News Berita

Hidup Dengan Mendekap Bayang-Bayang

Alih-alih mencoba mengkubur, Inang memilih menerima bayang-bayang sebagai bagian dari dirinya.

Hidup Dengan Mendekap Bayang-Bayang
Sumber : Ilustrasi Buatan Gemini AI
Sumber : Ilustrasi Buatan Gemini AI

Dalam sepersekian kecil hidup kita terdapat bayang-bayang yang mungkin belum kita sadari keberadaanya. Bayang-bayang ini mencuat tiba-tiba, terkadang merenggut kewarasan, terkadang berdampak pada keseharian yang tak karuan. Wadah atau inang dari bayang-bayang tidak akan sadar sebelum mantra diucap, pun bila ia sadar, sebelum mantra di ucap wadah cenderung tidak memiliki self awarness bilamana bayang-bayang akan suatu hari melahap kewarasannya dalam berpikir, atau bahkan ia belum menyadari bahwa ia adalah sebuah inang.

Bayang-bayang akan cenderung menunggu waktu yang pas untuk melahap inangnya kemudian dimuntahkan kembali, lantas untuk apa? Entahlah mungkin Ia senang melihat inangnya gila, Ia senang melihat wadah yang kokoh tiba-tiba rapuh, haha-hihi sambil mengucap mantra lantas berkata " AH.. HAHAHAH mampus inang jalang, kau sangat pantas mendapat derita!, kau tak layak hidup nyaman! dasar pendosa!"

Sumber : Ilustrasi Buatan Gemini AI
Sumber : Ilustrasi Buatan Gemini AI

"Ah sial, apa ini?" Inang kebingungan, menerpa kewarasan yang direnggut oleh asa rasa tak terbendung, lantas ia linglung mendepak muka, gila. Oh ya inang nampaknya belum sadar, ia masih bingung, bolehkah aku ucap mantra sekali lagi? kata bayang-bayang. Lantas Ia ucapkan mantra senda guraunya, terbahak-bahak, bersiap memakan isi pikiran inang kembali. Inang kembali mendengar suara dengan skema yang sama, senda gurau, haha-hihi, semacam... bertalu. Sungguh inang tidak bodoh, Ia kenal suara itu, lirih tawa itu kesana kemari menyisiri hidupnya, Inang acap kali acuh membiarkan semua hal mengalir.. semu.

Menanggapi ini inang mencoba respon baru untuk mereduksi sakitnya, alih-alih acuh Ia mencoba seirama dengan bayang-bayang, lantas tertawa puas. Perlahan inang sadar siapa dirinya, meski tak sepenuhnya mengerti namun Ia sadar terdapat stimulus yang menentukan Ia dapat waras atau tidak. Sekali lagi inang tidak bodoh, inang tidak serta merta mencoba memendam/menghilangkan stimulusnya, alih-alih Ia menerima bahwa hal yang tidak dapat sepenuhnya dimengerti ini adalah bagian dari dirinya. Inang tak menolak bayang-bayang yang tak sepenuhnya Ia mengerti, bayang-bayang tetap melakukan rutinitasnya dengan bahagia, mengucap mantra, haha-hihi, kesana kemari dalam pikiran inang. Kendati demikian inang lambat laun terbiasa, Ia menerima lahap dan muntahan bayang-bayang sebagai bagian dari dirinya, Inang hidup dengan mendekap bayang-bayang.

Inang tetap bahagia.

Buka sumber asli