News Berita

Budaya yang Membuat Perempuan Saling Menjatuhkan

Perempuan sering kali lebih keras menghakimi sesama perempuan dibanding laki-laki. Mulai dari standar kecantikan, persaingan sosial, hingga fenomena kampus cantik.

Budaya yang Membuat Perempuan Saling Menjatuhkan
ilustrasi: perbandingan perempuan foto:chatGPT
ilustrasi: perbandingan perempuan foto:chatGPT

Tulisan ini dibuat karena penulis sering melihat banyak perempuan di media sosial, terutama di Threads, mempertanyakan satu hal yang sama: kenapa sesama perempuan justru sering lebih keras menghakimi perempuan lain. Banyak perempuan mengeluhkan bagaimana komentar tentang tubuh, wajah, cara berpakaian, pilihan hidup, bahkan urusan hubungan sering kali datang dari sesama perempuan dan terasa lebih menyakitkan dibanding penilaian dari laki-laki.

Fenomena ini sebenarnya bukan terjadi begitu saja. Cara perempuan memandang sesama perempuan dibentuk oleh budaya patriarki yang sudah ditanamkan sejak kecil. Banyak anak perempuan dibesarkan dengan tuntutan untuk menjadi “perempuan baik-baik”. Mereka diajarkan untuk sopan, lembut, tidak boleh terlalu berani, tidak boleh terlalu vokal, harus menjaga penampilan, dan harus diterima lingkungan sosial. Sementara anak laki-laki lebih sering diberi ruang untuk bebas, aktif, dan dianggap wajar ketika melakukan kesalahan tertentu.

Perempuan sering dibesarkan dengan berbagai aturan yang berhubungan dengan tubuh dan penampilannya. Mereka diajarkan harus berpakaian tertentu, tidak boleh terlalu terbuka, harus tertutup, tidak boleh memakai make up berlebihan, tidak boleh menggunakan parfum yang dianggap terlalu mencolok, hingga dilarang pulang malam karena dianggap bisa “mengundang” laki-laki. Sementara dalam banyak situasi, beban untuk mengontrol perilaku laki-laki justru lebih jarang dibicarakan.

Pengawasan sosial seperti itu membuat banyak perempuan tumbuh dengan tekanan untuk selalu menjaga citra diri di depan orang lain. Tubuh dan penampilan perempuan terus dijadikan objek penilaian moral oleh lingkungan sekitar. Akibatnya, banyak perempuan takut dianggap tidak baik, tidak pantas, tidak feminin, atau tidak cukup sesuai dengan standar sosial yang berlaku. Artinya, sejak awal perempuan sudah dibiasakan melihat dirinya melalui penilaian orang lain. Rasa berharga mereka akhirnya sering bergantung pada bagaimana lingkungan memandang penampilan, sikap, dan perilaku mereka. Dari situ budaya saling membandingkan antarsesama perempuan mulai terbentuk.

Pemikiran ini bisa dijelaskan melalui teori Simone de Beauvoir dalam The Second Sex. Beauvoir menjelaskan bahwa perempuan dalam budaya patriarki selama ini diposisikan sebagai “the Other” atau pihak kedua dalam masyarakat. Perempuan tidak dilihat sebagai manusia utuh yang bebas menentukan dirinya sendiri, tetapi lebih sering dinilai berdasarkan standar sosial yang dibentuk lingkungan. Karena itu, perempuan sejak kecil didorong untuk menjadi “perempuan baik-baik” sesuai harapan masyarakat, bukan menjadi dirinya sendiri secara bebas.

Sejak remaja hingga dewasa, perempuan mulai dihadapkan pada standar kecantikan yang semakin kuat di lingkungan sosial. Perempuan perlahan diajarkan bahwa penampilan memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana mereka diperlakukan dan dihargai. Dari situ muncul tekanan untuk selalu terlihat menarik, rapi, cantik, dan sesuai dengan gambaran ideal yang dibentuk masyarakat. Tidak sedikit perempuan akhirnya merasa bahwa diterima atau tidaknya mereka dalam pergaulan sering bergantung pada penampilan fisik.

Standar kecantikan itu pun terus berubah mengikuti tren, tetapi tekanannya tetap sama. Kulit harus putih, tubuh harus langsing, wajah harus mulus, rambut harus rapi, dan penampilan harus sesuai standar sosial yang sedang populer.

Karena sejak kecil perempuan sudah dibiasakan melihat nilai dirinya melalui penilaian orang lain, banyak perempuan akhirnya merasa harus memenuhi standar kecantikan yang dianggap ideal oleh lingkungan sosial tersebut. Perempuan pun tanpa sadar terbiasa saling membandingkan satu sama lain. Mereka yang dianggap paling mendekati standar tersebut biasanya mendapat lebih banyak perhatian dan pengakuan sosial. Kondisi itu akhirnya membuat banyak perempuan berlomba-lomba mengejar standar kecantikan yang sama agar tidak dianggap kurang menarik atau tertinggal dibanding perempuan lain.

Contohnya terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak perempuan rela mengeluarkan banyak uang untuk skincare, kosmetik, atau perawatan tubuh demi mendapatkan standar cantik yang dianggap ideal oleh masyarakat. Di media sosial pun, standar seperti body goals, kulit cerah, dan wajah sempurna terus dipromosikan seolah menjadi ukuran utama nilai perempuan. Sementara di sisi lain, laki-laki umumnya tidak mendapat tekanan standar fisik yang seketat itu.

Fenomena ini juga terlihat dalam cara perempuan memandang penggunaan skincare, make up, dan produk kecantikan lainnya. Di satu sisi, ada perempuan yang merasa standar cantik harus dipenuhi melalui perawatan diri dan penampilan fisik. Akibatnya, perempuan yang tidak mengikuti standar tersebut sering dijadikan bahan komentar seperti dianggap kurang merawat diri, kulitnya gelap, tidak menarik, atau kurang pantas untuk diperhatikan. Penampilan akhirnya dijadikan ukuran utama untuk menilai nilai diri perempuan.

Namun di sisi lain, perempuan yang sejak kecil mempertahankan nilai bahwa perempuan tidak boleh memakai make up berlebihan dan harus menjaga citra agar terlihat “baik” juga sering ikut mengomentari perempuan lain yang terlalu memperhatikan penampilan. Tidak sedikit yang mengatakan “make up-nya menor”, “buat apa dandan berlebihan”, atau “nanti malah mengundang laki-laki”. Akibatnya, perempuan berada dalam posisi yang serba salah. Ketika tidak mengikuti standar kecantikan mereka dianggap kurang menarik, tetapi ketika mengikuti standar tersebut pun tetap mendapat penilaian negatif.

Akibatnya, tubuh dan penampilan perempuan terus menjadi bahan penilaian sosial. Apa pun pilihan yang diambil, perempuan tetap mudah mendapat komentar dan penghakiman dari lingkungan sekitar, termasuk dari sesama perempuan.

Situasi itu juga terlihat dalam relasi percintaan saat remaja. Di lingkungan sekolah misalnya, perhatian dari laki-laki yang dianggap populer sering dijadikan simbol status sosial. Tidak jarang perempuan akhirnya saling membandingkan penampilan, gaya bicara, hingga cara bergaul demi mendapatkan pengakuan di lingkungan pertemanan. Secara tidak langsung, kedekatan dengan laki-laki tertentu kemudian dianggap sebagai tanda bahwa seorang perempuan lebih menarik dan lebih layak mendapat perhatian dibanding perempuan lain.

Dalam kondisi seperti itu, lingkungan sosial secara tidak langsung juga mendorong perempuan untuk bersaing dengan sesama perempuan demi mendapatkan perhatian laki-laki yang dianggap populer. Perempuan yang berhasil dekat dengan laki-laki tersebut sering dianggap lebih cantik, lebih menarik, atau lebih unggul dibanding yang lain. Akibatnya, banyak perempuan mulai merasa perlu menjaga penampilan, cara berbicara, dan citra diri agar tetap dianggap menarik dan mendapat pengakuan dari lingkungan sekitar.

Di lingkungan akademik pun perempuan tetap terus dibandingkan dan ditempatkan sebagai objek visual dengan maraknya fenomena “kampus cantik”. Saat ini banyak konten media sosial yang menjadikan mahasiswi sebagai objek visual dengan label “kampus banyak cewek cantik”, “mahasiswi tercantik”, atau konten serupa. Sepintas mungkin terlihat seperti hiburan biasa, tetapi sebenarnya budaya ini mempertegas bahwa perempuan masih dinilai dari penampilan fisiknya.

Yang lebih disayangkan, perempuan sendiri sering ikut terlibat dalam budaya tersebut. Ada yang ikut membandingkan, ikut menentukan siapa yang lebih cantik, bahkan menjadikan penampilan sebagai ukuran nilai seseorang. Akibatnya, kampus yang seharusnya menjadi ruang intelektual berubah menjadi ruang penilaian visual.

Mahasiswi yang memenuhi standar kecantikan tertentu akan lebih mudah mendapat perhatian, sementara perempuan lain sering merasa tidak cukup menarik. Padahal seharusnya dunia kampus menjadi tempat adu gagasan, adu prestasi, dan pengembangan kemampuan akademik, bukan tempat memperlombakan penampilan.

Karena itu, perempuan sering kali menjadi pihak yang paling aktif mengomentari dan menjaga standar tersebut tetap hidup. Tidak sedikit perempuan yang dengan mudah mengomentari tubuh perempuan lain, membandingkan wajah, menilai cara berpakaian, atau merendahkan perempuan yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan tertentu. Kalimat seperti “kok sekarang gemukan?”, “kulitnya gelap”, “cewek harusnya feminim”, atau “cewek cantik itu yang begini” sering justru datang dari sesama perempuan.

Penghakiman terhadap sesama perempuan juga terlihat jelas dalam kasus pelecehan seksual. Tidak sedikit korban justru mendapat pertanyaan dan komentar yang menyalahkan dirinya sendiri, bahkan dari sesama perempuan. Kalimat seperti “makanya pakai baju yang sopan”, “ngapain keluar malam”, “kenapa pergi ke tempat seperti itu”, atau “pasti ada alasannya” sering muncul ketika membahas korban pelecehan seksual.

Cara berpikir seperti ini menunjukkan bagaimana perempuan sejak kecil dibentuk untuk selalu menjaga norma dan citra diri. Akibatnya, ketika ada perempuan yang dianggap keluar dari standar atau aturan sosial yang diyakini lingkungan, sebagian perempuan lain justru lebih mudah menghakimi dibanding melihat posisi korban secara utuh. Fokus pembicaraan akhirnya bukan lagi pada tindakan pelaku, tetapi bergeser pada bagaimana korban berpakaian, pergi, atau bersikap.

Padahal cara pandang seperti itu justru memperkuat budaya victim blaming dan memperparah kondisi korban. Korban yang seharusnya mendapat dukungan malah merasa takut disalahkan, dipermalukan, atau tidak dipercaya. Akibatnya banyak korban memilih diam karena khawatir akan mendapat penghakiman sosial, termasuk dari sesama perempuan.

Kalau mau dibuat analogi yang lebih gampang dipahami, coba lihat fenomena istilah “pelakor”. Label itu langsung melekat ke perempuan yang dianggap merebut pasangan orang lain. Kata tersebut punya nada yang sangat menyalahkan, bahkan sering membuat perempuan menjadi sasaran hujatan massal di media sosial.

Sekarang coba dibandingkan, apakah ada istilah untuk laki-laki yang dampaknya sekuat dan sepopuler “pelakor”? Memang ada beberapa sebutan untuk laki-laki yang melakukan hal serupa, tetapi penggunaannya tidak sebesar dan setajam istilah pelakor. Dalam banyak kasus, laki-laki justru lebih sering dimaklumi, dianggap “namanya juga laki-laki”, atau kesalahannya tidak dibahas sebesar perempuan yang terlibat.

Ketika ada masalah dalam relasi, perempuan sering lebih cepat dijadikan pusat penilaian moral. Fokus masyarakat akhirnya bergeser bukan pada situasi secara utuh atau tanggung jawab kedua pihak, melainkan pada satu perempuan yang dianggap paling bersalah.

Yang lebih ironis, penghakiman itu sering datang dari sesama perempuan yang tanpa sadar ikut menjaga standar moral dan sosial yang sudah lama dibentuk lingkungan. Karena terlalu lama hidup dalam tekanan standar tersebut, banyak perempuan akhirnya terbiasa melihat perempuan lain melalui ukuran moral yang sama.

Sementara dalam konteks yang sama, laki-laki tidak selalu mendapat tekanan sosial dan moral yang seketat perempuan. Akibatnya, budaya saling menghakimi antar laki-laki tidak muncul sekeras yang terjadi pada perempuan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan yang menghakimi sesama perempuan bukan muncul begitu saja secara alami. Cara pandang itu terbentuk dari konstruksi sosial yang sudah ditanamkan sejak masa kecil. Perempuan tumbuh dalam lingkungan yang terus memberi standar tentang bagaimana perempuan “seharusnya” bersikap, tampil, dan hidup. Mereka dibiasakan untuk mengejar pengakuan sosial, memenuhi ekspektasi lingkungan, dan tanpa sadar terus membandingkan dirinya dengan perempuan lain.

Pemikiran ini sejalan dengan teori Simone de Beauvoir dalam The Second Sex yang menjelaskan bahwa perempuan selama ini dibentuk untuk melihat dirinya melalui sudut pandang masyarakat patriarki. Perempuan akhirnya lebih sering dinilai berdasarkan penampilan, citra, dan penerimaan sosial dibanding sebagai individu yang bebas menentukan dirinya sendiri. Karena itu, standar sosial terhadap perempuan terus diwariskan dan dijaga bahkan oleh sesama perempuan tanpa disadari.

Akibatnya, ketika ada perempuan yang dianggap lebih cantik, lebih sukses, lebih menarik, atau justru dianggap keluar dari norma yang ada, penilaian dan penghakiman lebih mudah muncul. Perempuan akhirnya tidak hanya menjadi korban standar sosial patriarki, tetapi juga ikut menjaga dan meneruskan standar itu kepada sesama perempuan.

Karena itu, melihat perempuan saling menghakimi tidak cukup dipahami hanya sebagai persoalan individu atau sifat personal semata. Ada budaya patriarki yang panjang dalam membentuk cara perempuan memandang dirinya sendiri dan perempuan lain. Selama perempuan masih terus ditempatkan dalam standar yang sempit dan terus dibandingkan satu sama lain, budaya saling menjatuhkan akan tetap terus berulang di berbagai bentuk kehidupan sosial.

Buka sumber asli