Lewat Sepak Bola, Pauline van de Pol Menjadi Satu dengan Indonesia
Kesempatan membela Timnas Wanita Indonesia jadi titik balik bagi Pauline. Itu membuka jalan baginya untuk mengenal tanah leluhurnya dengan lebih dekat. #bolanita #bola #bolasports #text

Indonesia bukanlah tempat yang benar-benar akrab bagi Pauline van de Pol. Pesepak bola wanita berusia 23 tahun itu memang memiliki darah Indonesia, tetapi ia tumbuh di Belanda dan tak sempat mengenal budaya tanah air dari keluarga besarnya. Kakek dan neneknya telah meninggal sebelum ia lahir, sehingga hubungan dengan akar leluhurnya tak terbangun seperti yang ia harapkan.
Kesempatan membela Timnas Wanita Indonesia menjadi titik balik dalam hidup Pauline. Bukan hanya mewujudkan impian tampil di level internasional, tetapi juga membuka jalan baginya untuk mengenal Indonesia lebih dekat, mulai dari budaya, masyarakat, hingga identitas keluarganya.
Debut bersama Garuda Pertiwi pada Garuda Women’s Championship pada Juni 2026 jadi momen yang tak akan pernah ia lupakan. Setelah menunggu hampir satu tahun sejak proses naturalisasinya rampung, Pauline akhirnya bisa mengenakan seragam Merah-Putih, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lalu menutup pertandingan dengan menyanyikan Tanah Airku bersama para suporter di Stadion Arcamanik, Bandung.
Baginya, membela Indonesia memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar bermain sepak bola.
“Pengalaman yang sangat luar biasa. Aku menunggu momen ini sejak Agustus 2025. Setiap menit di lapangan sangat berarti bagiku. Lalu menyanyikan lagi kebangsaan dan menutupknya dengan lagu Tanah Airku. Pengalaman yang luar biasa dan aku tak akan melupakannya,” tutur Pauline eksklusif kepada kumparanBOLANITA.
Jelang AFF Women’s Cup 2026, kumparanBOLANITA berkesempatan untuk berbincang dengan Pauline van de Pol secara daring. Tak cuma membahas soal debutnya di Timnas Wanita Indonesia, bek kanan andalan Garuda Pertiwi itu juga membahas soal awal kariernya di sepak bola dan pengalamannya bermain di Liga Wanita Belanda.
Main Sepak Bola Dari Lima Tahun
Pemain dengan nama lengkap Pauline van de Pol ini lahir di Haarlem, Belanda pada 12 Maret 2003. Ia sudah mengenal sepak bola sejak usia lima tahun di tanah kelahirannya.
Awalnya, ia bermain hanya untuk bersenang-senang bersama teman-temannya di Belanda. Namun, semuanya berubah ketika memasuki usia remaja. Sekitar usia 16 tahun, Pauline bergabung dengan akademi yang memberikan tambahan latihan empat kali dalam sepekan di luar latihan bersama klubnya. Dari sanalah ambisinya sebagai pesepak bola mulai tumbuh.
Kesempatan itu datang ketika ia direkrut Jong Telstar pada usia 17 tahun. Pauline menghabiskan tiga musim bersama tim muda tersebut sebelum mendapat promosi ke tim utama Telstar pada 2022 dan merasakan atmosfer kompetisi tertinggi sepak bola wanita Belanda, Vrouwen Eredivisie.
"Di situlah karier profesionalku benar-benar dimulai. Sejak saat itu aku selalu ingin berkembang dan mencapai lebih banyak lagi," ucapnya.

Merasakan Tingginya Level Kompetisi Liga Belanda
Perjalanan Pauline di kasta tertinggi Liga Belanda berlanjut ketika Telstar Vrouwen beralih kepemilikan ke HERA United. Meski dihuni banyak wajah yang sama, Pauline merasakan perubahan besar di klub barunya. HERA United merupakan klub yang sepenuhnya berfokus pada sepak bola wanita sehingga menurutnya profesionalisme yang diterapkan terasa berbeda.
Pada musim pertamanya bersama HERA United, Pauline sempat mengalami masa sulit. Ia tidak mendapatkan banyak kesempatan bermain pada paruh pertama musim. Alih-alih menyerah, ia memilih fokus meningkatkan kualitas diri setiap hari di sesi latihan.
“Awalnya aku tidak banyak bermain. Aku ingin bermain lebih banyak jadi selalu selalu berusaha memberikan yang terbaik setiap latihan. Setelah jeda musim dingin, aku mulai mendapatkan lebih banyak menit bermain dan bisa melihat perkembanganku sendiri,” tutur pemain HERA United itu.
Pengalaman itu mengajarkan Pauline pentingnya mengubah cara berpikir. Daripada larut dalam kekecewaan karena minim menit bermain, ia memilih menjadikan situasi tersebut sebagai motivasi untuk berkembang.
Saat ditanya momen terbaiknya selama di HERA United, Pauline bercerita ketika timnya berhasil menumbangkan papan atas Liga Belanda: Ajax Vrouwen. Pauline bercerita, kemenangan 2-1 pada 1 Februari 2026 atas Ajax jadi salah satu yang paling memorable dalam kariernya di Belanda.
"Ajax hampir selalu berada di papan atas liga, sementara kami sering berada di papan bawah. Mengalahkan mereka menjadi pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan," katanya.

Atmosfer Suporter Bawa Pauline Pilih Indonesia
Jauh sebelum memulai debutnya di 2026, nama Pauline mulai masuk radar Timnas Wanita Indonesia pada akhir 2024. Saat itu, pelatih Satoru Mochizuki bersama delegasi PSSI datang ke Belanda untuk memantau sejumlah pemain keturunan.
Dari pertemuan itulah Pauline mengetahui bahwa ia memiliki peluang membela Indonesia. “Sebelumnya aku tahu punya darah Indonesia, tetapi tidak pernah tahu ada kesempatan bermain untuk Timnas Wanita Indonesia,” kata Pauline.
Kesempatan tersebut langsung menarik perhatiannya. Selain ingin merasakan pengalaman bermain di level tim nasional, Pauline juga terkesan dengan besarnya antusiasme suporter Indonesia terhadap sepak bola.
Menurutnya, atmosfer seperti itu sulit ditemukan di Liga Belanda. “Ketika bermain di Belanda, penontonnya tidak sebanyak di sini. Rasanya sangat berbeda dan itu membuat saya semakin tertarik bermain untuk Indonesia," ujar Pauline.
Mimpi Ke Piala Dunia Bareng Indonesia
Setelah wishlist debutnya di timnas terpenuhi, kini Pauline punya sederet mimpi bersama Garuda Pertiwi. Terdekat, rekan setim Isabelle Nottet dan Isabel Kopp di HERA United itu ingin mempertahankan gelar juara bertahan yang dimiliki Indonesia di AFF Women’s Cup 2026.
Namun, mimpi terbesarnya adalah membawa Indonesia menembus panggung Piala Dunia Wanita. Menurut Pauline, peluang itu terbuka apabila perkembangan sepak bola wanita Indonesia terus berlanjut, terutama dengan hadirnya kompetisi liga yang akan bergulir mulai tahun ini.
"Aku pikir kami benar-benar punya peluang untuk lolos ke Piala Dunia. Kami terus berkembang setiap pemusatan latihan, chemistry tim semakin baik, dan sekarang Indonesia juga mulai memiliki liga wanita. Itu akan sangat membantu perkembangan sepak bola wanita di sini," katanya.