News Berita

Cerita Ibu: Menemukan Daycare yang Tepat Bikin Hati Tenang

Perjalanan Titi Nurmalasari, seorang ibu bekerja yang mencari daycare yang aman untuk menitipkan anaknya. #momsupdate #moms #update #text

Cerita Ibu: Menemukan Daycare yang Tepat Bikin Hati Tenang
Ilustrasi Anak di Daycare. Foto: moaarif/Shutterstock
Ilustrasi Anak di Daycare. Foto: moaarif/Shutterstock

Titi Nurmalasari, seorang ibu bekerja, mulai kebingungan soal ke mana harus menitipkan anaknya, saat cuti melahirkannya hampir habis.

Sejak anak pertamanya lahir pada 2020, Titi sebenarnya sudah pernah menggunakan jasa pengasuh. Namun, menghadapi beberapa membuatnya berganti drama pengasuh sebanyak tiga kali dan hal itu membuatnya lelah secara mental.

“Karena saya capek nih, aduh lelah nih sebelum bekerja harus supaya nggak was-was gimana ya,” cerita Titi kepada kumparanMOM, Kamis (7/5).

Saat itu, daycare belum langsung menjadi pilihannya. Ia sempat ragu seperti banyak orang tua lain, yang takut menitipkan anak pada orang asing. Bersama suami dan keluarga, Titi berdiskusi panjang sebelum akhirnya memutuskan mencari daycare di sekitar rumah.

Ia tidak asal memilih. Selain mencari informasi lewat internet, Titi juga bertanya kepada teman-temannya yang lebih dulu punya pengalaman menitipkan anak di daycare.

Dari situ, ia mulai membuat daftar kecil tentang tempat seperti apa yang ia cari untuk anaknya. Harus ada akses CCTV yang bisa dipantau orang tua. Ruangannya wajib punya ventilasi baik. Menu makanan harus jelas. Pengasuh dan pemilik daycare juga harus terbuka kepada orang tua.

Mencari Tempat yang Membuat Ibu Tenang

Ilustrasi Anak di Daycare. Foto: Firdaus Photo/Shutterstock
Ilustrasi Anak di Daycare. Foto: Firdaus Photo/Shutterstock

Titi sempat mendatangi tiga hingga empat daycare di sekitar rumahnya. Daycare pertama yang ia pilih sebenarnya cukup baik: lingkungannya bersih, kamar mandi terawat, makanan anak diperhatikan, dan orang tua rutin mendapat laporan harian lewat WhatsApp berupa foto dan video kegiatan anak.

Namun saat pandemi, daycare itu belum memiliki CCTV. Meski tetap merasa terbantu, Titi masih ingin mencari tempat yang lebih sesuai dengan kebutuhannya sebagai ibu bekerja. Sampai akhirnya, sebuah rekomendasi datang dari temannya yang baru pulang dari Inggris.

“Teman saya bilang dia menitipkan dua anaknya di daycare itu, bahkan yang masih infant juga. Dari situ saya jadi tertarik buat coba survei,” katanya.

Pertemuan sederhana itu menjadi titik balik. Saat datang ke daycare tersebut, hampir semua checklist miliknya terpenuhi.

Ada CCTV yang bisa dipantau kapan saja, menu makanan dan nutrisi anak diperhatikan dan pengasuh terbuka kepada orang tua. Setiap anak memiliki buku penghubung sehingga perkembangan mereka selalu diperbarui setiap hari.

Bahkan, setiap Jumat anak-anak rutin dicek berat badan dan suhu tubuhnya. Sekitar tiga bulan sekali, mereka juga mendapat sesi bersama psikolog untuk memantau tumbuh kembangnya.

Dari sesi itu, orang tua menerima laporan perkembangan anak secara psikologis.

Titi masih mengingat salah satu catatan yang pernah ia terima tentang anaknya yang saat itu berusia tiga tahun.

“Anak saya bicaranya waktu itu pas usia 3 tahun masih ketukar-tukar. Seperti seharusnya karpet tapi anak saya menyebutnya kaplet," ujarnya.

Baginya, laporan seperti itu membantu orang tua memahami perkembangan anak yang kadang luput disadari di rumah.

Pagi yang Sibuk di Daycare

Ilustrasi balita dititipkan di daycare. Foto: MIA Studio/Shutterstock
Ilustrasi balita dititipkan di daycare. Foto: MIA Studio/Shutterstock

Kini, setelah hampir lima tahun menitipkan anak di daycare, Titi hafal betul ritme harian tempat itu.

Pukul 06.30 pagi, ia biasanya mengantar anaknya ke daycare setelah menyiapkan sarapan dari rumah. Di sana, anak-anak memulai hari dengan makan pagi, lalu sebagian dimandikan oleh pengasuh jika belum sempat mandi di rumah.

Selepas itu, kegiatan dimulai. Anak-anak diajak membaca buku cerita, bermain motorik kasar dan halus, hingga beraktivitas di luar ruangan. Kadang mereka bermain di taman, kadang berjemur bersama di bawah matahari pagi.

Sekitar pukul 10 pagi, mereka mendapat snack buah dan makanan ringan. Menjelang siang, anak-anak makan bersama sebelum tidur siang.

Sore harinya, kegiatan kembali dilanjutkan sampai waktu bermain bebas sambil menunggu dijemput orang tua.

Sebagai ibu bekerja, keberadaan CCTV menjadi sesuatu yang menenangkan. Bahkan saat tidak sempat membaca grup daycare, Titi masih bisa melihat aktivitas anaknya secara langsung.

“Pernah ada yang ulang tahun di daycare, saya baru tahu dari CCTV ternyata mereka lagi merayakan ulang tahun bersama,” ujarnya sambil tertawa.

Tidak Seram Seperti yang Dibayangkan

Ilustrasi anak-anak sedang beraktivitas di daycare Foto: Shutter Stock
Ilustrasi anak-anak sedang beraktivitas di daycare Foto: Shutter Stock

Belakangan, kasus kekerasan di daycare yang sempat ramai di Yogyakarta dan Aceh membuat banyak orang tua cemas. Namun bagi Titi, pengalaman hampir tiga tahun di daycare yang sekarang justru memberinya rasa aman.

“Karena saya bisa pantau langsung, jadi saya yakin anak-anak aman,” katanya.

Selama ini, drama yang terjadi lebih sering berupa hal-hal kecil antaranak. Kadang ada anak baru yang belum bisa beradaptasi lalu berebut mainan atau tidak sengaja mencakar temannya.

Namun menurut Titi, pihak daycare selalu terbuka menceritakan apa yang terjadi kepada orang tua.

Meski begitu, ia juga mengakui ada sisi lain dari kehidupan daycare, anak-anak lebih mudah tertular batuk pilek karena intens bertemu banyak teman sebaya.

“Tapi saya rasa di sekolah juga begitu ya,” katanya.

Di balik itu semua, ada hal lain yang justru membuat Titi merasa keputusan menitipkan anak di daycare bukan keputusan yang salah. Ia melihat anaknya tumbuh lebih mandiri, aktif bersosialisasi, dan punya ikatan kuat dengan teman-temannya. Bahkan terlalu kuat.

Karena daycare hanya menerima anak sampai usia sebelum SD, Titi mulai menghadapi drama baru yaitu perpisahan. Anaknya harus berpisah dengan teman-teman yang sejak kecil makan, tidur siang, bermain, dan tumbuh bersama setiap hari.

“Kadang anak jadi nangis karena belum mengerti kenapa harus pisah,” ujar Titi.

Di situlah ia sadar, daycare bukan lagi sekadar tempat penitipan anak. Di sana, anak-anak belajar punya dunia kecilnya sendiri.

Buka sumber asli