News Berita

Luka Ganda Tak Bernama: Kehilangan Ayah dan Ibu yang Masih Ada

Ada kehilangan yang tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk diratapi kehilangan seseorang yang masih hidup, tetapi perlahan tidak lagi hadir seperti dulu. #userstory

Luka Ganda Tak Bernama: Kehilangan Ayah dan Ibu yang Masih Ada
Foto: Pexels Free Picture
Foto: Pexels Free Picture

Ada dua jenis kehilangan yang jarang dibicarakan bersamaan. Kehilangan orang yang sudah pergi, dan kehilangan orang yang masih ada namun sudah tidak lagi hadir.

Ketika ayah saya meninggal, semua orang tahu cara berduka. Ada pelayat yang datang, ada tahlil yang dibacakan, ada tangis yang dibenarkan. Duka itu diberi nama, diberi ruang, bahkan diberi batas waktu tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari. Orang-orang bertanya, "Bagaimana kabarmu?" dan mereka sungguh menunggu jawabannya.

Tapi ada kehilangan lain yang menyusul, yang jauh lebih sunyi. Kehilangan ibu yang masih hidup. Tubuhnya masih ada. Napasnya masih terdengar. Namun peran nya yang tiba tiba pudar secara perlahan. Matanya yang sudah tidak lagi mengenali saya dengan cara yang dulu. Ia masih menyebut nama saya, kadang-kadang. Tapi ibu yang mengingat bagaimana cara saya mengikat tali sepatu di usia lima tahun, ibu yang hafal lagu pengantar tidur favorit saya, ia perlahan pergi jauh sebelum jasadnya menyusul.

Tidak ada kata untuk ini dalam bahasa sehari-hari kita. Tidak ada ritual yang menyambutnya. Tidak ada orang yang datang membawa bunga atau makanan. Tidak ada yang bertanya, "Bagaimana kabarmu?" karena secara resmi, tidak ada yang terjadi. Ibumu masih hidup, kata mereka. Bersyukurlah.

Duka yang Tidak Memiliki Tanggal

Dalam psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah ambiguous loss atau kehilangan yang ambigu. Sebuah konsep yang dikembangkan oleh psikolog Pauline Boss, yang menggambarkan situasi ketika seseorang hadir secara fisik namun absen secara psikologis, atau sebaliknya. Ia tidak hilang dengan cara yang dunia bisa pahami. Tidak ada tanggal kematian yang bisa dijadikan penanda. Tidak ada momen tunggal yang bisa diratapi.

Itulah mengapa duka ini begitu menyiksa karena ia tidak pernah selesai. Setiap hari adalah kehilangan yang baru. Ketika ibu tidak mengenali foto pernikahan mereka. Ketika ia lupa bahwa ayah sudah tiada dan bertanya ke mana ayah pergi. Ketika kamu harus menjawab pertanyaan itu untuk ke-sekian kalinya, dan setiap kali menjawabnya, kamu ikut berduka dari awal lagi.

Inilah luka ganda yang saya maksud. Bukan sekadar dua kehilangan yang datang berurutan. Melainkan dua kehilangan yang saling melilit. Duka atas ayah yang pergi, dan duka atas ibu yang masih ada namun sudah tidak bisa menemanimu berduka bersama.

Anak yang Menjadi Orang Tua untuk Orang Tuanya

Ada pergeseran peran yang terjadi perlahan, nyaris tidak terasa hingga suatu hari kamu menyadari bahwa kamu sudah menjadi orang tua bagi orang tuamu sendiri. Kamu yang mengingatkan ia makan obat. Kamu yang memastikan ia tidak keluar rumah sendirian. Kamu yang menjelaskan, berulang-ulang, dengan sabar yang harus kamu tambang dari tempat yang makin menipis, bahwa hari ini hari Rabu, bahwa anaknya sudah besar, bahwa ayah sudah tenang di sana.

Dan di tengah semua itu, kamu tidak pernah benar-benar berhenti menjadi anaknya. Kamu masih rindu dipanggil dengan cara yang dulu. Kamu masih berharap suatu pagi ia akan bangun dan kembali bukan secara dramatis, cukup dengan cara ia menyebut namamu seperti sebelumnya. Tapi harapan itu sendiri sudah menjadi sebuah bentuk duka yang harus kamu tanggung diam-diam.

Masyarakat kita belum punya infrastruktur emosional untuk ini. Kita pandai membicarakan kematian, meski tidak selalu dengan cara yang sehat. Tapi kehilangan yang menggantung, yang tidak kunjung tuntas karena orangnya masih bernapas itu adalah wilayah abu-abu yang belum kita beri peta.

Berduka Bukan Berarti Tidak Sayang

Salah satu hal yang paling memberatkan adalah rasa bersalah. Rasa bersalah karena merindukan versi dulu dari seseorang yang masih hidup. Rasa bersalah karena kadang merasa lelah, bahkan dalam momen yang paling jujur merasa marah. Marah pada keadaan yang merenggutnya secara perlahan. Marah pada ketidakadilan bahwa kamu harus kehilangan dua orang sekaligus dengan cara yang tidak bisa dijelaskan ke orang lain.

Perlu dikatakan dengan keras dan jelas, berduka atas seseorang yang masih hidup bukan pengkhianatan. Itu bukan tanda bahwa kamu tidak cukup mencintainya. Itu justru tanda bahwa kamu mencintainya begitu dalam sehingga ketidakhadirannya bahkan saat ia masih ada di depanmu terasa seperti kehilangan nyata.

Kesedihan itu valid. Kelelahan itu valid. Dan kamu tidak harus selalu tampak kuat di depan semua orang hanya karena "ibumu masih ada".

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pertama, beri nama pada dukamu. Mengakui bahwa yang kamu rasakan adalah kehilangan bukan kelemahan, bukan drama adalah langkah pertama yang tidak kecil. Ambiguous loss adalah nyata, dan ia meninggalkan luka yang sama dalamnya dengan kehilangan konvensional.

Kedua, carilah ruang untuk bicara dengan terapis, dengan kelompok dukungan caregiver, atau bahkan dengan satu orang terpercaya yang tidak akan segera menyuruhmu "berpikir positif". Kamu tidak butuh solusi. Kamu butuh didengar.

Ketiga, untuk mereka di sekitar orang yang sedang mengalami ini: belajarlah hadir tanpa memberikan penilaian. Jangan bilang, "Setidaknya ibumu masih ada." Jangan bilang, "Kamu harus kuat." Cukup tanyakan, "Bagaimana keadaanmu hari ini?" dan tunggu jawabannya yang sesungguhnya.

Penutup

Saya menuliskan ini bukan karena saya sudah sampai di ujung perjalanan ini. Saya masih di tengahnya, dengan bayang bayang alm. ayah saya yang tidak akan pernah lepas di dalam pikiran dan jiwa saya. Saya masih belajar cara mencintai seseorang yang hadir secara berbeda dari yang pernah saya kenal. Masih belajar cara berduka tanpa tanggal, tanpa ritual, tanpa izin dari siapapun. Meskipun belum sampai di ujung perjalanan, pada akhirnya saya tau bahwa dunia ini tidak bisa berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Kita hanya bisa menaruh ekspektasi, dan berharap. Pada akhirnya, realita mengikis secara perlahan. Ikhlas pada takdir Tuhan adalah jalan satu satunya yang harus kita terima dengan lapang dada.

Di tengah perjalanan saya ini, saya tidak mengharapkan 'kemenangan'. Dalam arti, mendapatkan hal yang saya inginkan pada perubahan seseorang. Bagi saya perubahan seseorang bukanlah kemenangan, melainkan bagaimana cara saya melihat ibu saya bahagia dengan kehidupan yang ia pilih, serta tetap hadir sampai di titik terakhirnya. Meskipun bukan diri saya yang ia inginkan.

Walaupun kemenangan bukanlah akhir dari perjalanan saya, tapi rasa sayang dan cinta terhadap ibu saya adalah segalanya. Dengan rasa cinta dan sayang yang saya miliki, luka dan duka mulai terkubur secara perlahan. Meskipun belum pulih seutuhnya, saya tahu 'kemenangan' bukanlah bagian akhir dari perjalanan hidup saya. Melainkan 'keikhlasan'.

"Luka ini nyata. Kehilanganmu nyata. Dan kamu tidak harus menanggungnya sendirian bahkan ketika dunia belum punya kata yang tepat untuk menyebutnya."

Catatan Penulis:

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman personal dan pengamatan terhadap fenomena ambiguous loss yang diperkenalkan oleh psikolog Pauline Boss. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang berjuang dengan kondisi serupa, pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.

Buka sumber asli