News Berita

Memotret Transformasi Digital Usaha Lewat Sensus Ekonomi 2026

BPS menilai perubahan besar dalam landskap ekonomi global dalam satu dekade terakhir tidak bisa dilepaskan dari peran digitalisasi. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Memotret Transformasi Digital Usaha Lewat Sensus Ekonomi 2026
Pengunjung membuka aplikasi PaDi UMKM saat pameran Pasar Digital (PaDi) UMKM Hybrid Expo & Conference 2024 di Gedung Sarinah, Jakarta, Kamis (11/07/2024).  Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Pengunjung membuka aplikasi PaDi UMKM saat pameran Pasar Digital (PaDi) UMKM Hybrid Expo & Conference 2024 di Gedung Sarinah, Jakarta, Kamis (11/07/2024). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Perubahan besar dalam lanskap ekonomi global dalam satu dekade terakhir tidak bisa dilepaskan dari peran digitalisasi. Di Indonesia, transformasi ini terlihat jelas pada berbagai lini aktivitas ekonomi, mulai dari cara masyarakat berbelanja hingga bagaimana pelaku usaha memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa. Model bisnis yang sebelumnya bertumpu pada sistem konvensional kini bergeser ke arah digital, didorong oleh kemajuan teknologi dan perubahan perilaku konsumen.

Percepatan transformasi tersebut semakin terasa sejak pandemi COVID-19. Pembatasan aktivitas fisik kala itu mendorong pelaku usaha untuk beradaptasi dengan platform digital. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), misalnya, mulai memanfaatkan aplikasi daring untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Di sektor logistik, peningkatan transaksi online memicu lonjakan kebutuhan layanan pengiriman, yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem ekonomi digital.

Sementara itu, perusahaan skala besar mengintegrasikan otomasi produksi, pemanfaatan data, serta kanal digital untuk pemasaran dan penjualan. Bahkan, sistem pembayaran pun mengalami pergeseran signifikan, dari dominasi tunai menuju transaksi non-tunai berbasis digital.

Namun demikian, transformasi digital tidak berlangsung secara merata. Tidak semua pelaku usaha memiliki tingkat adopsi teknologi yang sama. Perbedaan kapasitas, akses, dan literasi digital menciptakan kesenjangan yang perlu dipahami secara lebih mendalam. Dalam konteks inilah Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang akan dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik menjadi sangat relevan.

SE2026 dirancang untuk mengumpulkan data menyeluruh mengenai jumlah, sebaran, dan karakteristik usaha di Indonesia, termasuk aspek pemanfaatan teknologi digital. Pendataan yang berlangsung pada periode Mei hingga Juli 2026 ini akan menggali informasi terkait penggunaan internet dalam berbagai tahapan kegiatan usaha, mulai dari produksi, distribusi, promosi, hingga penjualan. Tidak hanya itu, sensus ini juga mencakup adopsi teknologi mutakhir seperti Internet of Things (IoT), big data, blockchain, serta kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Melalui data tersebut, pemerintah dapat memperoleh gambaran utuh mengenai tingkat penetrasi digitalisasi di dunia usaha. Perubahan pola konsumsi masyarakat, termasuk tren belanja online dan transaksi digital, juga dapat teridentifikasi dengan lebih akurat. Informasi ini menjadi penting untuk memahami arah perkembangan ekonomi sekaligus mengantisipasi kebutuhan di masa depan.

Ilustrasi gedung BPS. Foto: Wella Eriska/Shutterstock
Ilustrasi gedung BPS. Foto: Wella Eriska/Shutterstock

Pasca pandemi, dinamika digitalisasi menunjukkan pola yang beragam. Sebagian pelaku usaha tetap mempertahankan strategi digital yang telah dibangun, bahkan mengembangkannya lebih jauh. Namun, tidak sedikit pula yang kembali ke metode konvensional. Di sisi lain, perusahaan besar cenderung melaju lebih cepat dengan memanfaatkan teknologi canggih seperti automasi dan rantai pasok digital. Ketimpangan inilah yang perlu dipetakan secara berbasis data agar dapat ditindaklanjuti melalui kebijakan yang tepat.

Bagi pemerintah, hasil SE2026 akan menjadi landasan dalam merumuskan kebijakan di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Pendekatan yang diambil dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sektor maupun wilayah, sehingga intervensi yang dilakukan lebih efektif. Misalnya, wilayah dengan tingkat adopsi digital yang masih rendah dapat menjadi prioritas dalam program peningkatan literasi digital atau pelatihan pemanfaatan teknologi bagi pelaku UMKM.

Selain itu, data mengenai pola transaksi digital juga membuka peluang inovasi di sektor keuangan, termasuk pengembangan layanan pembayaran digital dan skema pembiayaan berbasis teknologi. Sementara bagi pelaku usaha, hasil sensus dapat dimanfaatkan sebagai referensi untuk mengevaluasi posisi bisnis, membaca tren pasar, serta mengidentifikasi peluang baru yang potensial dikembangkan.

Keberhasilan SE2026 sangat bergantung pada partisipasi aktif seluruh pelaku usaha. Informasi yang diberikan, meskipun hanya membutuhkan waktu singkat, memiliki dampak luas bagi berbagai pihak. Data yang akurat akan menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran, mendorong pertumbuhan usaha, membuka peluang ekonomi baru, serta menciptakan lapangan kerja.

Dengan demikian, SE2026 tidak hanya berfungsi sebagai instrumen statistik, tetapi juga sebagai alat strategis untuk mengarahkan transformasi ekonomi Indonesia di era digital. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan bahwa transformasi ini berjalan inklusif dan berkelanjutan.

Buka sumber asli