Bukan Sekadar Gulma: Mengenal Pisang Liar dan Potensi Seratnya
Pisang liar bukan sekadar gulma tapi memiliki potensi yang bernilai ekonomi.
Apakah pisang liar itu?
Pertanyaan itu akan menimbulkan jawaban sekaligus pertanyaan kembali yang beragam. Apakah tumbuhan pisang yang sering kita temui di pinggir jalan? Apakah tumbuhan pisang yang tumbuh di pekarangan orang meskipun tanpa ditanam? Apakah tumbuhan pisang yang ada di hutan? Atau pisang batu?
Berbagai definisi mungkin akan diajukan untuk menjelaskan mengenai pisang liar, mungkin definisi berdasarkan tempat hidupnya, perawakannya atau buahnya yang berbiji. Secara umum yang disebut pisang liar adalah pisang yang tidak dibudidayakan, berbiji banyak, dan berkembang biak melalui penyerbukan alami.
Pisang liar sering disebut juga pisang hutan, padahal tidak selalu tumbuh di hutan. Bahkan pisang liar sering kita temukan di pinggir jalan, tanah yang terbengkalai, kebun, sawah atau bahkan di halaman rumah. Dibalik penampilannya yang sederhana, pisang liar ternyata menyimpan potensi bernilai ekonomi sebagai sumber serat.
Potensi pisang liar sebagai bahan serat alam
Berdasarkan situs web Plant of The World Online, jumlah pisang liar di dunia mencapai lebih dari 80 jenis termasuk lebih dari 10 jenis yang tumbuh di Indonesia, seperti pisang abaka (Musa textilis), M. borneensis, dan M. salaccensis. Sekilas, pisang liar memiliki perawakan yang biasanya lebih ramping dengan daun cenderung tumbuh vertikal dan tidak terlalu lebar.
Sedangkan, pisang budidaya umumnya memiliki batang yang lebih besar dan daun tumbuh horizontal. Jika berbuah, maka akan kita temukan pisang liar mengandung banyak biji dengan daging buah yang tipis. Sebaliknya, kita hampir tidak dapat menemukan biji pada buah pisang budidaya. Begitupun dari warna “jantung” pisang. Pisang liar mempunyai warna yang beragam, keunguan, jingga, sampai dengan warna kuning.

Keragaman jenis pisang liar di Indonesia sampai dengan saat ini masih terus digali oleh peneliti-peneliti Indonesia, baik dari sisi sains maupun potensi pemanfaatannya. Beberapa penelitian telah mengamati serat dari jenis-jenis pisang yang dibudidayakan, seperti beberapa variasi dari M. acuminata dan M. balbisiana yang memiliki serat yang panjang dan kuat, sehingga mempunyai potensi sebagai bahan pembuatan kertas. Serat pisang yang dimanfaatkan tersebut umumnya berasal dari limbah batang semu pisang yang telah dipanen buahnya. Sedangkan, jenis pisang liar lainnya belum banyak dikenal oleh masyarakat karena seringkali pisang liar dianggap sebagai gulma atau tumbuhan pengganggu sehingga merasa perlu untuk ditebang.
Industri pemanfaatan serat pisang
Industri serat pisang di dunia, sebenarnya telah dimulai sejak lama, dengan memanfaatkan limbah batang semu pisang. Namun, dengan perkembangan teknologi dan ilmu, pemanfaatan serat ini mulai dilirik dan masuk dalam industri skala besar. Di luar negeri, seperti Filipina, Jepang, India dan Vietnam serat pisang tidak hanya dimanfaatkan sebagai pembungkus makanan, tetapi juga dibuat dalam bentuk lain. Berdasarkan Balda et al. pada tahun 2021, serat pisang dimanfaatkan juga sebagai bahan kebersihan (tisu atau pembalut wanita), kertas atau dipintal menjadi benang untuk industri fashion.

Laporan yang dapat dilihat pada situs web Business Research Insight menyebutkan bahwa negara-negara di Asia-Pasifik memenuhi 52% kebutuhan pasar dunia untuk kertas berbahan serat pisang dan Indonesia merupakan salah satu negara yang menyumbang bahan tersebut. Dalam industri fashion, berdasarkan situs web musapacta.com.vn., serat pisang mempunyai karakteristik serat yang halus menyerupai serat sutra. Selain itu, serat pisang juga merupakan bahan yang biodegradable sehingga ramah lingkungan dan aman.
Perdagangan serat pisang ini pun telah marak di Indonesia. Jika kita berselancar di internet dengan mengetik “serat pisang”, maka akan muncul platform perdagangan online yang memperlihatkan penjualan serat pisang di Indonesia dengan harga yang dapat mencapai lebih dari Rp200.000/kg. Meskipun serat pisang telah masuk dalam perdagangan online, namun belum sebesar industri serat pisang di luar negeri, padahal Indonesia memiliki potensi besar.
Dengan perkembangan dan minat pasar saat ini, serat yang berasal dari pisang liar dapat menjadi salah satu bahan serat alternatif selain kapas atau bahan pembuatan kertas. Namun, pemanfaatan serat pisang liar tersebut tentu saja harus dilakukan dengan bijak dan berkelanjutan (sustainable), sehingga pisang liar tidak hanya dimanfaatkan tetapi juga tetap harus dijaga kelestarian keragaman genetik dan populasinya.