News Berita

Kebijakan Biofuel Modi Diprotes, Pengendara Keluhkan BBM E20 Boros

Kebijakan Biofuel Modi Diprotes, Pengendara Keluhkan BBM E20 Boros #bisnisupdate #update #bisnis #text

Kebijakan Biofuel Modi Diprotes, Pengendara Keluhkan BBM E20 Boros
Harga bahan bakar minyak yang baru saja naik terpampang di sebuah pompa bensin di Malvan, India (15/5/2026). Foto: Francis Mascarenhas/REUTERS
Harga bahan bakar minyak yang baru saja naik terpampang di sebuah pompa bensin di Malvan, India (15/5/2026). Foto: Francis Mascarenhas/REUTERS

Pemerintah India menghadapi gelombang protes terhadap kebijakan pencampuran etanol ke dalam bensin atau E20. Sejumlah pengendara dijadwalkan menggelar aksi di New Delhi pada Minggu (5/7) waktu setempat sebagai bentuk penolakan terhadap program biofuel yang diterapkan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Dikutip dari Bloomberg pada Senin (6/7), di media sosial para pengendara mengeluhkan konsumsi bahan bakar yang lebih boros, biaya perawatan kendaraan yang meningkat, hingga kekhawatiran terhadap risiko korosi pada mesin. Keluhan yang ramai beredar di media sosial tersebut juga membuat pemerintah dan industri otomotif memberikan klarifikasi. Sejumlah produsen mobil yang salah satunya adalah Hyundai menegaskan bahwa bensin E20 telah melalui pengujian menyeluruh dan aman digunakan. Selain itu, produsen juga menegaskan bahwa keluhan tersebut tidak berdasar. “Kami sangat yakin tidak melihat masalah serius di media sosial yang mengharuskan pemerintah meninjau ulang program pencampuran biofuel,” kata Associate Vice President Hyundai Motor India, Puneet Anand. Selain Hyundai, Executive Director Maruti Suzuki India, Rahul Bharti, mengatakan kendaraan yang dirancang untuk menggunakan E20 telah dipasarkan sejak 2025. Menurutnya, bensin tersebut juga tetap kompatibel dengan kendaraan lama yang telah memenuhi standar E10. Meski begitu, ia mengakui efisiensi bahan bakar memang dapat sedikit menurun atau sedikit boros. Namun, penurunan tersebut dinilai sebanding dengan manfaat ekonomi dan lingkungan yang diperoleh melalui pengurangan konsumsi bahan bakar fosil.

Antrean panjang terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Ahmedabad pada Senin (23/3), menyusul gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
 Foto: SHAMMI MEHRA/AFP
Antrean panjang terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Ahmedabad pada Senin (23/3), menyusul gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Foto: SHAMMI MEHRA/AFP

Country Head Toyota Kirloskar Motor, Vikram Gulati, juga mengatakan kasus viral di India bahwa ada Toyota Innova Hycross yang disebut rusak akibat E20 ternyata disebabkan oleh bahan bakar yang terkontaminasi, bukan karena kandungan etanolnya. Secara terpisah, Menteri Perminyakan India Hardeep Singh Puri menuding adanya pihak-pihak berkepentingan yang menyebarkan informasi keliru mengenai penggunaan bensin E20. Adapun program E20 tersebut merupakan bagian dari kebijakan swasembada energi Modi untuk mengurangi ketergantungan India terhadap impor minyak mentah sekaligus meningkatkan pendapatan petani melalui perluasan penggunaan etanol berbahan baku hasil pertanian. India sebelumnya mencapai target pencampuran etanol 20 persen ke dalam bensin pada 2025 atau lima tahun lebih cepat dari target semula. Bahkan saat ini pemerintah India tengah mengevaluasi kemungkinan menaikkan kadar campuran etanol di atas 20 persen. Pada bulan lalu, perusahaan kilang milik negara juga mulai memasarkan bensin dengan campuran etanol 85 persen untuk kendaraan flex-fuel. Meski demikian, Menteri Perminyakan Hardeep Singh Puri mengatakan bahwa setiap rencana untuk menaikkan pencampuran etanol menjadi 25 persen dari 20 persen hanya akan dilakukan setelah melalui pengujian yang ketat dan konsultasi dengan seluruh pemangku kepentingan. Ia juga menambahkan bahwa strategi India untuk mendiversifikasi bahan bakar transportasi akan mengandalkan berbagai teknologi, termasuk biofuel, kendaraan listrik berbasis baterai, dan gas alam terkompresi (CNG).

Buka sumber asli