News Berita

Benua Afrika Diprediksi Terbelah Lebih Cepat, Samudra Baru Akan Terbentuk

Sebuah retakan aktif di Benua Afrika kini telah mencapai ambang kritis dan pada akhirnya akan memisahkan daratan. #kumparanSAINS

Benua Afrika Diprediksi Terbelah Lebih Cepat, Samudra Baru Akan Terbentuk
Ilustrasi benua Afrika. Foto: Jim Vallee/Shutterstock.
Ilustrasi benua Afrika. Foto: Jim Vallee/Shutterstock.

Para ahli geologi menemukan fakta mengejutkan soal Benua Afrika yang diperkirakan akan terbelah lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Sebuah retakan aktif kini telah mencapai ambang kritis dan pada akhirnya akan memisahkan daratan, membentuk samudera baru.

Meski demikian, istilah lebih cepat di sini tetap dalam skala geologi, artinya proses tersebut masih akan memakan waktu jutaan tahun. Namun, dalam ukuran waktu Bumi, itu tergolong sangat singkat.

“Kami menemukan bahwa proses pemisahan di wilayah ini lebih maju dan kerak Bumi lebih tipis dari yang diperkirakan sebelumnya,” kata Christian Rowan, ahli geosains dari Columbia University.

Ia menambahkan bahwa Afrika Timur ternyata telah berada pada tahap pemisahan yang lebih jauh dibandingkan perkiraan sebelumnya. Penemuan ini juga menarik karena berkaitan dengan sejarah manusia. Wilayah Turkana Rift di Kenya dikenal kaya akan fosil hominin awal, sehingga selama ini dianggap sebagai lokasi penting dalam evolusi manusia.

Namun, temuan terbaru menunjukkan bahwa kawasan tersebut mungkin bukan satu-satunya lokasi penting bagi nenek moyang manusia. Bisa jadi, proses geologi di wilayah itu menciptakan kondisi ideal untuk pelestarian fosil, sehingga lebih banyak bukti ditemukan di sana.

Meski tampak statis, susunan benua di Bumi sebenarnya terus bergerak, meski sangat lambat. Lebih dari 200 juta tahun lalu, seluruh daratan menyatu dalam satu superbenua. Di masa depan, para ilmuwan memprediksi benua-benua ini akan kembali bergabung.

Ilustrasi benua Afrika. Foto: Alexander Lukatskiy/Shutterstock
Ilustrasi benua Afrika. Foto: Alexander Lukatskiy/Shutterstock

Di wilayah tempat lempeng tektonik bertemu, biasanya terbentuk pegunungan. Sementara di tempat lempeng saling menjauh, akan terbentuk samudra. Salah satu contoh nyata proses ini adalah Sistem Rift Afrika Timur. Saat ini, lempeng Afrika sedang terbelah menjadi dua bagian, Lempeng Nubia di barat dan Lempeng Somalia di timur, yang mencakup wilayah pesisir timur dan Madagaskar.

Diterbitkan di jurnal Nature Communication, penelitian terbaru berfokus pada Turkana Rift yang membentang ratusan kilometer di Kenya dan Ethiopia. Dari analisis data seismik, para ilmuwan menemukan bahwa ketebalan kerak di pusat retakan hanya sekitar 13 kilometer. Sebagai perbandingan, di bagian tepinya, ketebalan kerak bisa mencapai lebih dari 35 kilometer.

Ketika kerak Bumi di zona retakan menipis hingga di bawah 15 kilometer, kondisi tersebut disebut sebagai fase necking. Setelah memasuki fase ini, pemisahan benua hampir tidak dapat dihindari.

“Semakin tipis kerak, semakin lemah strukturnya, sehingga mempercepat proses pemisahan,” jelas Rowan.

Dalam beberapa juta tahun ke depan, wilayah ini diperkirakan akan memasuki fase berikutnya, yaitu oceanization, proses terbentuknya samudra baru. Kerak Bumi akan semakin menipis hingga magma dari bawah permukaan naik, kemudian mendingin dan membentuk dasar laut baru. Air dari Samudra Hindia nantinya akan mengisi cekungan tersebut.

Proses ini bahkan sudah mulai terlihat di wilayah Afar Depression di Afrika Timur Laut, dekat Laut Merah. Para peneliti memperkirakan fase necking di Turkana Rift dimulai sekitar 4 juta tahun lalu, setelah periode panjang aktivitas vulkanik.

Menariknya, waktu ini bertepatan dengan usia fosil hominin tertua yang ditemukan di wilayah tersebut. Peneliti menduga hal ini bukan kebetulan. Proses geologi tersebut kemungkinan mempercepat pengendapan sedimen, menciptakan kondisi ideal untuk mengawetkan fosil.

“Keselarasan waktu antara perubahan tektonik dan munculnya lapisan fosil tebal menunjukkan bahwa fase ini sangat penting dalam pelestarian fosil,” tulis para peneliti.

Temuan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai hubungan antara aktivitas geologi dan evolusi manusia.

Buka sumber asli