Jalan Damai AS-Iran: Perang Berakhir, Babak Baru Timur Tengah Dimulai
Jalan Damai AS-Iran: Perang Berakhir, Babak Baru Timur Tengah Dimulai #newsupdate #update #news #text

Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dengan Iran tercapai usai Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken kesepakatan menyudahi perang di Timur Tengah.
Dilansir AFP, seorang pejabat AS mengatakan, Trump menandatangani nota kesepahaman tersebut saat makan malam dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles setelah KTT G7, Rabu (17/6).
"Baru saja saya tanda tangani," kata Trump kepada wartawan saat keluar dari istana.
Iran mengonfirmasi telah menandatangani kesepakatan dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang, Rabu (17/6).
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan dokumen yang diberi nama Islamabad Memorandum of Understanding telah difinalisasi dan ditandatangani oleh kedua kepala negara.
"Teks Memorandum Kesepahaman Islamabad telah dirampungkan dengan tanda tangan para presiden. Kini saatnya menguji implementasi perjanjian tersebut," kata Baqaei lewat pemberitaan yang dirilis kantor berita IRNA, seperti dikutip dari Reuters.
Penandatanganan Secara Elektronik

Menurut Baqaei, proses penandatanganan dilakukan secara elektronik dan jarak jauh oleh kedua pemimpin. Karena itu, Iran menilai tidak ada kebutuhan mendesak untuk menggelar seremoni resmi.
Sebelumnya, pemerintah Swiss menyatakan sebuah upacara penandatanganan akan digelar pada Jumat (19/6) di sebuah hotel pegunungan mewah yang menghadap Danau Lucerne. Acara itu disebut akan dihadiri Ketua Parlemen Iran Bagher Ghalibaf serta Wakil Presiden AS JD Vance.
Namun Baqaei menegaskan bahwa bagi Iran, pengesahan oleh para pemimpin negara sudah cukup untuk memberikan legitimasi politik terhadap kesepakatan tersebut.
"Ketika teks ditandatangani oleh pejabat tertinggi kedua negara, pelanggaran terhadapnya secara alami akan menimbulkan biaya politik yang lebih besar. Berdasarkan pengalaman kami, kami lebih memilih mekanisme seperti ini," ujarnya.
Teks lengkap perjanjian itu telah dirilis oleh kedua pihak pada Rabu (17/6). Setelah penandatanganan, Iran dan AS akan memasuki masa negosiasi lanjutan selama dua bulan guna membahas tahapan implementasi.
Ancam Kembali Serang Jika Iran Langgar Perjanjian

Presiden Donald Trump mengancam akan kembali menyerang Iran jika negara itu dianggap tidak menghormati komitmen damai.
"Kita akan membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian," kata Trump mengenai Iran dalam konferensi pers usai menghadiri KTT G7 di Prancis, seperti dikutip Reuters.
"Saya tidak ingin mereka melakukannya. Saya ingin mereka menghormati perjanjian," sambung Trump.
Trump kemudian memuji rakyat Iran sebagai bangsa yang cerdas. Ia juga mengatakan bahwa dalam 60 hari ke depan, negosiator AS dan Iran akan bekerja untuk menyelesaikan kesepakatan gencatan senjata permanen.
Harga Minyak Menguat
Harga minyak dunia naik hampir 1 persen pada Rabu (17/6) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani kesepakatan damai dengan Iran.
Namun, ada kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan minyak pada tahun depan yang dapat membatasi penguatan harga.
Dikutip dari Reuters, Kamis (18/6), kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup naik 59 sen atau 0,75 persen menjadi USD 79,55 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 74 sen atau 0,97 persen menjadi USD 76,79 per barel.
Dari sisi pasokan, persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun untuk pekan ke-10 berturut-turut pada pekan lalu seiring lonjakan permintaan. Menurut data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang dirilis pada Rabu (17/6), kondisi ini mendorong total stok minyak ke level terendah sejak 1985, di tengah berlanjutnya perang Iran yang mengganggu pasar energi global.
"Amerika Serikat dan negara-negara lain di dunia terus mengurangi cadangan strategis maupun persediaan komersial mereka sebagai upaya untuk meredam gangguan pasokan di Timur Tengah," kata Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow.
Meski demikian, ancaman kelebihan pasokan membayangi pasar. Dalam proyeksi awalnya untuk 2027, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan pasar minyak akan memasuki periode kelebihan pasokan yang signifikan, dengan pasokan global diperkirakan melonjak 8 juta barel per hari, sementara permintaan hanya meningkat sekitar 2 juta barel per hari.
Dalam jangka pendek, lembaga tersebut menilai kesepakatan antara Iran dan AS dapat menjadi peluang untuk mengisi kembali persediaan yang telah menipis atau membangun cadangan strategis baru.
"Pasar mungkin masih meremehkan besarnya kelebihan pasokan yang akan masuk ke pasar," kata analis riset Empire FX, Crispus Nyaga.
Lalu Lintas Energi di Selat Hormuz Mulai Pulih

Kesepakatan damai antara AS-Iran ditanggapi oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif. Ia menyatakan nota kesepakatan yang telah ditandatangani akan segera berlaku.
"Sebagai langkah pertama, Republik Islam Iran akan langsung membuka kembali Selat Hormuz dan Amerika Serikat akan segera mencabut blokade lautnya," tulis Shehbaz Sharif melalui akun X.
Sharif juga mengonfirmasi bahwa Pakistan, dengan dukungan Qatar, akan menjadi tuan rumah upacara di Swiss pada Jumat mendatang untuk memperingati peristiwa bersejarah ini dan memulai pembicaraan tingkat teknis.
Teheran juga kembali menegaskan rencananya untuk mengenakan biaya terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz setelah periode 60 hari yang diatur dalam dokumen tersebut berakhir.
"Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang. Iran memiliki hak kedaulatan atas Selat Hormuz dan tentu saja kami akan menerima biaya atas layanan yang diberikan," ucap Negosiator utama Iran sekaligus Ketua Parlemen Iran, Bagher Ghalibaf, dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah.
Perang AS dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Kedua negara melancarkan serangan ke ibu kota Teheran serta sejumlah kota besar lainnya.
Serangan pada hari pertama menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior Iran. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi perang berdarah di Timur Tengah yang menewaskan lebih dari 7.000 orang.
Perang juga menyebabkan harga energi melonjak di berbagai negara serta memicu krisis pangan di sejumlah negara berkembang akibat terganggunya jalur distribusi dan pengiriman global.