News Berita

Bahagianya Tukang Kerupuk di Situbondo: 19 Tahun Menabung Akhirnya Naik Haji

Bahagianya Tukang Kerupuk di Situbondo: 19 Tahun Menabung Akhirnya Naik Haji #newsupdate #update #news #text

Bahagianya Tukang Kerupuk di Situbondo: 19 Tahun Menabung Akhirnya Naik Haji
Pasutri Shaleh dan Zainab, saat mengikuti pelepasan CJH Situbondo di pendopo rakyat Situbondo. Foto: Dok. kumparan
Pasutri Shaleh dan Zainab, saat mengikuti pelepasan CJH Situbondo di pendopo rakyat Situbondo. Foto: Dok. kumparan

Kebahagiaan luar biasa menyelimuti pasangan suami istri (pasutri) Shaleh (70) dan Zaenab (68), warga Kecamatan Besuki, Situbondo, Jawa Timur, yang sehari-hari berjualan kerupuk keliling ini akhirnya resmi berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun 2026.

Perjalanan spiritual ini dimulai sejak 2007. Kala itu, Shaleh membulatkan tekad untuk menyisihkan sedikit demi sedikit hasil jerih payahnya. Meski pendapatannya sebagai pedagang kerupuk keliling hanya berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per hari, ia tidak pernah menyerah pada mimpinya.

“Saya mengumpulkan uang sedikit demi sedikit selama sekitar tiga tahun sampai akhirnya bisa mendaftar haji pada 2012 lalu,” kenang Shaleh di sela acara pelepasan jemaah haji, Sabtu (9/5).

Saat mendaftar 14 tahun lalu, biaya setoran awal haji sekitar Rp 37,16 juta. Terasa sangat berat bagi Shaleh. Ia pun sempat ragu apakah pedagang kecil seperti dirinya benar-benar bisa menginjakkan kaki di Makkah. Namun, bagi kakek dengan empat cucu tersebut, keyakinan adalah modal utama.

Pasutri Shaleh dan Zainab, saat mengikuti pelepasan CJH Situbondo di pendopo rakyat Situbondo. Foto: Dok. kumparan
Pasutri Shaleh dan Zainab, saat mengikuti pelepasan CJH Situbondo di pendopo rakyat Situbondo. Foto: Dok. kumparan

“Mungkin tidak banyak yang percaya, tapi ini buktinya. Kalau sudah punya niat besar, apa pun bisa terjadi. Alhamdulillah, di usia lanjut ini saya dan istri dinyatakan sehat dan layak berangkat,” tuturnya haru.

Keberangkatan pasangan ini pun diwarnai kejutan. Seharusnya, mereka masuk dalam daftar jemaah cadangan untuk keberangkatan tahun depan. Namun, karena ada jemaah lain yang mengundurkan diri, Shaleh dan Zaenab mendapat panggilan mendadak untuk berangkat tahun ini.

“Visa kami bahkan baru turun kemarin. Kami sangat bersyukur karena panggilan ini datang lebih cepat dari perkiraan,” tambah Shaleh.

Pasutri Shaleh dan Zainab, saat mengikuti pelepasan CJH Situbondo di pendopo rakyat Situbondo. Foto: Dok. kumparan
Pasutri Shaleh dan Zainab, saat mengikuti pelepasan CJH Situbondo di pendopo rakyat Situbondo. Foto: Dok. kumparan

Keberhasilan ini tak lepas dari peran sang istri, Zaenab. Sambil mengurus rumah tangga, Zaenab membantu menggoreng kerupuk yang akan dijajakan suaminya ke warung-warung pinggir jalan. Ia juga mencari tambahan penghasilan dengan berdagang di pasar tradisional.

Menanti selama 19 tahun sejak mulai menabung bukanlah waktu yang singkat bagi mereka. Zaenab berharap kisah mereka dapat menjadi teladan bagi anak dan cucunya.

“Semoga perjalanan kami lancar dan ibadahnya maksimal. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi anak cucu agar mereka juga memiliki semangat untuk menunaikan ibadah haji kelak,” tutup Zaenab.

Buka sumber asli