News Berita

Mengapa Kesalahan Kecil Terasa Begitu Memalukan?

Pernah merasa semua orang memperhatikan kesalahanmu? Bisa jadi itu hanyalah spotlight effect. Simak bagaimana Game of Thrones dan penelitian psikologi menjelaskan fenomena ini.

Mengapa Kesalahan Kecil Terasa Begitu Memalukan?
Photo by Nik Shuliahin 💛💙 on Unsplash
Photo by Nik Shuliahin 💛💙 on Unsplash

Sebagian orang mungkin pernah menonton series Game of Thrones yang menceritakan tentang perebutan iron throne, naga dan intrik politiknya. Series ini cukup menarik karena mematahkan anggapan bahwa sebuah cerita harus memiliki satu tokoh utama.

Di wasteros, tidak ada satu karakter pun yang benar-benar menjadi pusat dunia. Di saat satu tokoh gugur, cerita tetap bergerak karena setiap orang memiliki ambisi dan jalan hidupnya masing-masing. Dari sini dapat diambil makna bahwa dunia tidak pernah benar-benar berputar mengelilingi satu orang.

Dalam kehidupan nyata, setiap orang sering kali merasa dirinya sebagai pusat dunia. Kesalahan kecil saat presentasi, salah mengirim pesan di grup atau momen memalukan lainnya terasa seolah menjadi perhatian semua orang.

Padahal, orang-orang di sekitar justru sibuk dengan hidup mereka sendiri dan mereka juga belum tentu memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Kecenderungan seperti ini, membuat kesalahan kecil terasa jauh lebih memalukan daripada kenyataannya.

Sorotan yang Sebenarnya Tidak Pernah Ada

Mengapa seseorang bisa merasa kesalahan kecilnya menjadi perhatian banyak orang? Permasalahan ini ternyata memiliki istilahnya sendiri.

Sebuah penelitian yang berkaitan dengan psikologi menyebutnya sebagai spotlight effect di mana seseorang merasa bahwa orang lain memperhatikan penampilan dan juga tindakannya.

Dalam penelitian tersebut juga dilakukan sebuah eksperimen di mana para partisipan diminta melakukan sesuatu yang mungkin membuat siapa pun merasa canggung. Mereka harus mengenakan kaus bergambar Barry Manilow dan kemudian masuk ke sebuah ruangan yang cukup ramai pengunjung. Setelah keluar, mereka diminta memperkirakan berapa banyak orang yang menyadari kaus tersebut. Hasilnya ternyata hanya ada beberapa orang saja yang memperhatikan mereka.

Dari eksperimen sederhana ini, dapat diketahui bahwa manusia sering kali merasa dirinya menjadi pusat perhatian, padahal kebanyakan orang justru sedang sibuk dengan hidup mereka sendiri.

Ketika Sorotan Menjadi Beban

Spotlight effect ini ternyata memiliki dampak terhadap kondisi emosional seseorang, terutama jika orang itu dihantui dengan perasaan takut akan penilaian buruk dari orang lain. Efek dari ketakutan itu dapat membuat kepercayaan diri menjadi turun, munculnya kecemasan yang lebih sering dari biasanya dan juga membuat seseorang merasa kesalahan kecil seolah-olah akan berakibat fatal.

Terdapat sebuah penelitian mengenai spotlight effect yang menjelaskan bahwa semakin kuat seseorang merasa dirinya menjadi sorotan, semakin tinggi juga tingkat kecemasan yang dialami dan semakin rendah rasa percaya dirinya.

Seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang gugup saat presentasi, takut menyampaikan pendapat, atau terus memikirkan unggahan di media sosial karena khawatir dinilai orang lain adalah contoh bagaimana perasaan selalu diperhatikan dapat menjadi sebuah beban yang dapat berpengaruh pada emosional seseorang.

Pada akhirnya, mungkin inilah pelajaran sederhana yang bisa dipetik dari series Game of Thrones. Di Westeros, setiap karakter sibuk memperjuangkan jalan hidupnya masing-masing. Tidak ada satu tokoh yang benar-benar menjadi pusat dunia, karena setiap orang memiliki cerita yang sama pentingnya.

Kehidupan nyata pun tidak jauh berbeda. Saat kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain memandang diri kita, bisa saja mereka justru sedang memikirkan hidup mereka sendiri.

Menyadari hal tersebut bukan berarti menganggap diri tidak penting. Kesadaran yang muncul dapat menjadi pengingat bahwa kesalahan kecil tidak selalu sebesar yang kita bayangkan.

Dunia tidak berhenti hanya karena satu kesalahan, dan perhatian orang lain sering kali tidak sebesar yang ada di kepala kita. Dengan begitu, mungkin sudah saatnya berhenti hidup di bawah lampu sorot yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ada.

Buka sumber asli