Cadangan Emas Raksasa Ditemukan di Bawah Laut, Ini Lokasinya
Para ilmuwan menemukan salah satu lokasi dengan kandungan emas tertinggi di dunia. #kumparanSAINS

Para ilmuwan menemukan salah satu lokasi dengan kandungan emas tertinggi di dunia. Lokasinya ada di dasar laut Jepang. Endapan emas tersebut ada di dalam kawah gunung api bawah laut yang masih aktif, sehingga dinilai berpotensi menjadi lokasi tambang emas komersial pertama di lautan.
Namun, di balik potensi ekonomi yang sangat besar, penemuan ini memicu perdebatan mengenai masa depan ekosistem laut dalam yang hingga kini masih minim dipahami. Temuan tersebut dipublikasikan di jurnal Scientific Reports hanya beberapa bulan setelah sekelompok ilmuwan internasional menyerukan agar kawasan ventilasi hidrotermal di dasar laut dilindungi dari aktivitas pertambangan komersial.
Lokasi konsentrasi emas raksasa itu berada di kaldera Higashi-Aogashima, sekitar 350 kilometer di selatan Tokyo, tepatnya di dalam zona ekonomi eksklusif Jepang. Di kawasan ini, para peneliti menemukan cerobong hidrotermal atau black smoker dan gundukan hidrotermal yang masih aktif mengeluarkan fluida panas kaya mineral dari dasar laut.
Proses geologi tersebut secara alami membentuk butiran emas dalam jumlah besar. Menariknya, sebagian besar emas itu bukan berupa bongkahan yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Sebaliknya, emas hadir dalam bentuk "tak terlihat" yang tersembunyi di dalam material dasar laut.
Tim peneliti dari Shizuoka University, Waseda University, dan The University of Tokyo menganalisis sampel batuan menggunakan teknik Secondary-Ion Mass Spectrometry (SIMS), sebuah metode yang sangat sensitif untuk mendeteksi kandungan emas dalam jumlah sangat kecil.
Hasil analisis menunjukkan adanya endapan emas berkadar sangat tinggi yang tersembunyi di dalam mineral pirit (pyrite). Pirit merupakan mineral sulfida yang tersusun dari besi dan sulfur. Karena tampilannya yang berwarna keemasan, mineral ini sering dikenal sebagai fool's gold atau emas palsu.

Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa emas asli memang benar-benar tersembunyi di dalam pirit. Para ilmuwan menemukan emas dalam dua bentuk, yakni nanopartikel emas dan atom emas yang terikat langsung pada struktur kimia mineral tersebut.
Menurut para peneliti, kandungan emas pada pirit di kaldera Higashi-Aogashima kini menjadi yang tertinggi yang pernah ditemukan di dunia. Selain memiliki kandungan emas yang sangat tinggi, lokasi tersebut juga berada pada kedalaman yang relatif lebih dangkal dibandingkan kawasan hidrotermal lain di Jepang yang juga mengandung logam berharga.
Kombinasi antara akses yang lebih mudah dan kadar emas yang tinggi membuat Higashi-Aogashima dinilai sangat menarik untuk dikembangkan sebagai tambang emas bawah laut pada masa depan.
Kendati begitu, hingga saat ini belum ada satu pun tambang emas komersial yang benar-benar beroperasi di dasar laut. Salah satu tantangan terbesar adalah belum ditemukannya cara murah dan efisien untuk mengekstraksi emas tak terlihat dari material dasar laut.
Beberapa tahun lalu, upaya membangun tambang bawah laut di lepas pantai Papua Nugini gagal total setelah perusahaan pengembang mengalami kesulitan finansial dan menghadapi gelombang protes terkait dampak lingkungan.

Kegagalan proyek tersebut dilaporkan membuat Papua Nugini mengalami kerugian sekitar 85 juta dolar AS atau setara Rp 1,5 triliun. Kini pemerintah Papua Nugini tetap berkomitmen mempertahankan moratorium terhadap aktivitas pertambangan laut dalam. Sejumlah negara di kawasan Pasifik juga mendukung penundaan aktivitas serupa hingga 2030.
Namun, Jepang mengambil arah berbeda. Negeri Sakura itu terus melanjutkan riset mengenai penambangan laut dalam meski masih menghadapi berbagai kekhawatiran dari sisi lingkungan maupun kebijakan publik.
Bahkan sebelum penelitian terbaru ini dipublikasikan, kawasan hidrotermal Higashi-Aogashima telah lama diyakini sebagai salah satu lokasi dengan kandungan emas tertinggi pada endapan sulfida dasar laut.
Analisis terbaru menunjukkan jumlah emas yang tersimpan di kawasan tersebut ternyata lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Di sisi lain, para ilmuwan mengingatkan bahwa masih sangat sedikit informasi mengenai kehidupan laut yang menghuni kawasan ventilasi hidrotermal Higashi-Aogashima sejak pertama kali ditemukan pada 2015. Artinya, aktivitas penambangan berpotensi mengganggu ekosistem yang hingga kini belum sepenuhnya dipahami.
Karena itu, penemuan cadangan emas ini bukan hanya membuka peluang ekonomi baru, tetapi juga menghadirkan pertanyaan besar mengenai masa depan konservasi laut dalam.