HPV pada Laki-Laki dan Perempuan: Risiko yang Masih Kurang Disadari
HPV merupakan kelompok virus yang tidak hanya menyerang wanita, melainkan laki-laki juga. virus ini dapat tertular melalui kontak fisik dan berhubungan seksual.
Banyak orang masih menganggap bahwa vaksin Human Papillomavirus (HPV) hanya ditujukan untuk perempuan. Anggapan ini sudah lama beredar, bahkan sering dianggap sebagai fakta. Namun, benarkah demikian? Atau justru kita selama ini memahami vaksin HPV secara tidak utuh?
HPV merupakan kelompok virus yang sangat umum dan dapat menginfeksi siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki. Penularannya terjadi melalui kontak kulit, terutama saat aktivitas seksual. Pada perempuan, HPV memang dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks. Namun, yang sering luput dari perhatian adalah bahwa virus ini juga berperan dalam berbagai jenis kanker lain pada laki-laki, seperti kanker anus, penis, hingga orofaring (tenggorokan) (Setiawati, 2014).

Yang membuat HPV semakin berbahaya adalah sifatnya yang sering kali “diam-diam”. Banyak individu yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apa pun, sehingga tanpa disadari dapat menjadi pembawa (carrier) dan menularkan virus kepada pasangan. Inilah yang menyebabkan penyebaran HPV sulit dikendalikan tanpa upaya pencegahan yang efektif (Erni & Wathon, 2019).
Salah satu langkah pencegahan yang terbukti efektif adalah melalui vaksinasi. Vaksin HPV bekerja dengan merangsang sistem imun untuk mengenali komponen virus tertentu, sehingga tubuh memiliki “memori” untuk melawan infeksi di masa depan. Penting untuk dipahami bahwa vaksin ini bersifat preventif, bukan kuratif. Artinya, vaksin HPV tidak mengobati infeksi yang sudah terjadi, tetapi mencegah infeksi sebelum virus masuk ke dalam tubuh (Della, 2019).
Karena sifatnya tersebut, vaksin HPV direkomendasikan diberikan sejak usia remaja, bahkan sebelum seseorang aktif secara seksual. Pada fase ini, respons imun tubuh cenderung lebih optimal, sehingga efektivitas vaksin menjadi lebih tinggi. Di Indonesia, program imunisasi HPV telah difokuskan pada anak perempuan sebagai upaya menekan angka kanker serviks. Namun, di berbagai negara lain, vaksin ini juga diberikan kepada anak laki-laki sebagai bagian dari strategi pencegahan yang lebih komprehensif (Sari & Syahrul, 2014).
Memberikan vaksin HPV kepada laki-laki bukan hanya bertujuan melindungi individu tersebut, tetapi juga berperan dalam mengurangi rantai penularan di masyarakat. Dengan demikian, perlindungan yang dihasilkan tidak hanya bersifat personal, tetapi juga kolektif (Sari & Syahrul, 2014).
Terkait keamanan, vaksin HPV telah melalui berbagai uji klinis dan pemantauan jangka panjang. Efek samping yang muncul umumnya bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri di lokasi suntikan, demam ringan, atau rasa lelah. Hingga saat ini, bukti ilmiah menunjukkan bahwa manfaat vaksin HPV jauh lebih besar dibandingkan risiko efek sampingnya (Wahidin & Febrianti, 2021).
Sayangnya, keterbatasan informasi yang akurat masih menjadi salah satu hambatan utama dalam peningkatan cakupan vaksinasi. Tidak sedikit masyarakat yang ragu atau menunda vaksinasi karena terpapar informasi yang tidak lengkap atau bahkan keliru. Padahal, dalam konteks penyakit yang dapat dicegah, intervensi sejak dini merupakan langkah yang paling rasional dan efektif (Fadilah etal., 2026).
Memahami bahwa HPV tidak hanya berdampak pada perempuan merupakan langkah awal yang penting dalam mengubah perspektif masyarakat. Vaksin HPV pada akhirnya bukan sekadar pilihan individu, melainkan bagian dari upaya kesehatan masyarakat untuk menekan beban penyakit di masa depan. Dengan kesadaran yang lebih luas, diharapkan perlindungan terhadap HPV dapat dilakukan secara lebih merata dan optimal (Fadilah etal., 2026).