BEM Fakultas Bersatu Tolak Gerakan Mahasiswa Ditunggangi Kepentingan Politik
BEM Fakultas Bersatu Tolak Gerakan Mahasiswa Ditunggangi Kepentingan Politik #newsupdate #update #news #text

BEM Fakultas Bersatu menyatakan sikap menolak segala bentuk penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Mereka menegaskan gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat dan tidak dijadikannya alat kepentingan elite politik.
Dalam pernyataan yang disampaikan juru bicara BEM Fakultas Bersatu, Rahmat Djimbula, pihaknya menilai sejumlah aksi mahasiswa belakangan mulai kehilangan arah karena minim kajian, lemahnya argumentasi, serta tidak jelasnya substansi tuntutan yang disampaikan.
"Kami, BEM Bersatu, menolak segala bentuk penungangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis. Gerakan mahasiswa harus tetap menjadi suara rakyat, bukan alat elite dalam perebutan kekuasaan," kata Rahmat Djimbula dalam konferensi pers di Jakarta Timur, Selasa (16/6).
Menurut Rahmat, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keberpihakan gerakan mahasiswa saat ini.
"Kami menilai sejumlah aksi mahasiswa belakangan ini mulai kehilangan arah, ditandai minim kajian, lemahnya argumentasi, dan ketidakjelasan substansi tuntutan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah gerakan masih berpihak pada rakyat atau telah disusupi agenda tertentu," ujarnya.
BEM Fakultas Bersatu juga mempertanyakan prioritas isu yang diangkat dalam sejumlah aksi mahasiswa. Mereka menulai perhatian publik justru tersedot pada isu yang bukan menjadi kebutuhan mendesak masyarakat.
"Di tengah kebutuhan mendasar masyarakat, perhatian justru tersedot pada isu yang tidak menjadi urgensi utama. Sementara itu, Program Makan Bergizi Gratis yang berdampak langsung pada gizi dan kesejahteraan masyarakat justru menjadi sasaran penolakan, meski perbaikan tata kelola tetap diperlukan," kata Rahmat.
Selain itu, BEM Fakultas Bersatu mengaku melihat adanya indikasi keterlibatan aktor politik praktis dalam sejumlah aksi mahasiswa. Salah satu yang disoroti adalah sosok Tiyo Ardianto yang disebut sebagai pimpinan aksi.
"Kami melihat indikasi kuat keterlibatan aktor politik praktis dalam gerakan ini. Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu," ujarnya.
BEM Fakultas Bersatu juga menolak narasi krisis yang dinilai tidak didasarkan pada data yang utuh karena berpotensi mengalihkan perhatian publik dari agenda penting, termasuk pemberantasan korupsi.
Selain itu, mereka menyayangkan dugaan pemanfaatan aksi mahasiswa oleh pihak luar sebagaimana telah diklarifikasi oleh sejumlah BEM.
Rahmat menegaskan, organisasinya akan terus mengawal independensi gerakan mahasiswa agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.
"BEM Bersatu akan terus mengawal kemurnian gerakan mahasiswa agar tetap independen, berpihak kepada rakyat, serta bebas dari intervensi elite politik," ujarnya.

3 Tuntutan BEM Fakultas Bersatu
Dalam kesempatan itu, BEM Fakultas Bersatu juga menyampaikan tiga tuntutan yang mereka nilai penting untuk menjaga independensi gerakan mahasiswa.
"Mendesak sterilisasi gerakan mahasiswa dari pendanaan, fasilitas, dan segala bentuk intervensi politik praktis," kata Rahmat membacakan tuntutan pertama.
Selain itu, mereka juga menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), namun dengan catatan adanya perbaikan tata kelola agar progarm tersebut tepat sasaran dan akuntabel.
"Mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis dengan catatan perbaikan tata kelola agar tepat sasaran dan akuntabel," ujarnya.
BEM Fakultas Bersatu juga menyatakan dukungan terhadap upaya penegakan hukum dalam pemberantasan korupsi serta mengajak mahasiswa turut mengawalnya secara objektif.
"Mendukung pengusutan tuntas koruptor tanpa pandang bulu serta mengajak seluruh mahasiswa Indonesia mengawal proses hukum secara kritis dan objektif," kata Rahmat.
Adapun sejumlah perwakilan BEM yang tergabung dalam BEM Fakultas Bersatu antara lain:
Wildan Ricky (BEM Fakultas Hukum UNISIA)
Muhammad Yani (BEM Fakultas Hukum UIJ)
Ardi Zulkifly (BEM FISIP UNAS),
Ardiansyah (BEM Institut Al-Aqidah)
Ahmad Ghazy (BEM Psikologi UNJ)
Alfi (BEM FEB UNPAM)
Rahmat Djimbula (BEM Hukum UIC)
Dicky (BEM FIPS Unindra)
Ahmad (BEM Fakultas Teknik Universitas BSI)
Rezky Anandar (BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI).