News Berita

Gunung Berapi di Antartika Semburkan Debu Emas Setiap Hari ke Atmosfer

Gunung Erebus di Antarktika menyeburkan emas ke atmosfer setiap harinya. #kumparanSAINS

Gunung Berapi di Antartika Semburkan Debu Emas Setiap Hari ke Atmosfer
Citra satelit Gunung Erebus yang muncul melalui awan Antartika pada 25 November 2023. Foto: Landsat 9/NASA Earth Observatory
Citra satelit Gunung Erebus yang muncul melalui awan Antartika pada 25 November 2023. Foto: Landsat 9/NASA Earth Observatory

Ada tiga hal yang lazim terjadi ketika sebuah gunung berapi aktif meletus: Lava, abu vulkanik, dan kematian. Namun, ada satu gunung berapi di wilayah paling terpencil dan membeku di Bumi yang tampaknya bekerja dengan cara berbeda.

Di Pulau Ross, tepatnya di Laut Ross, Antarktika, berdiri Gunung Erebus, sekitar 1.350 kilometer dari Kutub Selatan. Erebus adalah gunung berapi aktif paling selatan di dunia dan memiliki danau lava permanen yang terus mendidih.

Gunung ini makin unik ketika para ilmuwan menemukan sesuatu yang tidak biasa di antara gas yang terus keluar dari kawahnya, yakni partikel mikroskopis emas murni berbentuk kristal.

Menurut studi yang dipublikasikan pada 1991 di jurnal Geophysical Research Letters, Gunung Erebus menyemburkan sekitar 80 gram debu emas mikroskopis setiap hari. Debu itu bahkan bisa terbang hingga sejauh 1.000 kilometer dari lokasi gunung berada, atau bahkan mungkin lebih jauh lagi.

Sampai sekarang, Erebus menjadi satu-satunya gunung berapi di dunia yang diketahui memuntahkan partikel emas berbentuk kristal. Namun, misteri terbesarnya bukan jumlah emas tersebut, melainkan bagaimana emas itu bisa keluar dari magma.

Keberadaan emas dalam emisi vulkanik bukan fenomena yang baru. Jejak emas pernah terdeteksi secara kimiawi di beberapa gunung berapi lain seperti Kīlauea di Hawaii, Etna di Italia, Augustine di Alaska, dan El Chichón di Meksiko.

Studi teoretis berikutnya juga menunjukkan bahwa emas dapat berpindah melalui fluida vulkanik bersuhu tinggi dan kemungkinan juga melalui gas. Hal ini cukup masuk akal secara ilmiah. Gunung berapi pada dasarnya adalah celah di kerak Bumi yang menjadi jalur keluarnya material cair dari bagian dalam planet.

Gunung Erebus di Pulau Ross Antartika. Foto: Bart Figas/Shutterstock
Gunung Erebus di Pulau Ross Antartika. Foto: Bart Figas/Shutterstock

Berbagai unsur seperti tembaga, perak, merkuri, arsenik, selenium, sulfur, hingga emas di dalam sistem itu bercampur dalam wadah peleburan alami dan dapat membentuk berbagai senyawa. Namun emas tidak menguap seperti air mendidih dari ketel.

Titik didih emas murni jauh lebih tinggi daripada suhu gunung berapi. Karena itu, para ilmuwan menduga emas ikut terbawa oleh senyawa volatil yang mengandung klorin atau sulfur, yang dapat bertahan dalam gas vulkanik panas.

Kristal Emas yang Terbentuk di Udara

Tim yang dipimpin ahli geokimia Kimberly Meeker dari New Mexico Institute of Mining and Technology, Amerika Serikat, menemukan bahwa emas di Erebus berperilaku berbeda dibanding gunung berapi lain.

Menurut laporan Science Alert, para ilmuwan mengumpulkan sampel salju di sekitar kawah, sampel dari kolom gas yang keluar dari danau lava, hingga sampel atmosfer bawah Antarktika sejauh 1.000 kilometer dari gunung.

Hasilnya, pada ketiga jenis sampel tersebut ditemukan partikel emas murni berukuran mikrometer. Saat diamati menggunakan mikroskop elektron, partikel-partikel itu tidak berbentuk acak seperti debu biasa, melainkan tampak seperti kristal geometris yang sangat rapi dan bersegi. Beberapa bahkan berukuran hingga sekitar 60 mikrometer.

Gunung Etna, gunung berapi paling aktif di Eropa saat mengeluarkan lava, Italia 2 Juli 2024.  Foto: REUTERS/Etna Walk/Giuseppe Di Stefano
Gunung Etna, gunung berapi paling aktif di Eropa saat mengeluarkan lava, Italia 2 Juli 2024. Foto: REUTERS/Etna Walk/Giuseppe Di Stefano

Menariknya, jumlah emas yang keluar dari Erebus sebenarnya lebih kecil dibanding beberapa gunung berapi lain. Berdasarkan estimasi saat itu, Kīlauea diperkirakan melepaskan 500 hingga 800 gram emas per hari, sementara Gunung Etna bisa mencapai 2,4 kilogram per hari.

Namun Erebus memiliki sesuatu yang tidak dimiliki gunung lain, kemampuan memisahkan emas dari senyawa pembawanya hingga berubah menjadi kristal murni.

Salah satu model yang diajukan peneliti menyebut emas terbawa keluar dari lava dalam bentuk senyawa volatil yang mengandung klorin. Ketika gas mulai mendingin, emas kemudian mengkristal dan akhirnya jatuh ke permukaan es Antarktika.

Masalahnya, kandungan emas di dalam gas sebenarnya sangat sedikit. Pembentukan kristal yang rapi secara spontan di udara sangat sulit dijelaskan. Hipotesis lain kemudian diajukan oleh vulkanolog Philip Kyle, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut.

Menurutnya, emas mungkin terbentuk secara perlahan sebagai lapisan tipis di permukaan danau lava sebelum akhirnya terangkat bersama aliran gas panas. Meski begitu, lebih dari 30 tahun sejak penemuan ini dipublikasikan, belum ada jawaban pasti.

Ada sesuatu dari Gunung Erebus, entah komposisi kimianya, suhu lingkungannya, kondisi geologinya, atau faktor lain yang membuatnya memiliki kemampuan unik untuk menaburkan debu emas di atas salju Antarktika seperti makhluk ajaib dalam dongeng. Sampai sekarang, misteri itu masih menunggu untuk dipecahkan.

Buka sumber asli