News Berita

Doomscrolling: Mengapa Kita Terus Membaca Kabar Buruk Meski Membuat Lelah?

Mengikuti berita itu penting, tetapi terus membaca kabar buruk tanpa henti dapat menguras energi mental. Kenali fenomena doomscrolling dan dampaknya di era digital.

Doomscrolling: Mengapa Kita Terus Membaca Kabar Buruk Meski Membuat Lelah?
Ilustrasi seseorang menggulir media sosial untuk mengikuti berbagai berita yang terus bermunculan di era digital. Sumber: Unsplash.
Ilustrasi seseorang menggulir media sosial untuk mengikuti berbagai berita yang terus bermunculan di era digital. Sumber: Unsplash.

Pernahkah Anda berniat membuka media sosial hanya selama beberapa menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam membaca berbagai kabar buruk? Mulai dari berita kecelakaan, bencana alam, konflik, pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga isu ekonomi yang terus bermunculan. Semakin banyak berita negatif yang muncul, semakin sulit rasanya berhenti menggulir layar.

Fenomena tersebut dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara terus-menerus melalui media digital. Meskipun informasi yang dibaca sering kali menimbulkan rasa cemas, sedih, atau khawatir, banyak orang tetap terdorong untuk mencari berita berikutnya. Tanpa disadari, aktivitas yang awalnya bertujuan memperoleh informasi berubah menjadi kebiasaan yang menguras energi mental.

Di era digital, informasi memang hadir tanpa batas. Berita terbaru dapat diterima dalam hitungan detik melalui media sosial, portal berita, maupun aplikasi pesan instan. Kemudahan ini membawa manfaat besar, tetapi juga membuat masyarakat semakin sulit melepaskan diri dari arus informasi yang terus mengalir.

Mengapa Kita Sulit Berhenti?

Secara alami, manusia cenderung memberikan perhatian lebih besar terhadap informasi yang dianggap sebagai ancaman. Dalam kehidupan modern, naluri tersebut masih bekerja meskipun ancaman yang dihadapi bukan lagi hewan buas, melainkan berbagai berita yang memenuhi layar ponsel. Otak menganggap informasi negatif sebagai sesuatu yang penting untuk diketahui sehingga mendorong seseorang terus mencari pembaruan.

Platform digital juga memperkuat kebiasaan tersebut. Algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan konten yang mampu menarik perhatian pengguna lebih lama. Ketika seseorang mulai berinteraksi dengan berita tertentu, sistem akan merekomendasikan konten serupa dalam jumlah yang lebih banyak. Akibatnya, pengguna semakin mudah terjebak dalam aliran informasi negatif yang seolah tidak ada habisnya.

Dampaknya Tidak Hanya pada Kesehatan Mental

Mengikuti perkembangan informasi merupakan hal yang penting. Namun, ketika dilakukan secara berlebihan, doomscrolling dapat mengganggu keseimbangan emosional. Seseorang mungkin merasa cemas terhadap berbagai peristiwa yang sebenarnya berada di luar kendalinya, sulit berkonsentrasi, atau bahkan kehilangan semangat menjalani aktivitas sehari-hari.

Selain itu, paparan informasi negatif yang terus-menerus juga dapat memengaruhi produktivitas. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar, bekerja, atau beristirahat justru habis untuk mengikuti berita yang terus diperbarui. Akibatnya, seseorang merasa lelah secara mental meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat.

Ironisnya, semakin lama seseorang melakukan doomscrolling, semakin besar pula keinginan untuk terus mencari informasi baru. Siklus ini membuat banyak orang sulit melepaskan ponsel meskipun menyadari bahwa kebiasaan tersebut tidak memberikan manfaat yang berarti.

Menjadi Pengguna Digital yang Lebih Bijak

Menghindari berita bukanlah solusi. Masyarakat tetap membutuhkan informasi untuk memahami berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar mereka. Namun, penting untuk membatasi cara dan durasi dalam mengonsumsi informasi agar tidak terjebak dalam siklus doomscrolling.

Menyisihkan waktu khusus untuk membaca berita, memilih sumber informasi yang kredibel, serta mengurangi kebiasaan membuka media sosial tanpa tujuan dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental. Selain itu, memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dari arus informasi juga bukan berarti mengabaikan realitas, melainkan menjaga keseimbangan antara mengetahui dan tetap merasa baik.

Kemajuan teknologi telah membuat informasi semakin mudah diakses kapan saja dan di mana saja. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut kemampuan baru, yaitu mengelola perhatian dan emosi saat berhadapan dengan derasnya arus informasi.

Pada akhirnya, menjadi individu yang terinformasi bukan berarti harus mengetahui setiap kabar buruk yang muncul setiap saat. Justru di tengah banjir informasi, kemampuan memilih apa yang layak dibaca, kapan harus berhenti, dan bagaimana menjaga ketenangan menjadi keterampilan yang semakin penting di era digital.

Buka sumber asli