News Berita

Berapa Kali Ibu Bisa Menjalani Operasi Caesar? Ini Penjelasan Dokter

Dokter kandungan memberikan penjelasan soal berapa kali ibu bisa menjalani operasi caesar yang aman. #momsupdate #update #mom #text

Berapa Kali Ibu Bisa Menjalani Operasi Caesar? Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi melahirkan secara caesar. Foto: Supawat Eurthanaboon/Shutterstock
Ilustrasi melahirkan secara caesar. Foto: Supawat Eurthanaboon/Shutterstock

Banyak ibu bertanya-tanya, apakah operasi caesar hanya boleh dilakukan maksimal dua kali? Ya Moms, kekhawatiran ini wajar, terutama bagi ibu yang berencana menambah momongan setelah pernah melahirkan secara caesar.

Namun sebenarnya, adakah batasan pasti terkait jumlah operasi caesar yang aman dilakukan?

Ilustrasi bekas luka operasi caesar.  Foto: Shutterstock
Ilustrasi bekas luka operasi caesar. Foto: Shutterstock

Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Dinda Derdameisya, SpOG, menjelaskan, hingga saat ini belum ada penelitian yang menetapkan jumlah maksimal operasi caesar yang boleh dijalani seorang ibu.

“Sebenarnya belum ada studi yang membuktikan harus berapa kali maksimal operasi caesar,” ujar dr. Dinda.

Meski demikian, bukan berarti operasi caesar dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan risikonya. Sebab, setiap tindakan operasi bisa meningkatkan potensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan berikutnya.

Risiko Operasi Caesar Bisa Meningkat Seiring Jumlah Tindakan

Menurut dr. Dinda, risiko komplikasi cenderung meningkat setiap kali seorang ibu menjalani operasi caesar.

Beberapa komplikasi yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Perdarahan saat operasi

  • Perlengketan jaringan atau adhesi

  • Meningkatnya risiko infeksi

Selain itu, ada satu komplikasi serius yang risikonya juga meningkat seiring bertambahnya jumlah operasi caesar, yaitu plasenta akreta.

Waspadai Risiko Plasenta Akreta

Plasenta akreta adalah kondisi ketika plasenta menempel terlalu dalam pada dinding rahim, terutama di area bekas luka operasi caesar sebelumnya. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan hebat saat persalinan dan membutuhkan penanganan khusus.

“Salah satu komplikasi yang paling berbahaya adalah meningkatnya risiko plasenta menempel pada bekas caesar sebelumnya, yang biasa kita kenal dengan plasenta akreta,” kata dr. Dinda.

Meski begitu, tidak perlu panik, Moms. Dengan pemeriksaan kehamilan yang rutin dan deteksi dini, risiko komplikasi dapat diantisipasi sejak sebelum persalinan.

“Dengan penanganan yang baik, kondisi ini dapat dideteksi sebelum persalinan, sehingga risiko komplikasi bisa dipersiapkan dan operasi dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.

Jadi, yang paling penting adalah berkonsultasi secara rutin dengan dokter kandungan. Sebab, dokter akan menilai kondisi kesehatan ibu, riwayat persalinan sebelumnya, serta risiko yang mungkin muncul untuk menentukan rencana persalinan yang paling aman.

Buka sumber asli