News Berita

Identitas Diri di Balik Pilihan Diksi

Diksi bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cerminan identitas. Temukan bagaimana pilihan kata kita membentuk jati diri dan cara pandang terhadap dunia.

Identitas Diri di Balik Pilihan Diksi
Sumber: Generated AI
Sumber: Generated AI

Pernah ga sih kita kepikiran tentang bagaimana seseorang yang santai tiba-tiba menggunakan bahasa baku saat wawancara kerja, atau bagaimana generasi muda saat ini merasa lebih ekspresif saat mencampur bahasa dalam berbicara?

Bagi sebagian orang, bahasa Indonesia mungkin hanya alat pertukaran informasi. Padahal, ia adalah cerminan identitas dan cara pandang kita terhadap dunia. Bahasa dapat dilihat sebagai sistem kode yang kompleks.

Setiap kata yang kita pilih dari ratusan bahkan ribuan kosakata dalam bahasa Indonesia merupakan hasil dari proses seleksi internal yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, pendidikan, serta nilai-nilai yang kita anut.

Bahasa sebagai Cerminan Identitas Diri

Identitas bukanlah sesuatu yang statis. Tetapi identitas terus berkembang melalui pengalaman hidup, dan di sinilah bahasa Indonesia berperan penting dalam proses tersebut. Menurut Prof. Dr. Abdul Chaer (pakar linguistik), bahasa merupakan identitas bagi penuturnya karena bahasa menunjukkan dari mana seseorang itu berasal, status sosialnya, hingga keanggotaannya dalam kelompok tertentu.

Ketika seseorang memilih kata-kata tertentu, ia secara tidak langsung sedang memposisikan dirinya di dalam struktur sosial. Kita ambil contoh penggunaan diksi dalam lingkungan akademis yang sering kali menuntut formalitas yang tinggi sebagai upaya menegaskan kredibilitas intelektual.

Namun, sebaliknya, dalam pergaulan yang lebih kasual, penggunaan diksi yang santai atau yang biasa kita kenal dengan istilah slang mencerminkan keinginan kita untuk membangun kedekatan emosional dan diterima dalam kelompok sosial tertentu. Pilihan kata tersebut bukanlah sebuah kebetulan, tetapi ini sebuah manifestasi dari kebutuhan kita untuk menyesuaikan dan mengekspresikan jati diri kita.

Dalam penerapannya, pilihan diksi yang akan kita gunakan terbagi menjadi 2 kategori, yaitu:

1. Pilihan sadar

Pilihan ini merupakan kebiasaan berbahasa kita yang terbawa ketika kita mempertimbangkan konteks, audiens, dan ke mana arah komunikasi kita. Contohnya, saat kita sengaja memilih kata-kata yang baku dan tepat saat kita ingin membuat karya ilmiah.

2. Pilihan tidak sadar

Pilihan ini merupakan kebiasaan berbahasa yang terbawa dari lingkungan keluarga, tempat tinggal, atau budaya dominan, yang sering kali muncul begitu saja dalam percakapan sehari-hari.

Dalam ranah sosiolinguistik, fenomena ini berkaitan erat dengan konsep identity construction. Wardhaugh dan Fuller (2015) menekankan bahwa individu secara konsisten "menegosiasikan" identitas mereka melalui pilihan bahasa yang mereka gunakan.

Setiap kali kita berbicara, kita sebenarnya sedang membangun jati diri yang ingin diproyeksikan kepada lawan bicara. Jika diksi yang dipilih tidak selaras dengan identitas yang ingin dibangun, maka akan terjadi ketidaknyamanan dalam berkomunikasi. Dengan demikian, bahasa menjadi ruang negosiasi di mana kita terus-menerus mendefinisikan siapa diri kita di tengah masyarakat.

Pengaruh Lingkungan dan Teknologi terhadap Pemilihan Diksi

Di era digital seperti saat ini, identitas diri kita tercermin melalui bagaimana kita berkomunikasi di platform-platform digital seperti Instagram, TikTok, dan lain sebagainya. Media sosial memaksa kita untuk melakukan modifikasi diksi yang unik. Di satu sisi, kita dituntut untuk tetap profesional, namun di sisi lain, platform tersebut justru mendorong kita untuk menggunakan bahasa yang efisien, cepat, dan sering kali banyak mencampur istilah asing dalam berkomunikasi, seperti menggunakan istilah "gap" untuk merujuk pada perbedaan atau kesenjangan, "effort" untuk menggambarkan usaha atau upaya, hingga "validasi" untuk menyatakan pengakuan atau pembenaran atas sesuatu.

Dalam dunia digital, pemilihan kata seperti tadi sering kali menjadi indikator identitas suatu generasi. Penggunaan istilah-istilah teknis atau terminologi yang sedang tren saat ini bukan hanya sekedar adaptasi terhadap perkembangan zaman, tetapi juga menjadi penanda identitas suatu kelompok atau sikap profesionalitas seseorang.

Hal ini menunjukkan bahwa status sosial atau profesi seseorang secara signifikan memengaruhi perbendaharaan kata dan cara mereka dalam menafsirkan realita. Fenomena ini membuktikan bahwa pemilihan diksi tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan sosial, tetapi juga dipengaruhi oleh ekosistem digital yang kita jumpai setiap saat.

Mengapa Diksi itu Penting?

Sumber: Dokumen Pribadi
Sumber: Dokumen Pribadi

Seseorang yang hanya menguasai diksi yang sangat terbatas cenderung memiliki cara pandang yang juga terbatas. Kemampuan untuk memilih kata yang tepat menunjukkan kemampuan seseorang untuk memahami konteks dan menghargai lawan bicara.

Dalam konteks nasionalisme, pilihan diksi juga menjadi cerminan bagaimana kita menempatkan diri kita di antara arus globalisasi dan pelestarian bahasa nasional. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan berarti harus kaku, melainkan menunjukkan kesadaran kita akan identitas budaya di tengah gempuran istilah asing.

Pilihan kata yang tepat adalah bentuk penghormatan terhadap identitas bangsa sekaligus identitas pribadi sebagai individu yang terpelajar. Ketepatan memilih kata adalah bentuk kontrol terhadap pesan yang ingin disampaikan, yang mencerminkan kedewasaan intelektual seseorang.

Identitas diri dan diksi adalah dua entitas yang saling berkaitan. Pilihan kata yang kita buat setiap hari adalah identitas dari siapa diri kita sebenarnya, apa yang kita pelajari, dan kepada siapa kita ingin dikaitkan. Menyadari bahwa setiap kata yang diucapkan atau ditulis memiliki bobot identitas merupakan langkah awal untuk menjadi komunikator yang lebih bijak.

Bahasa Indonesia dengan kekayaan kosakata-nya memberikan ruang yang luas untuk berekspresi. Dengan memperhatikan diksi, kita tidak hanya sekadar berkomunikasi, tetapi juga sedang merawat identitas diri kita di tengah dunia yang terus berubah. Pada akhirnya, cara kita memilih kata adalah cara kita mendefinisikan siapa diri kita kepada dunia.

Buka sumber asli