News Berita

Dokter Internship di Jambi Meninggal, Anggota Komisi IX Dorong Evaluasi Sistem

Dokter Internship di Jambi Meninggal, Anggota Komisi IX Dorong Evaluasi Sistem #newsupdate #update #news #text

Dokter Internship di Jambi Meninggal, Anggota Komisi IX Dorong Evaluasi Sistem
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani. Foto: PKS
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani. Foto: PKS

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya sejumlah dokter peserta program internship dalam kurun waktu terakhir. Ia menilai peristiwa ini menjadi peringatan serius untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem internship di Indonesia.

“Ini bukan sekadar musibah, tetapi dapat dimaknai sebagai sinyal adanya persoalan sistemik yang harus segera dibenahi. Para dokter muda tidak boleh menjadi korban akibat sistem yang kurang sempurna,” kata Netty, Selasa (5/5/2026).

Sebagai informasi, salah satu dokter internship bernama dr. Myta Aprilia Azmi meninggal dunia dan diduga terkait beban kerja yang tinggi. Myta merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK UNSRI) dan tengah menjalani program internship di RSUD KH. Daud Arif Kuala Tungkal, Jambi.

Kepergian dr. Myta menambah daftar kasus serupa yang sebelumnya juga menjadi perhatian publik, khususnya terkait tingginya tekanan kerja serta minimnya perlindungan bagi dokter muda. Rangkaian kejadian ini memicu keprihatinan luas di masyarakat.

Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) mengucapkan belasungkawa atas wafatnya dr. Myta Aprilia Azmi di RSMH Jambi, pada 1 Mei 2026. Foto: Instagram/@ismki_indonesia
Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI) mengucapkan belasungkawa atas wafatnya dr. Myta Aprilia Azmi di RSMH Jambi, pada 1 Mei 2026. Foto: Instagram/@ismki_indonesia

Sebelumnya, tiga dokter internship lainnya juga dilaporkan meninggal dalam tiga bulan terakhir. Kasus tersebut meliputi dokter di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akibat komplikasi campak; dokter yang bertugas di Rembang, Jawa Tengah, dengan dugaan anemia; serta dokter di Denpasar, Bali, akibat komplikasi demam berdarah.

Menanggapi hal tersebut, dia menyoroti ketidakjelasan status peserta internship yang berada di antara posisi sebagai peserta didik dan tenaga layanan kesehatan.

"Kondisi ini berdampak pada lemahnya perlindungan hak, termasuk terkait jam kerja, jaminan kesehatan, serta kepastian kesejahteraan," tuturnya.

Ia juga menekankan perlunya evaluasi terhadap sistem supervisi dan pendampingan di lapangan. Menurutnya, program internship seharusnya menjadi sarana pembelajaran untuk membangun kompetensi dan kemandirian, bukan menggantikan peran tenaga medis secara penuh tanpa pengawasan yang memadai.

“Banyak laporan yang menunjukkan beban kerja tinggi, bahkan melebihi batas, serta minimnya pendampingan. Ini berisiko tidak hanya bagi dokter muda, tetapi juga bagi keselamatan pasien,” tegas Netty.

Selain itu, ia menilai sistem pengawasan dan pelaporan terhadap kondisi dokter magang masih lemah. Ia menyebut banyak peserta internship enggan melaporkan kondisi kerja yang tidak ideal karena khawatir memengaruhi penilaian dan kelulusan.

“Untuk itu, kami mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan, untuk segera melakukan langkah konkret,” ujar Legislator dari Dapil Dapil Jawa Barat VIII itu.

“Antara lain dengan melakukan evaluasi nasional terhadap seluruh wahana internship, memperkuat sistem supervisi, serta memastikan adanya mekanisme pengaduan yang aman dan independen,” lanjut politikus PKS itu.

Lebih lanjut, Netty juga mendorong pembentukan tim investigasi yang transparan dan akuntabel untuk mengungkap penyebab pasti dari rangkaian kematian dokter peserta magang tersebut, sekaligus menjadi dasar perbaikan kebijakan ke depan.

“Keselamatan dokter adalah bagian dari keselamatan pasien. Kita tidak boleh menutup mata. Ini momentum untuk melakukan pembenahan total,” pungkasnya.

Buka sumber asli