KDM Respons Kritik Sayembara Tangkap Begal: Justru Cegah Main Hakim Sendiri
KDM Respons Kritik Sayembara Tangkap Begal: Justru Cegah Main Hakim Sendiri #newsupdate #update #news #text

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM menanggapi kritik yang muncul terkait sayembara tangkap begal, maling, copet, jambret, dan perampok yang ia gagas.
KDM mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kritik terhadap kebijakan tersebut.
"Saya sampaikan terima kasih ya pada semua pihak yang memberikan otokritik terhadap sayembara tangkap begal, tangkap maling, tangkap copet, tangkap jambret, tangkap perampok," ujar KDM dalam keterangannya, Sabtu (25/7).
Ia mengakui ada dua hal yang menjadi kekhawatiran publik atas program ini, yakni potensi aksi main hakim sendiri dan munculnya "drama begal" di mana seseorang berpura-pura menjadi pelaku kejahatan demi mendapatkan hadiah sayembara.
KDM juga menyampaikan terima kasih secara khusus kepada Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yusril Ihza Mahendra, yang sebelumnya memberikan tanggapan terkait sayembara tersebut.
"Saya juga terima kasih buat Pak Menko Hukum dan HAM, Profesor Yusril. Saya sampaikan beberapa hal yang harus menjadi dasar alasan argumentatif dari sayembara ini," katanya.
Lebih lanjut, KDM menjelaskan dasar argumentasi di balik kebijakan tersebut. Menurutnya, sayembara ini justru dirancang untuk mencegah terjadinya aksi main hakim sendiri, baik secara individu maupun beramai-ramai, yang selama ini kerap berujung pada kematian pelaku.
"Yang pertama, bahwa sayembara ini justru untuk mencegah terjadinya upaya main hakim sendiri atau main hakim rame-rame yang berujung pada kematian," tegasnya.
Ia menyebut selama ini kasus pelaku pencurian yang tertangkap warga cenderung dihakimi massa hingga meninggal dunia, mulai dari kasus pencurian sepeda motor, ayam, domba, hingga labu. KDM mengaku telah banyak menangani persoalan semacam ini dan mendokumentasikannya melalui tayangan di media sosial miliknya.
"Karena selama ini ketika maling tertangkap cenderung dihakimi bahkan sampai meninggal. Saya banyak menangani masalah ini dan bisa dilihat dari tayangan media sosial yang saya miliki," katanya.
"Korbannya adalah malingnya, dan yang menganiaya sampai meninggalnya. Karena dua-duanya harus menghadapi hukuman," kata KDM.
Dengan adanya sayembara ini, KDM berharap masyarakat yang berhasil menangkap pelaku kejahatan tidak lagi menghakimi hingga menyebabkan kematian, karena mereka akan mendapatkan imbalan resmi atas tindakannya. Kerugian materiil korban pun, menurutnya, dapat digantikan melalui nominal hadiah yang telah ia umumkan.
"Sehingga main hakim sendiri sampai meninggal tidak akan terjadi. Ini justru untuk mencegah," pungkas KDM.