News Berita

Di Balik Mimpi Sekolah dan PTN Favorit: Tekanan yang Tak Terlihat

Standar masyarakat yang dapat mempengaruhi kesehatan mental bagi siswa, dan perjuangan di balik menggapai impiannya.

Di Balik Mimpi Sekolah dan PTN Favorit: Tekanan yang Tak Terlihat
ilustrasi aktivitas belajar mengajar (sumber:https://pixabay.com/id/illustrations/sekolah-kelas-pengajaran-guru-9337967/)
ilustrasi aktivitas belajar mengajar (sumber:https://pixabay.com/id/illustrations/sekolah-kelas-pengajaran-guru-9337967/)

Persaingan masuk sekolah, khususnya sekolah negeri, semakin susah, karena setiap daerahnya pasti memiliki sebutan sekolah unggulan, yang dianggap jika kita berhasil masuk ke sekolah tersebut kita akan dihargai dan dilihat bahwa siswa tersebut berprestasi.

Tidak sedikit siswa yang mengikuti bimbingan belajar, les tambahan hingga mengurangi waktu istirahat,bahkan ada yang mengalami tekanan psikologis demi mengejar standar "sekolah unggulan". Padahal, pemerintah sudah berupaya untuk melakukan pemerataan pembangunan pendidikan agar mengurangi kesenjangan pendidikan di setiap wilayah, namun nyatanya masih banyak siswa yang harus belajar hingga malam, les tambahan, bahkan hingga depresi karena harus mengejar jalur prestasi agar tidak terhambat oleh sistem jalur zonasi.

Dari fenomena ini dapat kita lihat bahwa kualitas pendidikan masyarakat masih sering diukur dan dinilai dari nama sekolah, bukan dari proses belajar ataupun potensi siswa tersebut. Akibatnya, muncul anggapan masyarakat bahwa siswa yang berhasil masuk sekolah unggulan akan mendapatkan masa depan yang lebih baik dibandingkan dengan sekolah biasa lainnya.

Dari pandangan masyarakat tersebut dapat membuat tekanan sosial baik bagi siswa maupun orang tua. Tidak sedikit orang tua rela untuk mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk bimbingan belajar demi meningkatkan peluang anaknya untuk masuk sekolah unggulan.

Dalam masuk perguruan tinggi negeri (PTN) juga terjadi hal yang sama, masuk PTN favorit atau biasa dikenal dengan "Top 3" yang dianggap oleh masyarakat bahwa mahasiswa dari kampus tersebut memiliki masa depan yang lebih cerah dan lebih gampang untuk masuk dalam dunia pekerjaan.

Persaingan yang semakin ketat juga membuat siswa tidak hanya menghadapi tuntutan akademik, tetapi juga mengalami tekanan sosial. Pertanyaan yang sering ditanyakan oleh masyarakat seperti "kuliah di mana?", " masuk PTN mana" sering menambah beban psikologis, bahkan ada siswa yang kehilangan rasa percaya diri atau bahkan sampai menutup diri ketika tidak berhasil lolos ke universitas impian, yang seolah masa depan ditentukan oleh nama kampus.

Padahal, keberhasilan seseorang tidak semata-mata diukur oleh tempat di mana ia menempuh pendidikan, tapi juga dari proses, kemampuan, relasi, dan usaha yang terus dikembangkan dari individu tersebut. Jika masyarakat terus menciptakan standar keberhasilan atau kesuksesan hanya dari nama sekolah atau PTN, maka sistem pendidikan akan berisiko untuk menciptakan tekanan mental yang semakin besar bagi generasi muda.

Buka sumber asli