News Berita

Catatan Pabrikan Setelah Solar B50 Mulai Resmi Diterapkan di Indonesia

Kata Toyota dan Fuso soal penerapan solar B50 serempak di Indonesia #kumparanOTO

Catatan Pabrikan Setelah Solar B50 Mulai Resmi Diterapkan di Indonesia
Booth Mitsubishi Fuso di pameran GAIKINDO Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2026. Foto: Sena Pratama/kumparan
Booth Mitsubishi Fuso di pameran GAIKINDO Indonesia International Commercial Vehicle Expo (GIICOMVEC) 2026. Foto: Sena Pratama/kumparan

Bahan bakar solar dengan campuran unsur nabati atau biodiesel/biosolar dengan spesifikasi B50 resmi diluncurkan pemerintah. Langkah ini memantapkan peta jalan Indonesia menuju transisi menuju kemandirian energi.

Timbul pertanyaan, sudah siap kendaraan diesel yang diproduksi dan dijual di Indonesia? Beberapa pabrikan menanggapi hal tersebut, salah satunya adalah Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Aji Jaya.

"Pertama, mobil kita itu memang sudah ikut aktivitas tes dari pemerintah yang jaraknya sampai 40 ribu kilometer sejak awal Mei hingga akhir April kemarin. Juga ada beberapa merek lain yang ikut," buka Aji saat dihubungi kumparan, Jumat (10/7/2026).

Awak kumparan sempat berjumpa dengan sejumlah kendaraan diesel berupa bus dan truk yang sedang menguji bahan bakar solar B50 di salah satu rest area. Aji mengaku, salah satu unit Fuso juga melakoni pengujian serupa.

Toyota Innova Venturer 2018.  Foto: Sena Pratama/kumparan
Toyota Innova Venturer 2018. Foto: Sena Pratama/kumparan

"Nah, dari hasil pengetesan itu sebenarnya tidak ada dampak negatif yang signifikan. Jadi memang untuk nanti konsumen ada beberapa hal yang harus dilakukan, utamanya harus disiplin dalam melakukan perawatan," imbuhnya.

Dia menyebutkan, meski tidak ada isu penggunaan bahan bakar solar B50, konsumen dianjurkan menyesuaikan kebiasaan baru dalam hal perawatan rutin kendaraannya. Terutama komponen inti yang berkaitan dengan jalur bahan bakar.

"Terkait komponen-komponen yang ada di jalur bahan bakar, kira-kira begitu. Jadi, seperti fuel filter, injector itu harus dirawat dan dibersihkan secara rutin, lebih disiplin saja," jelas Aji.

Soal kompatibilitas solar B50 dengan mesin diesel kendaraan Mitsubishi Fuso terkini, Aji bilang semua mesin diesel sejak 2022 sudah wajib mengantongi sertifikasi emisi Euro 4. Artinya, sebenarnya dibutuhkan bahan bakar berkualitas tinggi.

"Intinya, mesin diesel yang kita produksi sudah harus Euro 4 sejak 2022, kan. Ini harus menggunakan cetane number (CN) 51. Kalau di pasar, itu Dex series dari Pertamina, meski di lapangan tentu lebih banyak pakai biosolar," paparnya.

Papan penanda B50 di sebuah SPBU setelah mandat pencampuran 50% biodiesel baru resmi berlaku di Karawang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia, Kamis (9/7/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
Papan penanda B50 di sebuah SPBU setelah mandat pencampuran 50% biodiesel baru resmi berlaku di Karawang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia, Kamis (9/7/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Sementara Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam menambahkan hingga saat ini tidak ada ubahan spesifikasi mesin kendaraan yang dijual di Indonesia khusus untuk penerapan solar B50 dan bensin E20.

"Tetapi pada prinsipnya kan kita ikuti Lemigas saja, yang melakukan penelitian itu Lemigas. Kalau kita tidak ada perubahan apa-apa, tetap. (Spesifikasi) Bahan bakarnya kan yang baru (spesifikasi). Mobilnya gak ada sesuatu yang baru," katanya kepada kumparan.

Sebagai salah satu basis produksi kendaraan Toyota global, TMMIN juga pernah melakukan ekspor produk kendaraan diesel yang mampu menggunakan bahan bakar biosolar B7 dan bensin dengan campuran etanol hingga 100 persen atau E100.

"Bukan hanya Toyota, saya kira merek lain juga sudah siap. Kalau Toyota sudah (bisa) E10, bahkan beberapa sudah ada yang E20," tandas Bob.

Penjelasan pengamat soal bahan bakar solar B50

Seorang pengemudi mengisi bahan bakar kendaraannya dengan biodiesel B50 di sebuah SPBU di Karawang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia, Kamis (9/7/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS
Seorang pengemudi mengisi bahan bakar kendaraannya dengan biodiesel B50 di sebuah SPBU di Karawang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia, Kamis (9/7/2026). Foto: Ajeng Dinar Ulfiana/REUTERS

Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tri Yuswidjajanto menjelaskan bahwa salah satu parameter perbedaan paling mencolok yang dibawa oleh B50 terletak pada lonjakan nilai Cetane Number (CN) atau angka setana.

Sebagai gambaran, jika mengacu pada basis spesifikasi regulasi lama, minyak solar bumi murni memiliki angka CN 48, sedangkan komponen biodiesel murni memiliki nilai CN 51.

"Jadi kalau B50, (CN) 48 tambah 51 bagi 2. Berarti sekitar 49,5-an. Artinya kan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan B40 yang sekarang terimplementasi," buka Tri Yuswidjajanto dihubungi kumparan, Jumat (19/6/2026).

Di luar persoalan angka setana, perbedaan fisik lain dari B50 yang wajib diantisipasi adalah tingkat kekentalan atau viskositas serta massa jenis (densitas) yang jauh lebih tinggi dibandingkan solar biasa.

Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) bersama Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri (kanan) meninjau implementasi Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) bersama Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri (kanan) meninjau implementasi Program Mandatori Biodiesel B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO

Sifat dasar minyak nabati yang cenderung lebih kental ini berisiko membuat butiran kabut bensin yang disemprotkan oleh injektor menjadi lebih kasar.

"Karena viskositasnya di diesel (biodiesel) itu lebih kental dibanding solar, ada kemungkinan tidak seluruh bahan bakarnya habis terbakar," papar Tri.

Untungnya, seluruh potensi penurunan performa dan tarikan berat ini dipastikan tidak akan menjangkiti lini kendaraan diesel modern yang sudah mengadopsi sistem Common Rail. Kendaraan roda empat keluaran tahun 2003 ke atas umumnya telah dipersenjatai dengan sistem Electronic Fuel Injection (EFI) yang cerdas.

Melalui kawalan komputasi mobil atau ECU, sistem injeksi elektronik pada mobil modern secara otomatis akan mendeteksi perubahan jenis bahan bakar secara real-time. Komputer akan langsung memundurkan waktu penyemprotan bahan bakar mendekati titik puncak kompresi, sehingga potensi hilangnya tenaga mesin dapat langsung dieliminasi secara mandiri.

Buka sumber asli