Khidmatnya Muda-mudi Ikuti Mubeng Beteng 1 Suro Keraton Yogyakarta
Khidmatnya Muda-mudi Ikuti Mubeng Beteng 1 Suro Keraton Yogyakarta #newsupdate #update #news #text

Sejumlah muda-mudi memadati Kagungan Dalem Kemandungan Lor atau Keben Keraton Yogyakarta untuk mengikuti Hajad Kawula Dalem Lampah Budaya Mubeng Beteng 1 Suro atau tahun baru Jawa 1 Sura Be 1960.
Para muda-mudi itu nampak berbaur dengan warga lain dari berbagai usia sejak Selasa (16/6) sekitar pukul 20.00 WIB.
Lantunan macapat atau tembang Jawa yang diperdengarkan di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti juga diikuti warga dengan khidmat.
Lonceng di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat berbunyi 12 kali, menandakan jam menunjukkan pukul 12 malam. Ini jadi tanda Lampah Budaya Mubeng Beteng dimulai.
Suasana menjadi sunyi. Kini hanya tinggal derap langkah yang bersuara. Dalam diam, warga memanjatkan doa sesuai kepercayaan masing-masing.
Mereka menempuh lima kilometer perjalanan mengitari keraton. Butuh waktu dua jam untuk menyelesaikannya.

Salah satu peserta, Sekar Jemparing (26 tahun), mengaku baru kali pertama mengikuti Mubeng Beteng di Keraton Yogyakarta.
"Sebagai generasi muda saya ikut ini, di satu sisi saya memang merasa butuh menenangkan dan merefleksikan diri," kata Sekar.
Sekar mengatakan generasi muda boleh untuk sejenak berhenti dari hiruk pikuk kehidupan untuk esok yang lebih baik.
Sepanjang perjalanan ada doa-doa yang dipanjatkan Sekar.
"Untuk menenangkan diri di sini. Tentu ada (doa) tapi rahasia," ucap dia.
Sementara, peserta lainnya, Daren yang masih duduk di bangku SMP turut mengikuti Mubeng Beteng ditemani ibunya.
"Baru pertama kali ikut," kata Daren.
Dia mengaku tertarik datang karena ingin mengetahui prosesi budaya ini.
"Saya diajak ibu saya ke sini. Buat mengenali," ungkap Daren.
Relevan dengan Anak Muda

Peserta lain, Amalia Nurul (34 tahun), kembali ikut Mubeng Beteng setelah terakhir kali pada 2014 silam. Di sini, dia akan merefleksikan hidupnya setahun ke belakang: apa yang kurang dan apa yang perlu diperbaiki.
Menurutnya tradisi Mubeng Beteng masih relevan dengan anak muda.
"Menurutku masih sih masih relevan di kalangan anak muda, yang apa, trennya kan healing dan sebagainya, itu yang mungkin mengenal meditasi juga. Nah, dengan topo bisu Mubeng Beteng ini tuh termasuk salah satu meditasi juga," ujar Amalia.
Menempuh jarak lima kilometer, tak ada persiapan khusus yang dilakukan Amalia. Baginya yang terpenting adalah mempersiapkan hati.
"Mempersiapkan hati aja yang bersih sebisa mungkin tuh bersih kita nggak berprasangka atau ada rasa amarah tuh itu bersihkan dulu lah sebisa mungkin jadi kita bisa tenang gitu," tuturnya.
Sebagai seorang Muslim, ketika Mubeng Beteng dia bermuhasabah, merenung, dan berzikir.
"Kan lumayan 5 kilometer kan jauh tuh, zikirnya bisa dapat banyak," ujarnya.
Datang Bersama Teman Sekampung

Kemudian, Surya Herdianto (30 tahun) datang bersama teman-teman kampungnya dari Sleman. Uniknya mereka kompak mengenakan baju adat Jawa.
"Sebenarnya kita baru pertama kali ikut Mubeng Beteng ini sekalian ingin ngajak teman-teman ayo kita ikut (pakai) pakaian adat sekalian biar keren. Iya semakin mendalam maknanya," ungkap Surya.
Salah satu teman Surya, Puput Fikyfendy (30 tahun), mengaku ingin nguri-nguri atau melestarikan tradisi dan budaya Jawa.
"Seenggaknya sekali seumur hidup ngikutin tradisi rutin malam suronan buat tradisi Jawa," katanya.
Sekilas soal Mubeng Beteng

Seperti namanya, Hajad Kawula Dalem merupakan agenda yang dinisiasi kawula atau masyarakat, tepatnya oleh Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
"Jadi agenda ini memang bukan Hajad Dalem milik Keraton Yogyakarta ya, tapi inisiatif dari Abdi Dalem dan masyarakat dalam rangka nyengkuyung keraton sebagai pusat kebudayaan," kata Ketua Paguyuban Abdi Dalem Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT. Kusumanegara.
Setiap tahun, Mubeng Beteng selalu diikuti ribuan masyarakat yang berantusias. Kusumanegara mengimbau masyarakat yang mengikuti Mubeng Beteng senantiasa menjaga kenyamanan, keheningan, ketertiban dan kekhidmatan acara.
Kusumanegara mengatakan acara Mubeng Beteng ini bertujuan menyatukan rasa untuk menjalani refleksi bersama demi menyambut tahun baru yang lebih baik.