News Berita

Berpotensi Langgar Aturan, Merger Paramount dan Warner Bros. Ditunda

Rencana merger senilai sekitar USD 110 miliar antara Paramount Skydance dan Warner Bros. Discovery (WBD) untuk sementara harus tertunda. #kumparanHITS #newsupdate

Berpotensi Langgar Aturan, Merger Paramount dan Warner Bros. Ditunda
lustrasi logo Warner Bros. Foto: Shutterstock
lustrasi logo Warner Bros. Foto: Shutterstock

Rencana merger senilai sekitar USD 110 miliar atau sekitar Rp 1.967 triliun antara Paramount Skydance dan Warner Bros. Discovery (WBD) untuk sementara harus tertunda.

Dilansir Variety, perintah penundaan merger itu dikeluarkan oleh hakim federal di Amerika Serikat mengabulkan permintaan penghentian sementara atau Temporary Restraining Order (TRO) sehingga kedua perusahaan belum bisa menyelesaikan proses merger mereka.

Namun, perintah tersebut tak berarti bahwa merger antara Paramount Skydance dan Warner Bros. Discovery dibatalkan. Pengadilan hanya menghentikan sementara prosesnya sambil menunggu sidang lanjutan yang akan menentukan apakah transaksi ini boleh diteruskan atau justru harus ditahan lebih lama.

Berawal dari Gugatan Koalisi 12 Negara Bagian

Penundaan ini bermula dari gugatan yang diajukan oleh koalisi 12 negara bagian di Amerika Serikat yang dipimpin oleh California. Koalisi itu menilai bahwa penggabungan Paramount dan Warner Bros. Discovery berpotensi melanggar undang-undang antimonopoli federal.

Menurut para penggugat, jika merger tetap berjalan, perusahaan hasil gabungan tersebut akan memiliki pengaruh yang sangat besar di industri hiburan. Mulai dari distribusi film layar lebar, jaringan televisi kabel, hingga layanan streaming.

Ilustrasi paramount pictures. Foto: Twin Design/Shutterstock
Ilustrasi paramount pictures. Foto: Twin Design/Shutterstock

Kondisi itu dikhawatirkan menimbulkan dampak buruk bagi publik. Beberapa kemungkinan buruk yang bisa terjadi di antaranya ialah mengurangi persaingan, membatasi pilihan konsumen, dan berdampak pada pekerja di industri kreatif.

Hakim Araceli Martínez-Olguín menilai gugatan tersebut cukup kuat untuk dipertimbangkan. Karena itu, ia memutuskan merger perlu dihentikan sementara agar tidak menimbulkan dampak yang sulit dipulihkan jika nantinya pengadilan memutuskan transaksi tersebut melanggar hukum.

"Bukti yang diajukan oleh Negara Penggugat setidaknya menunjukkan bahwa masih ada pertanyaan serius mengenai pokok perkara, yang mendukung pemberian perintah sementara," tutur Araceli.

Araceli menambahkan bahwa kedua belah pihak tak akan dirugikan dalam perintah penundaan itu. Katanya, kedua perusahaan masih bisa beroperasi seperti biasa.

"Paramount dan Warner Bros. akan terus beroperasi sebagai perusahaan terpisah yang layak dan bersaing di pasar sambil menunggu Pengadilan untuk memutuskan kasus ini," ujar Araceli.

"Keseimbangan keadilan, dikombinasikan dengan kepentingan publik yang vital dalam penegakan antimonopoli, oleh karena itu sangat condong mendukung permohonan perintah sementara," tambahnya.

Penundaan Diberlakukan Hingga Sidang Berikutnya Digelar

lustrasi logo Warner Bros. Foto: Shutterstock
lustrasi logo Warner Bros. Foto: Shutterstock

Dalam sistem hukum Amerika Serikat, Temporary Restraining Order (TRO) merupakan perintah pengadilan yang menghentikan sementara suatu tindakan hingga sidang berikutnya digelar. Dalam perkara ini, Paramount dan Warner Bros. Discovery belum dinyatakan kalah ataupun menang.

Status merger mereka masih menggantung sampai pengadilan memutuskan apakah penundaan perlu diperpanjang melalui preliminary injunction atau justru dicabut sehingga transaksi bisa dilanjutkan. Sidang lanjutan perkara tersebut telah dijadwalkan berlangsung pada 3 Agustus 2026.

Alasan Proses Merger Paramount-Warner Bros. Jadi Sorotan

Jika terlaksana, merger ini akan menyatukan dua pemain besar Hollywood dalam satu perusahaan. Warner Bros. Discovery saat ini menaungi berbagai aset hiburan seperti Warner Bros. Pictures, HBO, HBO Max, CNN, DC Studios, hingga Discovery.

Sementara Paramount memiliki Paramount Pictures, CBS, Paramount+, Nickelodeon, MTV, dan Comedy Central. Gabungan aset tersebut diperkirakan akan menciptakan salah satu perusahaan media dan hiburan terbesar di dunia.

Sejumlah pihak menilai proses merger itu dapat menyebabkan harga lebih tinggi serta lebih sedikit film dan acara TV. Situasi ini lah yang membuat pemerintah sejumlah negara bagian, termasuk Amerika Serikat, memberikan pengawasan ketat terhadap proses merger tersebut.

Untuk saat ini, memang belum ada perubahan bagi pelanggan layanan streaming maupun jadwal perilisan film. HBO Max, Paramount+, dan layanan lain tetap beroperasi seperti biasa.

Hasil sidang berikutnya baru lah akan menjadi penentu arah merger ini. Jika pengadilan memutuskan penundaan diperpanjang, proses akuisisi bisa molor. Sebaliknya, jika TRO dicabut, Paramount dapat melanjutkan penyelesaian transaksi sesuai rencana.

Buka sumber asli