Meski riwayat yang lebih kuat dalam hadis menyebut maharnya berupa emas, kisah sumur ini tetap hidup dalam ingatan masyarakat Madinah sebagai bagian dari perjalanan hidup sang sahabat.

"Ketika Abdurrahman menikah jadi mahar atau mas kawin berupa air sumur ini, uang dan emas. Waktu itu Rasul yang serahkan kepada istri Abdurrahman," ujar Abu Umar.

"Ketika Abdurrahman bin Auf waktu menikah, ini adalah mas kawinnya mahar pernikahan untuk istri Abdurrahman. Dia tidak menjual air ini ke siapa pun, tapi hanya untuk sedekah," sambungnya.

Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026
Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026

Sumur ini kedalamannya lebih dari 60 meter. Airnya mengaliri setiap bayang pohon kurma yang ditanam di perkebunan ini.

"Dan ini Alhamdulillah dari zaman dulu air ini tidak berubah, sumur ini berumur 1.400 tahun kurang lebih, dan airnya tidak kering," ucap Abu Umar.

Nilai sejarah kawasan ini tidak berhenti pada kisah Abdurrahman bin Auf. Lingkungan Bani Amr bin Auf merupakan salah satu wilayah pertama yang disinggahi Rasulullah SAW ketika tiba dalam peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah.

Sebelum memasuki pusat Kota Madinah, Nabi tinggal beberapa hari di kawasan ini dan mendirikan Masjid Quba, masjid pertama.

Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026
Kebun kurma Abdurrahman bin Auf di Madinah. Foto: Dok. MCH 2026

Uniknya Rasa Kurma Muda

Saat kumparan mendatangi lokasi ini, kebetulan kebun tengah berbuah lebat. Kurma muda berwarna kuning cerah begitu memikat mata. Satu buah kurma kumparan coba, rasanya manis bercampur sedikit sepat.

Kurma andalan di kebun ini adalah Ajwa Aliyah Madinah. Kurma ini merupakan favorit Rasul karena rasanya yang sangat manis.

Kebun kurma ini dibuka untuk umum. Bagi peziarah yang beruntung saat datang ketika musim panen, bisa langsung menikmati kurma fresh yang baru dipetik dari pohon.

"Di sini ada jemaah yang masuk dari Ethiopia, Afrika, Mesir, Turki, Uzbekistan, kami ingin tamu Allah Indonesia datang ke sini," pungkas Abu Umar, menyebut bahwa masuk ke kebun kurma ini gratis alias tidak dipungut biaya.

Buka sumber asli